Kedelai merupakan bahan baku pembuatan tempe, tahu dan kecap bagi industri pengolahan pangan di Indonesia. Tingkat kebutuhan kedelai terus meningkat setiap tahunnya, namun kapasitas produksi nasional belum mampu memenuhi kebutuhan sehingga terjadi ketergantungan suplay impor kedelai setiap tahunnya. Konsumsi kedelai bagi masyarakat Indonesia akan terus meningkat setiap tahunnya, mengingat beberapa pertimbangan seperti semakin meningkatnya populasi penduduk, pendapatan per-kapita, dan kesadaran masyarakat akan gizi makanan. Dibandingkan dengan protein hewani, protein yang berasal dari kedelai adalah murah dan terjangkau oleh kebanyakan masyarakat.Produktivitas kedelai di Indonesia masih rendah, disebabkan oleh pemakaian benih yang belum sesuai dengan rekomendasi, masih kurangnya penerapan teknologi terutama para petani di perdesaan, teknik budidaya yang kurang baik, serta pengendalian OPT yang masih kurang. Semua faktor tersebut sangat mempengaruhi produktivitas kedelai, namun faktor yang paling utama adalah adanya gangguan OPT. Organisme pengganggu tanaman sangat banyak dan bervariasi, namun yang paling penting adalah keberadaan gulma disela-sela tanaman kedelai. Gulma merupakan spesies tanaman yang masih sulit dikendalikan, karena gulma mudah tumbuh kapan saja sehingga sangat sulit dikendalikan yang menjadi pesaing tanaman kedelai. Keberadaan gulma diantara tanaman kedelai merupakan tanaman pengganggu yang berakibat menurunkan produktivitas tanaman kedelai walaupun tingkat kerugiannya sangat bervariasi tergantung pada tingkat populasi dan macam spesies gulma yang ada diantara tanaman kedelai. Gulma yang sering dijumpai di sela-sela tanaman kedelai dan termasuk katagori berbahaya dan sangat merugikan (noxious weeds) serta sulit dikendalikan walaupun dengan menggunakan herbisida maupun penyiangan, yaitu jenis alang-alang dan teki. Karena gulma ini akan menurunkan produktivitas kedelai dan sangat merugikan bagi manusia, maka diperlukan teknik pengendalian yang baik, efektif dan efesien. Kerugian yang diakibatkan oleh gangguan gulma akan mempengaruhi kualitas maupun kuantitas hasil panen sehingga akan merugikan secara ekonomi. Untuk menghindari kerugian dari gangguan OPT ini tanaman harus dilindungi dengan cara mengendalikan OPT tersebut. OPT tidak harus diberantas habis, namun apa bila pengendalian kerusakan akibat gangguan OPT dapat ditekan serendah mungkin, maka secara ekonomis akan menguntungkan.Berdasarkan pengertian gulma tersebut di atas terdapat dua kelompok gulma, yaitu yang bersifat subyektif dan umum. Gulma yang bersifat subyektif berdasarkan kepentingan manusia yaitu tumbuhan yang salah tempat, tidak dikehendaki, tidak diusahakan, merugikan, tidak sedap dipandang mata, lebih besar nilai negatifnya dari pada positifnya. Bila ditinjau dari sifat umumnya gulma adalah tumbuhan yang telah beradaftasi dengan habitat buatan dan menimbulkan gangguan terhadap aktivitas manusia yang berkaitan dengan budidaya tanaman.Berdasarkan habitat atau tempat tumbuh gulma dibagi menjadi dua, yaitu (1) Gulma darat (Terrestrial weeds) ; gulma yang tumbuh di lahan kering dan tidak tahan terhadap genangan air. (2) Gulma air (Aquatic Weeds) ; spesies gulma yang seluruh atau sebagian daur hidupnya di air, umumnya apa bila kekeringan gulma ini akan mati. Kerugian akibat gangguan gulma ini cukup besar, karena bisa menurunkan hasil kedelai hingga 19 “ 53% (Erida dan Hasanudin 1996). Hal ini akibat dari adanya persaingan daya serap cahaya, air, unsur hara dan ruang tumbuh antara tanaman gulma dan kedelai. Selain itu gulma dapat juga sebagai inang dari hama dan penyakit tanaman (Satroutomo 1990). Cara PengendalianPengendalian gulma bisa dalam bentuk pencegahan dan pemberantasan. Mencegah biasanya lebih murah namun tidak selalu lebih mudah sehingga perlu konsep yang mudah dan murah.(1) Prepentif (pencegahan) yang ditujukan terhadap spesies-spesies gulma yang merugikan dan belum tumbuh dipertanaman kedelai. (pembersihan bibit pertanaman dari kontaminasi biji-biji gulma, pencegahan pemakaian pupuk kandang yang belum matang)(2) Pengendalian secara fisik (pengolahan tanah, penggenangan, pembakaran, mulsa (penutup tanah)(3) Sistem budidaya (pergiliran tanaman, pemberian naungan)(4) Biologis (pengendalian dengan menggunakan organisme lain)(5) Kimiawi (herbisida)(6) Terpadu (gabungan berbagai cara secara bersamaan) Besar kecilnya persaingan anatara gulma dan tanaman pokok dalam merebut air, cahaya dan hara dipengaruhi oleh beberapa faktor : (1) Kerapatan gulma; semakin rapat semakin hebat persainganya sehingga dapat menurunkan hasil, (2) Macam gulma; berbeda macam berbeda pula pengaruhnya, (3) Waktu kemunculan ; semakin awal kemunculan gulma semakin hebat persaingannya dengan tanaman pokok, (4) Lama keberadaan; semakin lama keberadaan gulma persaingan akan semakin lama dan hebat sehingga berpotensi menurunkan hasil, (5) Kecepatan tumbuh; akan lebih awal menyaingi pertumbuhan tanaman pokok berakibat terhadap penurunan hasil. Ruslia Atamaja (rusliatmaja.atmaja326@gmail.com)Sumber : Puslitbang Tanaman Pangan 2014