Sebagai daerah tropis, Indonesia memiliki flora yang sangat beragam,mengandung cukup banyak jenis tumbuh-tumbuhan yang merupakan sumber bahaninsektisida yang dapat dimanfaatkan untuk pengendalian hama. Dewasa ini penelitiantentang famili tumbuhan yang berpotensi sebagai insektisida botani dari penjuru duniatelah banyak dilaporkan. Dilaporkan bahwa lebih dari 1500 jenis tumbuhan dapat berpengaruh buruk terhadap serangga (Grainge & Ahmed, 1988). Di Filipina, tidak kurangdari 100 jenis tumbuhan telah diketahui mengandung bahan aktif insektisida (Rejesus,1987). Laporan dari berbagai propinsi di Indonesia menyebutkan lebih 40 jenis tumbuhanberpotensi sebagai pestisida nabati (Direktorat BPTP & Ditjenbun, 1994). Hamid &Nuryani (1992) mencatat di Indonesia terdapat 50 famili tumbuhan penghasil racun. Famili tumbuhan yang dianggap merupakan sumber potensial insektisida nabati adalahMeliaceae, Annonaceae, Asteraceae, Piperaceae dan Rutaceae (Arnasonet.al., 1993;Isman, 1995), namun hal ini tidak menutup kemungkinan untuk ditemukannya familitumbuhan yang baru. Didasari oleh banyaknya jenis tumbuhan yang memiliki khasiat sebagai insektisida maka penggalian potensi tanaman sebagai sumber insektisida botanisebagai alternatif pengendalian hama tanaman cukup tepat.Walaupun secara keseluruhan insektisida nabati tidak dapat berperan sebagai pengganti insektisida sintetik, namun setidaknya insektisida nabati dapat mengurangi frekuensi penggunaan insektisida sintetik, apabila kedua insektisida tersebut dipadukan. Oleh karena itu perlu dicari jenis tumbuhan yang bersifat meracun bagi hama serangga agar dapat dibuat sebagai bahan utama insektisida nabati, karena beberapa laporan hasil penelitian menyatakan bahwa penggunaan bahan tersebut aman terhadap lingkungan. Pestisida nabati berasal dari tumbuhan seperti akar, daun, batang, dan buah. Pestisida nabati memiliki beberapa keunggulan, diantaranya murah dan mudah dibuat oleh petani, relatif aman terhadap lingkungan, tidak menyebabkan keracunan pada tanaman, sulit menimbulkan kekebalan terhadap hama, cocok digabungkan dengan cara pengendalian yang lain, dan menghasilkan produk pertanian yang sehat karena bebas residu pestisida kimia. Namun, dalam penerapannya, pestisida ini juga memiliki kekurangan, yaitu daya kerjanya relatif lambat, tidak membunuh jasad sasaran secara langsung, tidak tahan terhadap sinar matahari, tidak tahan disimpan, serta kadang-kadang harus disemprotkan berulang-ulang. Pestida Nabati dari SirsakSirsak banyak terdapat di Indonesia. Tanaman ini berasal dari Amerika Tropis, Amerika Tengah, dan Karibia. Sirsak memiliki pohon kecil, tinggi pohon ± 4 m. Sirsak banyak digunakan sebagai insektisida nabati. Bagian tanaman yang dapat digunakan adalah biji, daun, akar, dan buah yang belum masak. Beberapa hama yang dapat dikendalikan dengan pestisida nabati dari sirsak adalah Aphis, ulat, ulat tritip (Plutella xylostella), lalat buah, dan kumbang labu merah. Cara menggunakan :• 500 gram daun sirsak direbus dalam 1-2 liter air hingga mendidih dan dibiarkan hingga air tinggal seperempatnya. Sisa larutan tersebut disaring dan dicampur dengan 10 – 15 liter. Larutan ini sudah dapat disemprotkan pada tanaman yang terserang hama (Untuk 1 m2diperlukan 0,5 – 0,75 gram daun sirsak segar). Sebanyak 2 kg daun sirsak digiling samapai halus, kemudian ditambah 500 cc air dan diaduk hingga merata. Selanjutnya disaring dan filtratnya (hasil saringan) diletakkan di tempat sendiri. Ambil 500 gram cabai rawit kering dan rendam dalam air selama semalam. Hari berikutnya, cabai digiling/diblender sampai hancur, lalu disaring untuk memperoleh ekstraknya. Ambil 1 kg buah nimba yang telah dihancurkan lalu rendam dalam 2 liter air selama semalam, kemudian disaring. Keempat larutan yang diperoleh tersebut, dicampur dengan 50 – 60 liter air dan disaring lagi. Bahan ini sudah dapat disemprotkan dengan tanaman yang terserang hama. Pestisida Nabati dari NimbaNimba berasal dari India yang dipakai sebagai obat untuk kesehatan manusia dan insektisida untuk tanaman. Semua bagian dari nimbi cukup efektif untuk insektisida tanaman, tetapi yang paling efektif adalah bijinya. Kegunaan zat-zat di dalam nimbi adalah sebagai insektisida, penolak hama, akarisida, penghambat pertumbuhan, fungisida, dan anti virus. Zat-zat tersebut sebagai racun perut dan sistemik. Hama yang dapat dikendalikan dengan menggunakan ekstrak daun nimbi, antara lain ulat tritip, ulat tanah, ulat grayak, tungau, thrips, lalat putih, dan semut. Cara menggunakan :- Sebanyak 0,9 gram daun nimba yang telah ditumbuk, dicampur dengan 0,014 gram sabun. Kemudian direndam selama satu malam. Hari berikutnya, larutan tersebut disaring, kemudian diambil 3 liter dan dimasukkan ke dalam 9 liter air. Larutan ini dapat digunakan untuk luas lahan 1 m2. Tanaman disemprot pada hari ke 4 dan hari ke 8 sesudah berkecambah di persemaian dan sesudah dipindah ke lapangan dilakukan penyemprotan 2-4 kali seminggu untuk menghindari hama lalat putih.- Sebanyak 1,25 – 2 gram daun nimbi segar ditumbuk, kemudian direndam air selama satu malam. Selanjutnya, larutan tersebut disaring dan ditambah air hingga menjadi 0,01 – 0,012 liter air. Larutan ini bisa digunakan untuk lahan seluas 1 m². Pestisida Nabati dari KunyitKunyit berasal dari Asia Selatan (India) dan Asia Tenggara. Kunyit mengandung termerone dan zat warna curcumin. Rhizoma (batang dalam tanah) kunyit dapat digunakan sebagai insektisida maupun fungisida. Hama dan penyakit yang dapat dikendalikan, yaitu aphis, ulat grayak, ulat, maupun tungau. Cara menggunakan :- Rhizome (batang dalam tanah) kunyit sebanyak 4 kg ditumbuk dan ditambah dengan 3 -4 liter air urine sapi dan diaduk sampai merata. Campuran tersebut diencerkan dengan 15 – 20 liter air ditambah dengan 4 cc emulsifier (misal getah karet). - Sebanyak 500 gram rhizome kunyit ditumbuk dan direndam dalam 2 liter air selama satu malam. Hari berikutnya, ekstrak tersebut ditambah 20 liter air kemudian disaring. Penulis : D E D E N.S,SP (Kec.Bathin III, Bungo)Sumber: 1. http://sumsel.litbang.pertanian.go.id2. www.bppjambi.info3. ejournal.litbang.depkes.go.id