Loading...

PENGENDALI PENYAKIT KRESEK TANAMAN PADI YANG AMPUH dan MURAH

PENGENDALI PENYAKIT KRESEK TANAMAN PADI YANG AMPUH dan MURAH
Salah satu penyakit yang sering menyerang pertanaman padi adalah penyakit Hawar Daun Bakteri (BLB) atau disebut penyakit Kresek. Penyebab penyakit ini adalah bakteri gram negative Xanthomonas oryzae pv. oryzae yang secara ekonomis penyakit ini dapat menyebabkan kehilangan hasil yang cukup tinggi, terutama pada musim hujan, mencapai 20.6 sampai dengan 35.6 persen, sedangkan pada musim kemarau dapat mencapai 7.5 sampai dengan 23.8 persen (Suparyono et al. Dalam BBPOPT 2007).Berbagai upaya dilakukan untuk mengendalikan Hawar Daun Bakteri (HDB) dalam rangka untuk memulihkan dan meningkatkan produktivitas padi. Pada saat ini upaya pengendalian terhadap hama dan penyakit tanaman masih mengandalkan penggunaan pestisida kimia sebagai upaya pengendalian utama. Kenyataannya menunjukkan bahwa upaya pengendalian secara kimiawi bukan merupakan alternatif yang terbaik, karena sifat racun yang terdapat dalam senyawa tersebut dapat meracuni manusia, ternak piaraan, serangga penyerbuk, musuh alami, tanaman, serta lingkungan sehingga dapat menimbulkan pengaruh negatif selain yang penggunaan senyawa kimia yang berlebihan dan terus menerus membuat hama dan penyakit menjadi resisten. Salah satu upaya pengendalian penyakit Kresek dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengendalian, membatasi pencemaran lingkungan dan penerapan prinsip-prinsip PHT adalah dengan pemanfaatan agensia hayati Corynebacterium. Bakteri Corynebacterium sp. Yang merupakan salah satu agens hayati bersifat antagonis (agens antagonis) yang dapat mengendalikan beberapa jenis OPT utamanya terhadap penyakit kresek pada tanaman padi yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae. Manfaat penggunaan Corynebacterium di lapanganBeberapa hasil kajian dan pengalaman para petani di lapangan tentang penggunaan bakteri corynebacterium sebagai agens hayati dalam mengendalikan penyakit hawar daun bakteri (HDB) telah banyak dikemukakan. Penelitian di rumah kaca (MK, 1998) diketahui bahwa patogen pada beberapa jenis sayuran Cornebacterium dapat menekan gejala Bacterial Red Stripe (BPS/Pseudomonas sp.) sebesar 52 persen dan terhadap HDB (BLB / Xanthomonas campestris pv oryzae) sebesar 28 persen.Corynebacterium efektif menekan laju infeksi HDB di lapang (Purwakarta MK 1999) sebesar 27%, dan secondary infection (penularan antar rumpun) dapat ditekan sebesar 8 persen. Penelitian lapang di Cianjur pada MK 2011, diketahui bahwa aplikasi sebanyak 4 (empat) kali, yaitu perendaman benih, penyemprotan umur 28 hst, 42 hst dan 56 hst dinilai merupakan waktu yang tepat untuk tujuan pengendalian penyakit HDB. Hasil Penelitian lanjutan yang diamati pada perlakuan konsentrasi Corynebacterium terhadap intensitas serangan Xanthomonas campestris pv oryzae ternyata, intesitas serangan paling rendah terlihat pada perlakuan Corynebacterium dengan konsentrasi 7,5 cc/liter air dengan intensitas serangan yaitu 37,23% dengan produksi hasil mencapai 8,92 ton/ha.Selain Corybacterium dapat mengendalikan penyakit hawar daun bakteri (HDB) banyak penelitian lainnya yang menunjukkan Corynebacterium sebagai agens hayati pengendali patogen. Penelitian yang dilakukan (Dahyar dan Ayu 2010) ini menunjukkan bahwa dengan perendaman benih bakteri antagonis Corynebacterium 5 cc/l sebelum tanam dan penyemprotan pada 14 hst, 28 hst dan 42 hst mampu menekan perkembangan penyakit blas. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat dipastikan bahwa bakteri Corynebacterium memiliki peluang untuk dikembangan sebagai agens pengendali hayati untuk pengendalian penyakit Hawar Daun Bakteri (Kresek). Cara Aplikasi Corynebacterium Untuk perendaman benih dengan dosis 5 - 10 cc/liter air, dengan cara benih direndam selama ± 15 menit. Aplikasi kepertanaman pada umur 14, 28, 40, 60 dan 70 hari setelah tanam. Usahakan penyemprotan dilakukan pada sore hari, mulai pukul 4 sore, dikarenakan untuk meminimalisir kersakan pada bakteri. Jangan di campur dengan bahan/pestisida kimia saat melakukan penyemprotan. Perbanyakan agensia hayati Corynebacterium Salah satu teknik perbanyakan agensia Corynebacterium adalah dengan menggunakan Ekstrak Kentang Gula (EKG). Bahan-bahan untuk perbanyakan Corynebacterium :Starter Corynebacterium 1 tabung/ 1 literKentang 6 kgGula pasir 225 gramAir mineral 1 galaon ( 19 liter)Kalium permanganat ( Pk) 1 botol Pembuatan larutan EKG ( Ekstrak Kentang Gula) : Kentang dikupas kemudin di cuci lalu potong dadu kecil pada baskom/wadah berisi air bersih biasa. Kentang kemudian direbus bersama air mineral hingga rasanya hambar kurang lebih 1- 2 jamSetelah di rasa cukup, saring kentang kemudian air hasil penyaringan ini lah yang disebut EKG dan yang akan kita gunakan sebagai media perbanyakan Corynebacterium. Tambahakan gula pasir pada larutan EKG, aduk merata. Air EKG dibiarkan dingin perlahan dan di tutup tidak terlalu rapat untuk mencegah kontaminasi. Pembuatan rangkaian derigen inkubasi Membuat rangkaian yang tidak terputus dengan selang dengan urutan sebagai berikut : Keterangan:Botol berisi PK (Kalium Permanganat) diisi 1/3 bagian (PK sepucuk sendok dilarutkan dengan air, PK berfungsi sebagai filter pertama udara dari aerator agar tidak terjadi kontaminasi. Botol berisi Glasswoll berguna menyaring agar udara dari botol PK tidak ikut mencemari EKG. Botol berisi air kontrol di cukup diisi 1/3 bagian, berguna untuk mencegah bau yang menyengat yang muncul dari proses inkubasi ini. Setelah larutan EKG dingin ± 12 jam dan rangkaian derigen inkubasi selesai, masukan larutan EKG dan bibit starter Corynebacterium. Jaga agar sirkulasi udara dari airator lancar dan tidak bocor. Proses inkubasi membutuhkan waktu sekitar 3 minggu.