PENDAHULUAN Wereng batang coklat (WBC) merupakan hama tanaman padi yang paling berbahaya dibandingkan dengan hama lainnya. Hal ini disebabkan sifat plastis hama wereng yaitu mudah beradaptasi pada keadaan atau kondisi lingkungan baru dan wereng merupakan vektor (penular) virus penyakit kerdil rumput (grassy stunt) dan kerdil hampa (ragged stunt). Petani umumnya mengendalikan hama WBC dengan menggunakan pestisida kimia dengan tidak tepat dan tanpa memperhatikan dampaknya bagi lingkungan dan kesehatan. Salah satu faktor penyebab tingginya penggunaan pestisida adalah kurangnya pengetahuan dan keterampilan petani dalam penerapan pengendalian hama dan penyakit terpadu (PHT). Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam melaksanakan PHT untuk mengantisipasi hama WBC. BIOLOGI DAN EKOLOGI WERENG BATANG COKLAT (WBC) Serangga penghisap cairan tanaman berwarna kecoklatan. Panjang tubuh 2 - 4,4 mm. Serangga dewasa mempunyai 2 bentuk, yaitu bersayap pendek (brakhiptera) dan bersayap panjang (makroptera). Serangga makroptera mempunyai kemampuan untuk terbang, sehingga dapat bermigrasi cukup jauh. Merupakan serangga monofag, inangnya terbatas pada padi dan padi liar (Oryza parennis dan Oryza spontanea). Berkembang biak secara seksual. Jantan bisa kawin dengan 9 (sembilan) betina, dan betina bisa dua kali kawin selama masa hidupnya. Siklus hidupnya relatif pendek. Masa peneluran 3-4 hari untuk wereng bersayap pendek dan 3-8 hari untuk bersayap panjang. Telur diletakkan berkelompok dalam pangkal pelepah daun, tetapi bila populasi tinggi telur diletakkan pada ujung pelepah daun dan tulang daun. Jumlah telur yang diletakkan serangga dewasa sangat beragam, dalam satu kelompok antara 3-21 butir. Seekor wereng betina selama hidupnya menghasilkan telur antara 270-902 butir yang terdiri atas 76-142 kelompok. Telur menetas antara 7-11 hari dengan rata-rata 9 hari Metamorfosis wereng coklat sederhana atau bertingkat (hetero-metabola). Serangga muda yang menetas dari telur disebut nimfa, makanannya sama dengan induknya. Nimfa yang baru menetas berwarna keputihan dan berangsur menjadi coklat /keabuan seiring dengan usia, panjang nimfa dewasa sekitar 2,1 mm bersamaan dengan itu garis hitam pada thorax mulai menghilang Nimfa mengalami pergantian kulit (instar), sebanyak 5 kali. Rata-rata lamanya stadia nimfa instar I, II, III, IV dn V berturut-turut 2,6 hari; 2,1 hari; 2,0 hari; 2,4 hari dan 3,1 hari. Untuk menyelesaikan seluruh stadium nimfa adalah 12,8 hari. SISTEM ORGANISASI PENERAPAN PHT Pemantauan Berfungsi untuk memantau keadaan agroekosistem (yang meliputi tanaman, OPT, musuh alami, dll). Pemantauan dilakukan seminggu sekali Pengambilan Keputusan Berfungsi untuk menentukan keputusan pengelolaan OPT yang tepat yang didasarkan dari analisis data hasil pengamatan seminggu sekali Program Tindakan. Berfungsi untuk segera melaksanakan keputusan dan rekomendasi yang dibuat oleh pengambil keputusan, tindakan ini bisa dilakukan petani perseorangan/kelompok PRINSIP PENERAPAN PHT DI TINGKAT PETANI Budidaya Tanaman Sehat Segala upaya yang dilakukan petani, seperti penggunaan paket-paket teknologi produksi dalam praktek agronomis harus diarahkan kepada terwujudnya tanaman yang sehat karena tanaman sehat mempunyai ketahanan ekologi yang tinggi terhadap gangguan OPT. Upaya yang dapat dilakukan untuk menekan populasi WBC dalam sistem budidaya tanaman sehat antara lain: Persiapan benih bermutu Varitas tahan wreng (VUTW) seperti Inpari 42 dan Inpari 33 Pengolahan tanah sempurna untuk mendukung pertumbuhan yang optimal Pemupukan berimbang, cukup dosis dan jenis (NPK) Pemberian pupuk kandang/organik Jarak tanam sesuai varitas, dianjurkan menggunakan sistem jajar legowo Ketersediaan air yang cukup sesuai fase pertumbuhan tanaman Tanam serempak minimal satu kawasan hamparan (tanam serempak masih dalam kisaran 1—15 HST) Sanitasi lingkungan (utamakan secara manual) dan hindari aplikasi herbisida Pelestarian dan Pendayagunaan Musuh Alami Musuh alami merupakan faktor pengendali organisme pengganggu tanaman (OPT) utama yang perlu dilestarikan keberadaannya agar mampu berperan secara maksimum dalam pengaturan populasi OPT di alam. Kegiatan yang perlu dilakukan: Hindari aplikasi herbisida pada lingkungan tanaman padi (pematang dan sawah) Hindari aplikasi pestisida pada awal tanam (1—21 HST) Hindari aplikasi molustisida (pembasmi keong mas) pada sebelum/saat tanam Penanaman refugia (bunga-bungaan) di sekeliling pertanaman Pemanfaatan entomopatogen (beauveria bassiana, metharizium anisopliae, verticilium) Pemanfaatan biopestisida/pestisida nabati Pemantauan dan Pengamatan Agroekosistem Secara Rutin Pemantauan ekosistem pertanaman secara teratur dan intensif oleh petani merupakan dasar analisis ekosistem tentang keberadaan suatu hama, yang selanjutnya akan sangat bermanfaat untuk pengambilan keputusan dan melakukan tindakan yang diberlakukan. Kegiatan pengamatan wereng batang coklat dilakukan syiar di pesemaian hingga pertanaman satu minggu sebelum panen dengan interval sekali seminggu Komponen yang perlu diamati antara lain: Keadaan OPT (jenis, populasi, dan stadia per satuan rumpun/luas) Keadaan musuh alami (jenis, jumlah per satuan rumpun/luas) Keadaan lingkungan tanaman (gulma dan air) Digunakan sebagai bahan analisa dalam menyusun rekomendasi pengendalian yang perlu dilakukan. Petani sebagai Ahli PHT Tujuan akhir dari PHT sendiri adalah menjadikan petani sebagai pengelola tanaman dapat mengambil keputusan yang bijaksana dengan memperhatikan lingkungan dan ekologi serta keekonomian dari suatu teknik pengendalian. Petani sebagai pengelola dan pengambil keputusan di lahan usaha taninya sendiri hendaknya memiliki kemauan, pengetahuan, dan keterampilan dalam menganalisis ekosistem. Dengan penguasaan pengetahuan dan keterampilan tersebut, petani diharapkan mampu menjadi manajer dan pelaksana dalam usaha taninya sendiri PENGELOLAAN PADA DAERAH SERANGAN WERENG COKLAT Pesemaian Bila ditemukan populasi WBC stadia dewasa, lakukan aplikasi entomopatogen (Metharizium dll). Tanaman Umur Muda Ditemukan populasi WBC stadia dewasa < 1 ekor/tunas perlu dilakukan pengamatan intensif terutama perkembangan WBC Ditemukan populasi WBC stadia dewasa ≥ 1 ekor/tunas terutama aplikasi entomopatogen (Metharizium dll). Setelah aplikasi, dilakukan pengamatan perkembangan populasi Apabila populasi WBC tidak menunjukkan penurunan atau bertambah terus diperlukan aplikasi insektisida dari golongan karbamat (populasi stadia dewasa) Apabila populasi stadia nimfa, diperlukan aplikasi insektisida dari golongan bupofrezin Hindari dan bahkan dilarang melakukan aplikasi insektisida yang berasal dari golongan piretroid atau pestisida yang diperuntukkan bukan tanaman padi Penyusun: Fauziah Yulia Adriyani dan Kiswanto (BPTP Lampung) Sumber: UPTD BALAI PROTEKSI TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA DINAS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA PROVINSI LAMPUNG. 2019