Loading...

PENGENDALIAN BELALANG KAYU DENGAN BIOINSEKTISIDA EKSTRAK BATANG BROTOWALI, DAUN TEMBAKAU, DAN DAUN SIRSAK

PENGENDALIAN BELALANG KAYU DENGAN BIOINSEKTISIDA EKSTRAK BATANG BROTOWALI, DAUN TEMBAKAU, DAN DAUN SIRSAK
Belalang kayu atau Valanga nigricornis merupakan salah satu hama yang mempunyai kisaran inang yang luas seperti kapas, jati, kelapa, kelapa sawit, kopi, cokelat, jarak, wijen, waru, kapuk, nangka, karet. Hama ini menyerang tanaman muda dan tua dengan merusak tanaman pada bagian daun dan pucuk. Serangga ini memiliki fase hidup telur, nimfa dan dewasa (metamorphosis tidak sempurna). Telur berbentuk silindris dengan ujung anterior meruncing dan membulat pada ujung sisi lainnya. Telur biasanya diletakkan pada tanah. Alat mulutnya bertipe penggigit pengunyah. Serangga dewasa memiliki warna tubuh abu-abu kecoklatan dengan panjang tubuh berkisar antara 58-71 mm untuk betina dan berkisar antara 49-63 mm untuk jantan. Gejala kerusakan belalang kayu adalah daun yang berlubang-lubang dengan tepi yang bergerigi kasar dan tidak beraturan. Belalang kayu hanya memakan bagian daun dan pucuk, dan menyisakan tulang dan urat daun. Kerusakan ini dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan menurunkan hasil panen. Pengendalian hama serangga pada budidaya pertanian umumnya menggunakan insektisida kimia. Namun penggunaan insektisida kimia telah menimbulkan berbagai masalah seperti pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan manusia. Aplikasi insektisida kimia secara intensif juga dapat membunuh musuh alami serta dapat menyebabkan hama lebih resisten yang mengakibatkan hama tidak terkendali. Untuk mengatasi hal tersebut, penggunaan bioinsektisida dapat menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan dampak negatif insektisida kimia. Bahan organik yang berpotensi untuk dijadikan bioinsektisida dalam pengendalian belalang kayu (Valanga nigricornis) antara lain menggunakan campuran dari batang brotowali, daun tembakau dan daun sirsak. Brotowali (Tinospora crispa) mengandung senyawa alelokimia yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama seperti senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, glikosida, terpenoid dan tanin. Tembakau (Nicotianae tabacum L) mengandung nikotin yang tinggi yang mampu mengusir hama pada tanaman. Adapun daun sirsak (Annona muricata) mengandung senyawa aktif annonain dan resin, fitosterol, tanin, Ca-oksalat dan alkaloid yang dapat menghambat nafsu makan (antifeedant) yang bersifat penolak (repellent). Cara pembuatan bioinsektisida ekstrak batang brotowali, daun tembakau dan daun sirsak adalah masing-masing bahan sebanyak 1 kg diblender dengan perbandingan bahan dan air 1:1. Selanjutnya, campuran bahan dimasukkan ke dalam wadah plastik dan disimpan selama 24 jam. Setelah itu disaring untuk memisahkan ampasnya. Pengaplikasian bioinsektisida dilakukan dengan cara menyemprotkan pada tubuh belalang dan makanannya secara langsung sebanyak 2 kali, pagi dan sore hari. Kondisi fisik setelah aplikasi bioinsektisida adalah belalang akan mengalami perubahan warna, badan lemas, pergerakan berkurang dan mati. Penggunaan bioinsektisida ini dapat menyebabkan mortalitas sebesar 60%. Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Vira Irma Sari, Mudasir, Sylvia Madusari, 2022. Pengendalian Hama Belalang (Valanga nigricornis) Dengan Bioinsektisida Batang Brotowali (Tinosprora crispa). Jurnal Pengelolaan Perkebunan Vol 3 (2), September 2022. Reno Agassi, Herly Kurniawan, Eva Lizarmi, 2021. Ancaman Serangga Valanga nigricornis (Belalang Kayu) Pada Tanaman Perkebunan. https://ditjenbun.pertanian.go.id/ancaman-serangga-valanga-nigricornis-belalang-kayu-pada-tanaman-perkebunan