Loading...

Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman Hias

Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman Hias
Tanaman yang sehat akan mampu tumbuh dan berkembang dengan baik. Salah satu faktor yang sering kali mempengaruhi 'kesehatan' tanaman adalah hama dan penyakit. Karena itu. sangat penting bagi hobiis atau pemilik tanaman hias menguasai pengetahuan mengenai perlindungan tanaman dari serangan hama dan penyakit sehingga pertumbuhan dan perkembangannya optimal. Prinsipnya tanaman yang sehat akan mampu tumbuh dan berkembang dengan baik, termasuk proses pembungaannya sehingga dapat terus menerus dimkmati keindahan warna-warni bunga yang dihasilkannya. Hama dan penyakit tanaman sudah ada sejak tanaman masih berbentuk benih, awal pertumbuhan hingga masa berbunga dan berbuah, bahkan pada saat pascapanen. Hama dan penyakit tanaman dapat menyerang seluruh bagian tanaman, termasuk akar yang berada di dalam tanah pun sering kali tak luput dari serangan hama dan penyakit. Hama adalah kerusakan tanaman yang disebabkan oleh serangan sejenis binatang, misalnya ulat, belalang, dan tikus. Penanggulangannya dengan menggunakan pestisida jenis insektisida, contohnya Decis 2,5 EC, Agrimec 18 EC, dan Furadan 3 G. Sedangkan penyakit adalah kerusakan tanaman yang disebabkan oleh jamur. bakteri, dan virus. Penanggulangan penyakit yang disebabkan oleh jamur dengan menggunakan pestisida jenis fungisida contohnya Antracol 70 WP, Dithane M45, dan Previcur N. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri dapat dikendalikan dengan menggunakan pestisida jenis bakterisida, misalnya Agrept dan Starner. Penyakit yang disebabkan oleh virus tidak dapat dikendalikan dengan pestisida, melainkan harus dieradikasi, yaitu memusnahkan bagian tanaman yang terserang atau keseluruhan tanaman. Pada serangan virus yang dapat dilakukan adalah mengendalikan vektor yang menjadi pembawa atau penyebar virus. Pada beberapa kasus, semut adalah vektor yang sering kali mengakibatkan tanaman terkena serangan virus. Penyemprotan untuk membasmi atau mengendalikan hama dan penyakit tanaman tidak boleh dilakukan dengan sembarangan, tetapi harus sesuai kebutuhan karena dapat berpengaruh terhadap lingkungan. Residu atau racun kimia yang terbuang akan mencemari tanah, air, dan bagian tanaman. Penggunaan pestisida harus selektif dan seefisien mungkin. Sebagai langkah pencegahan, penyemprotan yang dilakukan cukup sekali dalam sebulan dengan menggunakan campuran insektisida dan fungisida. Dosis yang digunakan harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Frekuensi penyemprotan ditingkatkan menjadi dua kali dalam sebulan bila terlihat beberapa tanaman telah terkena hama dan penyakit di atas 50%. Frekuensi penyemprotan ditingkatkan lagi menjadi sekali dalam seminggu bila hama dan penyakit sudah di atas 50% atau terjadi pada musim hujan. Umumnya serangan hama akan meningkat pada perpindahan musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya, sedangkan serangan penyakit meningkat pada saat musim hujan. Karena itu, sebelum memasuki musim hujan disarankan untuk memangkas tanaman, terutama cabang atau daun negarif. Keberadaan cabang atau daun negatif dapat meningkatkan kelembapan di sekitar tanaman. Kelembapan yang tinggi dapat mengakibatkan tanaman mudah terserang penyakit. Selain dengan pemangkasan, kelembapan yang tinggi dapat dihambat dengan menjaga kondisi air di sekitar tanaman. Hindarilah genangan air yang terjadi di sekitar tanaman, terlebih air yang langsung mengenangi tanaman. Jalan satu-satunya untuk menghindari kemungkinan terjadinya hal tersebut adalah dengan mengatur penyiraman dan drainase tanaman. Dengan penyiraman dan drainase yang baik, dan usaha pemenuhan kebutuhan tanaman yang optimal akan membuat tanaman terbebas dari kemungkinan terserang hama dan penyakit. Pestisida yang digunakan harus dirotasi, artinya jangan hanya menggunakan satu merek terus menerus tetapi menggunakan dua atau tiga merek yang digunakan secara bergantian. Pemilihannya tergantung pada bahan aktif yang dikandungnya. Pilihlah pestisida dengan bahan aktif yang berbeda. Pemakaian pestisida secara bergantian bertujuan untuk mencegah kekebalan hama dan penyakit yang menyerang tanaman tersebut. Penggunaan pestisida yang sama selama berbulan-bulan akan membuat generasi berikutnya dari hama dan penyakit menjadi kebal terhadap jenis bahan aktif tersebut. Penyemprotan pestisida sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari, dan mimmal enam jam setelah penyemprotan tidak boleh ada kegiatan penyulaman atau hujan. Untuk memngkatkan efektivitas penyemprotan pada musim hujan dapat dipergunakan perekat daun, misalnya Agristik atau Tenac Stiker. Penyemprotan harus menggunakan sprayer sehingga larutan mudah diserap oleh daun. Di pasaran banyak terdapat sprayer dari mulai ukuran 500 ml hingga puluhan liter. Pilihiah sprayer sesuai dengan kebutuhan sebab sangat penting untuk diperhatikan bahwa larutan pestisida yang dibuat harus habis dalam satu kali penyemprotan. Bila sprayer besar yang digunakan perlu diperhatikan arah angin agar tidak membahayakan penyemprotannya. Untuk menghindari kemungkinan terhirup atau masuk ke dalam tubuh penyemprotnya, pakailah pelindung, misalnya sepatu boot, sarung tangan, kacamata, dan pakaian yang tertutup. Secara umum ada empat cara usaha pengendalian serangan hama dan penyakit tanaman, yaitu cara teknik budi daya atau kultur teknik, cara fisik, cara biologi, dan cara kimiawi. Cara teknik budi daya mencakup pemotongan atau pemangkasan bagian tanaman yang sakit afau terserang, serta pembuangan sisa-sisa tanaman yang dapat menjadi tempat berbiaknya pengganggu. Cara fisik dilakukan dengan menggunakan perangkap, khususnya bagi hama serangga, menggunakan panas untuk mikroorganisme, menggunakan mulsa atau penutup tanah atau dilakukan pembakaran untuk memberantasan gulma. Cara biologi adalah sistem pengendalian dengan menggunakan musuh alami pengganggu tanaman dengan cara menciptakan kompetisi alami antarorgani sme. Musuh alami dapat berupa jasad renik, parasit atau predator sampai binatang seperti tikus, kodok, atau ular. Sedangkan cara kimiawi merupakan cara terakhir yang harus dipilih dalam pengendalian hama dan penyakit sebab menggunakan bahan kimia yang dapat menimbulkan terganggunya keseimbangan alam bila dilakukan dengan sembarangan. Pada saat ini yang banyak digunakan oleh masyarakat pertanian adalah sistem pengendalian hama dan penyakit terpadu dan meminimalisasikan penggunaan bahan kimia demi terjaganya kelestarian lingkungan. Sumber : AgroMedia Pustaka