Tikus sawah merupakan hama tanaman padi yang tiap tahun serangannya lebih dari 17 % dari total area padi. hal ini disebabkan karena pengendalian hama tikus oleh petani selalu terlambat, karena mereka mengendalikan setelah terjadi serangan dan kurannya monitoring oleh petani Kepadatan populasi tikus berkaitan dengan fase pertumbuhan tanaman padi. Serangan tikus dapat terjadi sejak di persemaian, pertanaman sampai pasca panen. Pada saat tanaman fase vegetative, kebutuhan gizi tikus jantan belum terpenuhi untuk membuahi tikus betina. Perkembang-biakan mulai terjadi saat primordial dan terus berlangsung sampai fase generative.Tikus jantan siap kawin pada umur 60 hari, sedang kan tikus betina siap kawin pada umur 28 hari. Masa bunting berlangsung selama 19-23 hari. Dua hari setelah melahirkan, tikus betina mampu kawin lagi. Jumlah anak berkisar 2-18 ekor/induk/kelahiran. KERUSAKAN YANG DI SEBABKAN Hama tikus sawah selalu menjadi ancaman pertanaman padi. Kehilangan akibat serangan tikus sangat besar, karena tikus menyerang tanaman sejak padi di persemaian hingga menjelang panen. Kerusakan akibat serangan tikus sawah biasanya mulai di bagian tengah petak sawah sementara sekitar pematang Nampak utuh. PEMANTAUAN HAMA Keberadaan tikus di lapangan dapat diketahui dengan cara pengumpanan tanpa racun yang dipasang minimal sebanyak 21 titik umpan/ha atau pengamatan jejak dan jalan lintas tikus PENGENDALIAN HAMA TIKUS Tanam serentak. Berdasarkan daya jelajah migrasi tikus yang sampai 2 km, maka penanaman serentak hendaknya meliputi luas+ 300 ha. Minimalisasi ukuran pematang dan tanggul. Sedapat mungkin mempersempit ukuran pematang dan tanggul di sekitar persawahan sehingga mengurangi kesempatan sebagai tempat pembuatan liang. Semakin lebar pematang, semakin banyak dijumpai liang tikus. Sanitasi lingkungan. Kebersihan lingkungan persawahan terhadap semak-semak dan rerumputan yang menjadi tempat persembunyian tikus sangat membatu menekan perkembangan populasi tikus. Pemasangan bubu perangkap di persemaian. Persemaian mempunyai daya tarik yang kuat terhadap tikus karena persemaian nmerupakan satu-satunya sumber makanan pada saat di persawahan tidak terdapat banyak makanan atau tanaman. Pada saat ini populasi tikus masih sangat rendah karena belum mengalami perkembangbiakan. Pemagaran persemaian menggunakan plastic yang dikombinasikan dengan bubu perangkap merupakan alternative yang perlu dilaksanakan, paling tidak di persemaian yang berdekatan dengan daerah tempat persembunyian tikus. Pemasangan bubu perangkap di pertanaman. Di pertanaman dapat pula dipasang pagar plastic yang dikombinasikan dengan bubu perangkap. Pemasangan terutama di tempat-tempat yang didugarawan, jalur migrasi atau berbatasan dengan daerah yang merupakan tempat persembunyian tikus, sepanjang 50-100 m. Jarak antara bubu perangkap 10-20 m. Pemanfaatan tanaman perangkap. Tanaman perangkap dapat diupayakan dengan menanam lebih dahulu dibandingkan sekitarnya atau tanaman berumur genjah. Luas petak tanaman perangkap 25-100 m2. . Pemanfaatan musuh alami. Tindakan yang perlu dilakukan adalah tetap menjaga kelestarian jenis-jenis musuh alami dengan jalan tidak menagkap dan membunuh, memberikan perlindungan dan membiarkan hidup bebas. Musuh alami tersebut antara lain kucing, anjing, ular sawah, burung elang dan burung hantu.Oleh : PPL BPP Maiwa Kec Maiwa verifikator DRWS