Loading...

Pengembangan Tanaman Sayuran di Kawasan Rawan Banjir

Pengembangan Tanaman Sayuran di Kawasan Rawan Banjir
Kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito adalah daerah yang rawan banjir sehingga dirasakan perlu adanya solusi agar adanya peningkatan produksi dan produktivitas pangan khususnya sayuran . Sistem ini dimaksudkan untuk memanfaatkan ruang kearah vertikal, yaitu dengan cara mengatur media tumbuh, menggunakan media pada wadah atau kolom vertikal, kolom susun, pot susun, pot gantung, kantong gantung dll. Bentuk bangunan yang dapat diterapkan dalam bercocok tanam secara vertikal bermacam-macam, seperti rumah susun, bentuk tangga, rak bertingkat ataupun pot yang ditempelkan dengan paku pada tembok disusun ke atas, pot-pot gantung yang dibuat bersusun dan lain wadah bisa dipilih. Adapun jenis tanaman yang cocok untuk dibudidayakan secara vertikultur ini umumnya jenis tanaman yang berumur pendek diantaranya cabai, sawi, bayam cabut, daun bawang dsb. MEDIA TUMBUH Tempat Media (Kolom) Tempat untuk media tumbuh tanaman dengan cara vertikal ini dapat bermacam-macam, namun pada prinsipnya tanaman tersusun ke atas dan semua tanaman cukup mendapatkan sinar matahari. Kolom bisa dari pipa PVC (paralon), pelempem (dari tanah liat), bambu, kaleng, tempurung kelapa yang disusun keatas dengan batuan tali plastik, pot susun yang ditaruh dalam kerangka bambu, kayu atau besi. Media Tanam Media tanam yang digunakan adalah campuran tanah porous atau sekam padi dicampur dengan pupuk kandang dan kompos. Gunakan tanah pada lapisan atas (top soil) yang banyak mengandung humus dan subur. Ketebalan top soil biasanya dari permukaan tanah sampai kedalaman 10 - 20 cm. Bila akan menggunakan pasir halus harus diayak dahulu sehingga tidak lagi mengandung kerikil. Pupuk kandang atau pupuk kompos (pupuk hijau berasal dari pembusukan daun bagian tanaman lain atau tanaman jenis kacang-kacangan) yang digunakan haruslah yang sudah masak.Perbandingan dalam membuat media tanam untuk tanah pasir porous atau top soil, atau pasir atau sekam padi ditambah pupuk kandang atau kompos adalah 2 : 1. BIBIT DAN PENANAMAN Tanaman yang diusahakan untuk sistem vertikultur ini merupakan tanaman dengan umur pendek seperti cabai, tomat, terong, kubis, sawi, slada, caisin, seledri, kangkung, daun bawang, bayam cabut dan lain sebagainya. Bibit tanaman dapat diperoleh dengan menyemaikan benih atau biji dengan memilih benih yang baik dan bisa tumbuh secara sempurna. Siapkan nampan ataupun kotak kayu yang mudah dipindah-pindahkan untuk persemaian. Bagian dasar nampan plastik atau kotak kayu yang telah dilubangi diberi kain paranet atau bahan lain yang tembus air tetapi tidak menghanyutkan tanah. Media tanam persemaian berupa lapisan tanah atas ditambah kompos atau pupuk kandang dan pasir halus dengan perbandingan 1:1:1. Setelah benih disebar merata dan ditimbun dengan pasir halus setebal 1 cm, kemudian disiram dengan hand sprayer atau gembor yang berlubang kecil agar air siraman yang keluar menjadi halus. Untuk penyiraman ini dilakukan secara rutin setiap hari. Setelah persemaian cukup umur kira-kira 2 minggu bibit dapat dipindah ketempat penanaman. PEMELIHARAAN Penyiraman Penyiraman dimulai sejak benih ditabur dipersemaian dan dilaksanakan terus dari saat penanaman s/d tanaman panen, hal ini dilakukan dua kali sehari setiap pagi dan sore hari. Gunakanlah gembor atau kaleng bekas yang dilubangi ataupun dengan irigasi tetes secara sederhana yang bisa dirangkai sendiri dengan selang plastik atau paralon. Penyulaman Tanaman yang kerdil, rusak maupun mati, sebaiknya cepat dicabut disulam atau diganti dengan bibit yang lebih baik. Penyulaman sebaiknya jangan terlalu lama jaraknya dengan saat awal penanaman atau tidak lebih dari 1 minggu setelah pemindahan ke kolom vertikultur. Caranya dengan mencabut tanman yang rusak atau mati dan diganti dengan bibit yang diambil dari persemaian atau tanaman cadangan yang baik pertumbuhannya. Penyiangan Tanaman liar maupun rumput yang tumbuh harus dicabut dan dibuang. Apabila dibiarkan tumbuh, tanaman pengganggu ini akan menghambat pertumbuhan tanaman. Pendangiran tidak perlu dilakukan pada sistem vertikultur, sedangkan penyiangan dilakukan pada bagian terbuka dan lahan disekitar kolom. Penyiangan dilakukan dengan cara manual atau dengan tangan. Pemupukan Pemupukan dilakukan 7 hari setelah tanam, caranya dengan memasukkan 1 sendok makan urea pada ember yang telah diisi sepuluh liter air dan diaduk-aduk sehingga urea larut, setelah itu baru disiramkan pada tanaman. Pemupukan selanjutnya untuk 10 liter air ditambah 3 sendok makan urea, 2 sendok makan TSP dan 2 sendok makan KCL, kemudian diaduk dan disiramkan pada tanaman pada saat minggu keempat, kelima dan seterusnya, sebaiknya kandungan urea dikurangi. Pemupukan dihentikan kira-kira 2 minggu menjelang panen. Pengendalian Hama dan Penyakit Serangan hama pada tanaman yang disebabkan oleh jasad perusak yang berukuran relatif besar seperti ulat, kutu, kumbang, kepik, tikus, dsb. Serangan penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme atau jasad renik, yang sukar oleh mata telanjang seperti virus, jamur, bakteri dll. Pengendalian hama dan penyakit perlu dilakukan sedini mungkin dengan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) : 1. Budidaya tanaman sehat 2. Pendayagunaan dan pelestarian untuk musuh alami 3. Pengamatan rutin 4. Petani sebagai ahli atau pelaku Pengendalian Hama Terpadu Sebaiknya dihindari penggunaan pestisida dengan lebih mengutamakan pemberantasan secara hayati atau mekanis, karena umumnya usaha ini dilakukan dalam skala kecil. Pestisida hanya digunakan bila terjadi serangan hama/penyakit yang ditandai adanya larva, telur serangga, gigitan, kerusakan atau gejala penyakit tanaman. Seranga penyakit karena virus sulit diberantas, sebaiknya tanaman dicabut dan dibakar. Sumber : Dok. Badan Ketahanan Pangan Kab. Barito Selatan Penulis ASRIWATY,S.Hut