Loading...

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PEPAYA

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PEPAYA
Seperti halnya jenis tanaman yang lain hama dan penyakit merupakan salah satu factor yang sangat menentukan dalam keberhasilan bertanam pepaya. Akibat yang ditimbulkan oleh serangan hama maupun penyakit tidak saja menurunkan kualitas maupun kuantitas produksi, namun dapat menyebabkan gagal panen. Karenanya memahami bagimana melakukan pengendalian hama dan penyakit tanaman pepaya sangat diperlukan jika kita ingin berhasil dalam bertanam pepaya.Ada dua musuh utama dalam budidaya tanaman pepaya yang akhir-akhir ini menjadi momok bagi petani pepaya, yaitu penyakit Antraknosa dan hama Kutu Putih (kutu dompolan)1. Penyakit Antraknosa Penyakit Antraknosa disebabkan oleh Cendawan Colletotrichum gloesporioides tergolong cendawan pathogen yang bersifat laten. Cendawan ini dapat menular melalui sentuhan langsung, perlukaan, percikan air, maupun embusan angin.Cendawan penyebab antraknosa memiliki tanaman inang yang cukup luas antaralain, ubi kayu, terung, cabe merah, jambu mete, karet, kakao, kopi, dan mangga.Gejala serangan Antraknosa :a. Pada Pembibitan, antraknosa akan menyebabkan rebah semai atau dikenal dengan istilah dumping off.b. Pada batang, antraknosa pada umumnya menyerang bagian yang dekat dengan pucuk pohon. Gejala serangan diawali dengan bercak kebasahan yang menyebabkan kematian jaringan berbentuk cekung. Bercak ini menjadi berwarna abu-abu atau kehitaman yang kemunculanya diikuti oleh bintik-bintik oraye. Pada tingkat serangan yang berat, antraknosa menyebabkan gejala mati pucuk.c. Pada daun, antraknosa menimbulkan gejala berupa bercak berwarna kecokelatan dan bintik-bintik oranye yang tersebar. d. Pada buah, antraknosa ditandai dengan adanya lukaa kecil di buah muda yang mengeluarkan getah kental. Pada buah menjelang masak , luka tampak berupa bulatan-bulatan kecil berwarna gelap dengan diameter mencapai 5 cm. Bulatan bercak kebasahan tersebut semakin membesar dan busuk cekung seiring dengan tingkat kematangan buah.Teknik PencegahanUntuk mencegah timbulnya penyakit antraknosa dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut :Gunakan varietas tahan, pilih lokasi yang tidak punya riwayat antraknosa sebelumnya, pastikan benih yang bebas antraknosa (belilah benih dari sumber yang terpercaya), gunakan seed treatment benih sebelum diseami, jangan menanam tanaman inang cendawan antraknosa, jaga kebersihan kebun, dan cegah stress pada tanaman akibat pemeliharaan yang tidak optimal.Teknik PengendalianUntuk mengendalikan penyakit antraknosa dapat dilakukan hal-hal sebagaiberikut, Pendekatan Biologis yaitu dengan menggunakan agen hayati untuk menekan pathogen, dan memperkuat daya tahan tanaman. Agen hayati yang dapat digunakan antaralain, plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) diaplikasikan dengan menyiramkan larutan ke pembibitan dosis 10 ml/liter air. Trichoderma diberikan dengan cara dicampur media semai dan saat pemberian pupuk organic di lubang tanam.Pendekatan Fisik yaitu melakukan sanitasi lahan secara teratur sehingga sumber penularan dapat ditekan.Pendekatan Kimiawi, yaitu dengan melakukan penyemprotan dengan fungisida terutama yang berbahan aktif benomyl, mancozed, thiabendazol, methyl tiofanat, dan perkhloraz. Buah yang baru dipanen direndam dalam larutan natrium bikarbonat 2 % selama beberapa menit.2. Hama Kutu Putih ( Paracoccus marginatus )Kutu Putih atau kutu dompolan hidup secara berkelompok dan membentuk lapisan berwarna putih, sehingga tampak seperti bantalan kapas.Kutu putih menyerang pada berbagai fase hidup papaya, dari bibit, fase vegetative, hingga fase generative.Gejala seranganKutu putih menyebabkan buah tidak bisa dipasarkan, bahkan kematian pohon papaya di lapang. Saat makan bagian tanaman, kutu putih menyuntikan toksin yang bisa menyebabkan klorosis, gugurnya daun dan buah muda, pertumbuhan terhambat, berubah bentuk, dan mengasilkan embun madu yang disukai semut.Teknik PencegahanPencegahan hama kutu putih dapat diakukan dengan cara membersihkan lahan dari tanaman inang, tanaman inang kutu ini antaralain, singkong, jarak pagar, tomat, katuk, jati emas, kembang sepatu, jeruk, alvokat, melon, jagung, dan akasia. Disamping itu petani harus menggunakan bibit yang bersih dari kutu putih, mengecek secara rutin keadaan kebersihan kebun dan jika diemukan kutu putih segara dibersihkan.Teknik Pengendalian Teknik pengendalian yang dapat dilakukan antara lain, Pendekatan Biologis dengan menggunakan musuh alami berupa parasitoid, Pendekatan Fisik, dilakukan pengontrolan kebun secara rutin, begitu ada yang terkena kutu putih, segera dilakukan pembersihan kutu dengan kain lap kasar yang dibasahi dengan air sabun, potong daun yang terkena dan benamkan segera disekitar pohon jangan dibawa pergi ke tempat jauh karena dapat menularkan kutu putih pada tanaman lain. Pendekatan Kimiawi, dapat dilakukan penyemprotan dengan menggunakan detergen dosis 2 g/l air. Semprot hingga menembus lapisan lilinya. Dapat juga dilakukan penyemprotan dengan menggunakan insektisida dengan bahan aktif senyawa organofospat. Dapat juga dilakukan kombinasi dengan menggunakan insektisida dan detergen, caranya semprot tanaman denga deterjen sebelum disemprot dengan insektisida. Ulangi penyemprotan pada hari ke -3, ke-6, dan ke-10 setelah penyemprotan pertama. Selanjutnya lakukan penyemprotan teratur seminggu sekali hingga musim hujan. Ditulis oleh : Yusak Murjoko, SP. Penyuluh Kabupaten Lampung Selatan. Sumber : Sobir,PhD, Sukses Bertanam Pepaya Unggul, Kepala PKBT- IPB.