Loading...

PENGENDALIAN HAMA PADA BUDIDAYA CABE HIBRIDA

PENGENDALIAN HAMA  PADA BUDIDAYA CABE HIBRIDA
Pengganggu tanaman cabe sangat banyak, yaitu mulai dari jenis kutu-kutuan yang paling kecil dengan ukuran hanya beberapa milimeter sampai sejenis ulat atau lalat yang dapat dilihat dengan mata telanjang serta mulai dari hama perusak daun, pemangsa buah, sampai penhisap cairan tanaman. Jadi, merawat cabe disini bukan hanya dengan memupuk saja, di bawah ini dapat dilihat hama atau penggaggu yang sering menyerang tanaman cabai. A. Hama Gangguan hama pada cabai hibrida dapat sangat berbahaya bila tidak segera diatasi. Jenis-jenis hama yang sering menyerang tanaman cabe hibrida sebagai berikut. 1. Gangsir dan belalang Biasanya menyerang tanaman muda yang baru pindah tanam dengan tanda-tanda tanaman putus atau patah setelah diamati terdapat bekas gigitan gangsir. Potongan tanaman tidak dimakan semua. Serangan biasanya dilakukan pada malam hari. Pengendalian : 1. Jangan menanam bibit yang terlalu muda, karena sangat disukai gangsir2. Pencegahan dapat dilakukan dengan menyemprotkan insektisida pada liang gangsir dan tutup luangnya dengan tanah 2. Ulat tanah ( Agrotis ipsilon Hufn ) Batang atau tangkai bibit tanaman muda yang baru ditanman di lapangan roboh dan ada bekas potongan ini disebabkan ulat tanah tersebut. Ulat ini berwarna coklat gelap dengan ciri ada alur coklat pada sisi kedua tubuhnya dan warna coklat muda pada bagian perutnya. Seperti hama lainnya ulat ini juga menyerang pada malam hari, sedangkan siang hari sembunyi di dalam tanah atau di balik mulsa. Pengedalian :1. Sungkup media pesemaian pada malam hari sebaiknya ditutup agar ulat tidak masuk2. Secara kimia semprot insektisida petang hari sebelum pindah tanam dengan insektisida yang bersifat piretroid 3. Ulat grayak ( Spodoptera litura F. ) Gejala serangan adalah daun cabai meranggas dan berlubang-lubang, pada serangan parah hanya tinggal epidermis daun. Disebut juga ulat tentara karena serangannya menggerombol. Warna ulat bermacam-macam,tetapi cirinya adalah terdapat bentuk bulan sabit berwarna hitam pada ruas perut ke 4 dan ke 10 yang dibatasi dengan garis kuning pada samping dan punggungnya. Pengendalian :1. Sanitasi lingkungan dengan mebersihkan gulma di sekitar lubang tanam atau di got-got dan parit.2. Secara kimiawai dengan menyemprotkan insektisida secara berselang-seling. 4. Kutu thrip ( Thrips parvispinus Karny. ) Hama ini merupakan hama penting pada tanaman cabai. Hama ini menghisap cairan daun muda sehingga menimbulkan bercak-bercak keperakan dan daun menekuk menjadi keriting. Thrip juga menjadi vektor atau perantara dari berbagai macam penyakit virus. Pengendalian :1. Jangan menanam cabai dalam sekala luas (> 3 ha) pada satu hamparan dengan selisih waktu lebih dari 2 minggu antar blok. Hal ini akan memindahkan serangan thrips terus-menerus sehingga tanaman akan rusak parah.2. Penyemprotan insektisida secara bergilir 5. Kutu persik/aphid hijau (Myzus persicae Sullz.) Kutu ini menghisap cairan daun muda dan bagian tanaman lain yang masih muda, hama ini mengeluarkan cairan manis yang akam mengundang pertumbuhan cendawan jelaga sehingga mengakibatkan aktifitas fofosintesis terhambat. Pada serangan berat daun akan menggulung, keriting dan klorosis (menguning) dan ahirrnya gugur. Hama ini juga sebagai vektor penyakit virus seperti TMV. Pengendalian :1. Dilakukan pembersihan tanaman inang disekitar tanaman cabai.2. Secara kimia dilakukan penyemprotan dengan insektisida non piretroit secara bergantian. 6. Tungau/mites Gejala serangan adalah bagian bawah daun yang terserang menjadi seperti tembaga, tepi daun mengeriting, daun menjadi kaku dan melengkung ke bawah (seperti sendok terbalik). Pada serangan berat tuans, bunga dan daun gugur. Pengedalian : 1. Tanaman yang terserang dimusnahkan atau pucuknya dipotong, kemudian dikumpulkan dan bakar.2. Secara kimiawi dilakukan penyemprotan insektisida akarisida seperti agrimec atau demolish 7. Lalat buah (Dacus dorsalis Hend.) Lalat buah biasa menyerang cabai pada musim hujan. Lalat betina menusik buah cabe dengan alat peletak telur untuk memasukkan telurnya ke dalam daging buah cabai. Telur akan menetas dan menjadi belatung yang memakan buah cabai tersebut. Cirinya bila buah cabai terdapat titik bekas tusukan kecil dan kemudian dibelah terlihat biji-biji berwarna hitam, daging buah busuk, dan ada belatung yang merupakan larva lalat buah. Seminggu kemudian belatung akan keluar dengan melentingkan diri dan masuk ke dalam tanah untuk berubah menjadi pupa dan setrerusnya menjadi lalat buah muda. Luka bekas tusukan lalat buah dapat menyebabkan masuknya inveksi sekunder berupa penyakit busuk buah, baik dari cendawan maupun bakteri. Pada serangan berat buah cabai banyak yang busuk dan rontok. Pengendalian :1. Sanitasi lingkungan dengan membersihkan buah yang rontok.2. Pemasangan perangkap berupa sex pheromone atau umpan bakteri.3. Penyemprotan insektisida secara berselang seling 8. Ulat buah (Helicoverpa spp. HSN.) Ulat buah ini dulu dikenal dengan Heliothis spp. Ulat menyerang cabai dengan cara mengebor buah sambil memakannya. Buah cabe yang dimakan ahirnya berlubang dan tidak laku. Ulat ini biasanya menyerang saat buah masak. Pengendalian : 1. Dilakukan pembersiahan buah-buah yang terserang dan penyiangan gulma.2. Secara kimiawi dilakukan penyemprotan secara bergantian bahan aktif dan lebih efektif dengan memakai perekat dan dilakukan pada malam hari. 9. Nematoda puru akar, Lundi (tembelong) Serangan nematoda ditandai dengan daun-daun yuang menguning, pertumbuhan terhambat, layu, dan ujung tanaman mati. Apabila tanaman dicabut maka ujung akar yang mati banyak ditumbuhi akar serabut, pada akar serabut tersebut terdapat bisul bulat atau puru dengan ukuran bervariasi. Akibat nematoda ini juga dapat mengundan cendawan dan bakteri.Lundi atau tembelong ini akan mengorok bagian tanaman dibawah tanah seperti juga jenis cacing berbentuk transparan agak kemerahan juga maenggorok bagian tanaman dibawah tanah. Sehingga tanaman mati. Pengendalian : 1. Pencegahan dengan sterilisasi media semai atau media tanam dengan menggunakan bahan nematisida seperti Jordan 5 GR, Furadan 3 GR, Petrofur dan sebagainya.2. Pembersihan gulma seakar-akarnya karena gulma merupakan inang nematoda.3. Tanaman yang terserang dicabut dan dimusnahkan kemudian lubang bekas tanam diberi bahan nematisida.4. Rotasi tanaman yang bukan inang nematoda. Oleh : Teguh Yulianto