Kakao merupakan tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekonomi yang cukuptinggi, dan dapat hidup baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Indonesia dikenal sebagai salah satu sentra kakao di dunia namun belakangan ini produksi kakao menurun diakibatkan kakao yang sudah tua atau sebagian besar melebihi umur 20 tahun. Buah kakao dapat dikelolah menjadi berbagaimacam olahan produk seperti susu, makanan cemilan, maupun olahan lainnya yang mengandung nilai gizi yang sangat baik untuk kesehatan. Oleh karena itu budidaya tanaman kakao perlu dikembangkan dengan memperhatikan teknologi usahatani budidaya kakao yang baik dan benar, mulai dari tahap pra penanaman, penanaman dan pasca penanaman merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi kakao. Kakao merupakan komoditas perkebunan yang memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Diperkirakan tidak kurang dari 1,84 juta keluarga yang pendapatan utamanya tergantung pada komoditas kakao. Selain itu, lebih kurang 1 juta keluarga mengandalkan pendapatannya dari industri hilir kakao. Posisi tersebut menunjukkan bahwa peranan petani kakao dalam perekonomian nasional cukup signifikan. Secara nasional, pertanaman kakao diusahakan di hampir seluruh provinsi. Sepuluh besar provinsi sebagai produsen kakao yaitu Sulawesi Tengah (19,05%), Sulawesi Tenggara (17,69%), Sulawesi Selatan (15,81%), Sulawesi Barat (11,38%), Sumatra Utara (8,13%), Sumatra Barat (5,85%), Maluku dan Papua (4,07%), Kalimantan Timur (3,4%), Lampung (3,12%), dan Nanggro Aceh Darussalam (2,52%). Berikut jenis-jenis kakao yang sudah banyak dibudidayakan di wilayah Sulawesi: Klon ICCRI 03, - Potensi daya hasil : 2.09 ton/ha (populasi 1.100 pohon/ha) - Berat per biji kering : 1,28 gram - Ketahanan hama dan penyakit (Penyakit busuk buah : tahan, Penyakit VSD : Agak tahan, Hama PBK : Agak tahan) - Kesesuaian wilayah pengembangan Wilayah/lokasi yang memenuhi persyaratan agroklimat kakao; tipe iklim A, B, dan C menurut klasifikasi Schmidt & Ferguson; - Tipe tanah Alfisol, Ultisol, Inceptisol; - Ketinggian tempat 0-600 m dpl, disarankan untuk kelas kesesuaian lahan S1 dan S2 Klon ICCRI 04, - Potensi daya hasil : 2.06 ton/ha (populasi 1.100 pohon/ha) - Berat per biji kering : 1,27 g - Ketahanan hama dan penyakit (Penyakit busuk buah : tahan, Penyakit VSD : Rentan Hama PBK : Agak rentan) - Kesesuaian wilayah pengembangan: Wilayah/lokasi yang memenuhi persyaratan agroklimat kakao; tipe iklim A, B, dan C menurut klasifikasi Schmidt & Ferguson; - Tipe tanah Alfisol, Ultisol, Inceptisol; - Ketinggian tempat 0-600 m dpl, disarankan pada kelas kesesuaian lahan S1 dan S2. Klon Scavina 6 - Potensi daya hasil : 1,54 ton/ha (populasi 1.100 pohon/ha). - Berat per biji kering : 0,65-0,8 g. - Ketahanan hama dan penyakit (Penyakit busuk buah : Tahan, Penyakit VSD : Tahan Hama PBK : Rentan). - Kesesuaian wilayah pengembangan: Disarankan untuk daerah terserang penyakit VSD dengan intensitas serangan berat pada kondisi wilayah yang memenuhi persyaratan agroklimat kakao; tipe iklim A, B & C menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson namun untuk perbaikan kualitas biji disarankan daerah bertipe iklim A/B; - Tipe tanah Alfisol, Ultisol, Inceptisol; ketinggian tempat 0-600 m dpl, disarankan pada Kelas Kesesuaian Lahan S1 & S2. Klon Sulawesi 1 - Potensi daya hasil : 1,8-2,5 ton/ha (populasi 1.100 pohon/ha). - Berat per biji kering : 1,10 g - Kadar kulit ari : 11,3 % - Kadar lemak biji : 48-50 % - Ketahanan hama dan penyakit (Penyakit busuk buah : Agak tahan, Penyakit VSD : Tahan, Hama PBK : Rentan). - Kesesuaian wilayah pengembangan yang memenuhi persyaratan agroklimat kakao; endemis penyakit pembuluh kayu (VSD), tipe iklim B, C, D menurut klasifikasi Schmidt & Ferguson. - Tipe tanah Alfisol, Ultisol, Inceptisol; ketinggian tempat 0-900 m dpl, disarankan pada kelas kesesuaian lahan S1 dan S2. Klon Sulawesi 2 Potensi daya hasil : 1,8-2,75 ton/ha (populasi 1.100 pohon/ha) Karakteristik mutu biji - Berat per biji kering : 1,0 g - Kadar kulit ari : 11,64 % - Kadar lemak biji : 45-47 % Ketahanan hama dan penyakit - Penyakit busuk buah : Agak tahan - Penyakit VSD : Agak tahan - Hama PBK : Agak tahan Kesesuaian wilayah pengembangan: Wilayah/lokasi yang memenuhi persyaratan agroklimat kakao; endemis penyakit pembuluh kayu (VSD), tipe iklim B, C, D menurut klasifikasi Schmidt & Ferguson; tipe tanah Alfisol, Ultisol, Inceptisol; ketinggian tempat 0-900 m dpl., disarankan pada kelas kesesuaian lahan S1 dan S2. Penulis: Wilham Prajab, SP (Penyuluh Pertanian Pertama Kab. Konawe)