Loading...

Pengendalian Hama Fase Generatif Pada Tanaman Padi Sawah

Pengendalian Hama Fase Generatif Pada Tanaman Padi Sawah

 Pendahuluan

Tanaman padi memiliki beberapa fase pertumbuhan, salah satunya adalah fase generatif (pembungaan hingga pembentukan bulir). Pada fase ini, tanaman sangat rentan terhadap serangan hama karena energi tanaman difokuskan pada pembentukan malai dan pengisian bulir. Hama seperti wereng batang coklat, penggerek batang padi, walang sangit, dan tikus sawah sering menyerang pada fase generatif, sehingga dapat menurunkan hasil panen secara signifikan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) untuk menjaga produktivitas dan keberlanjutan ekosistem sawah.

Tujuan Pengendalian Hama Terpadu

  1. Menekan populasi hama hingga di bawah ambang ekonomi.
  2. Menjaga kualitas dan kuantitas hasil panen padi.
  3. Mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia.
  4. Melestarikan musuh alami dan keseimbangan ekosistem sawah.

Tantangan Pengendalian Hama

  1. Membutuhkan pengetahuan petani dalam mengenali hama dan musuh alami.
  2. Koordinasi antarpetani untuk tanam serempak.
  3. Hasil pengendalian tidak secepat pestisida kimia, sehingga butuh kesabaran.

 

Hama Utama pada Fase Generatif

  1. Penggerek Batang Padi – menyerang malai, menyebabkan bulir hampa.
  2. Wereng Batang Coklat – menghisap cairan tanaman, menularkan virus kerdil.
  3. Walang Sangit – menghisap bulir padi yang sedang masak susu, menyebabkan bulir hampa atau berwarna hitam.
  4. Tikus Sawah – merusak malai dan batang, menurunkan hasil panen.

Strategi Pengendalian Hama Terpadu

       a. Kultur Teknis

  1. Tanam serempak untuk memutus siklus hidup hama.
  2. Pengaturan jarak tanam agar sirkulasi udara baik dan mengurangi kelembaban.
  3. Pengelolaan air sawah untuk mengurangi habitat hama tertentu.

 b.   Mekanis/Fisik

  1. Penggunaan perangkap tikus dan sanitasi lahan.
  2. Pengumpulan telur penggerek batang dan pemusnahan manual.
  3. Pemasangan lampu perangkap serangga untuk mengurangi populasi walang sangit.

 c.  Biologis

  1. Pelepasan parasitoid Trichogramma untuk mengendalikan telur penggerek batang.
  2. Pemanfaatan predator alami seperti laba-laba, capung, dan burung pemakan serangga.
  3. Penggunaan jamur entomopatogen untuk menginfeksi hama tertentu.

 d.  Kimia

  1. Pestisida digunakan hanya bila populasi hama melebihi ambang ekonomi.
  2. Memilih pestisida yang ramah lingkungan dan tidak membunuh musuh alami.
  3. Rotasi bahan aktif untuk mencegah resistensi hama.

Kesimpulan

Pengendalian hama pada fase generatif tanaman padi harus dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan. Pengendalian hama terpadu menggabungkan metode kultur teknis, mekanis, biologis, dan kimia secara bijak untuk menjaga hasil panen sekaligus melindungi ekosistem sawah. Keberhasilan penerapan Pengendalian hama terpadu bergantung pada kesadaran petani, dukungan penyuluh, dan kebijakan pemerintah. Dengan penerapan Pengendalian hama terpadu, produksi padi dapat tetap optimal meski menghadapi ancaman hama di fase generatif.

 

Penyusun : Dedi Kurniawan, S.Tr.P (BPP Kec. Morosi)