Tanaman kakao merupakan komoditas unggulan perkebunan yang ada di Wilayah Binaan Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Selemadeg yang diusahakan sebagai tanaman sela dibawah pohon kelapa. Luas areal tanaman kakao yang ada sampai saat ini adalah 525,84 hektar dengan produktivitas 0,614 ton/hektar. Pada tahun 90-an tanaman kakao sempat berjaya dan memberikan harapan yang baik bagi pendapatan petani khususnya petani kakao, tapi menjelang tahun 2003 petani kakao sempat dibuat tak berdaya dengan masuknya hama yang sangat merugikan yang membuat produksi menurun drastis. Hama tersebut adalah hama penggerek buah kakao yang sangat sulit dalam pengendaliannya terutama pengendalian ulat yang berada didalam jaringan buah kakao, sehingga sangat sulit untuk diberantas mengingat efek residu dari pestisida kimia kalau menggunakan pestisida sistemik. Pengendalian yang banyak dilakukan oleh petani adalah dengan pengasapan di areal kebun untuk mengusir imago dari hama PBK namun sifatnya hanya mengusir bukan mengendalikan, sehingga serangan hama menjadi semakin meresahkan petani kakao karena biji kakao yang dihasilkan menjadi lengket dan mutunya sangat rendah karena tidak bisa difermentasi. Untuk mengatasi meluasnya serangan hama PBK, petani kakao di Kecamatan Selemadeg Kabupaten Tabanan sejak tahun 2004 diperkenalkan dengan pengendalian hama dengan memadukan beberapa sistem dalam pengendalian hama terpadu dengan mengesampingkan penggunaan pestisida berbahan kimia. Cara tersebut adalah pemanenan buah sesering mungkin, melaksanakan pemangkasan yang tepat, melakukan sanitasi kebun dan pemupukan atau dikenal dengan istilah PsPSP yaitu Panen sering, Pemangkasan, Sanitasi, dan Pemupukan. Panen Sering. Melakukan panen sering pada kakao merupakan salah satu cara untuk memutus siklus dari serangan hama PBK dengan memetik buah yang ada sebelum masak penuh. Tujuannya agar larva yang ada di dalam buah yang terserang tidak dapat berkembang dengan baik karena sudah keburu dibelah sehingga tidak dapat berkepompong. Pemanenan dilakukan dengan memetik buah yang sudah ada ruas warna kuning dengan tidak menunggu buah sampai berwarna kuning penuh. Disamping itu pemanenan buah yang sudah berwarna kuning penuh ada kemungkinan biji sudah berkecambah sehingga menurunkan mutu biji kakao tersebut. Dengan panen sering diharapkan dapat menekan perkembangan larva dari hama PBK. Pemangkasan. Pemangkasan tanaman kakao dilakukan dengan menerapkan sitem tepat yaitu tepat waktu dan tepat cara. Pemangkasan tanaman dilakukan untuk mengurangi kelembaban didalam kebun yang merupakan kegemaran bagi hama PBK pada kondisi kebun yang lembab. Pemangkasan yang diperlukan dalam pengendalian hama PBK adalah pemangkasan wiwilan, pemangkasan produksi dan pemangkasan restorasi. Pemangkasan wiwilan dilakukan untuk mengurangi tunas-tunas air yang tumbuh pada tanaman pokok, sedangkan pemangkasan produksi ditujukan untuk mengurangi cabang-cabang yang tidak produktif yang tidak dibutuhkan yang menyebabkan kelembaban kebun meningkat. Cabang-cabang tersebut seperti cabang yang sakit, cabang balik, cabang yang tumbuhnya menggantung, sehingga sinar matahari dapat masuk ketajuk tanaman dan sirkulasi udara didalam kebun menjadi baik. Sinar matahari dan sirkulasi udara yang baik didalam tajuk tanaman akan merangsang poertumbuhan bunga dan pentil buah kakao. Pemangkasan restorasi ditujukan pada kebun-kebun kakao yang tidak pernah mendapatkan pemangkasan dengan memotong dahan-dahan yang mempunyai diameter lebih dari 25 cm dan tumbuhnya mendatar yang menjadi kesukaan tempat tinggal dari imago hama PBK. Pemangkasan yang baik akan mendapatkan kebun kakao yang mempunyai tinggi tanaman maksimal 4 meter. Dengan kelembaban yang optimal dalam kebun akan mengurangi serangan hama PBK dan meningkatkan tanaman untuk memproduksi buah. Dengan pemangkasan diharapkan imago dari hama PBK tidak betah tinggal diareal kebun kakao. Sanitasi. Melakukan sanitasi kebun merupakan salah satu cara dalam pengendalian hama PBK, dengan membersihkan daun-daun kakao kering dan hasil pangkasan yang merupakan tempat bersarangnya kepompong dari hama PBK. Daun-daun kering dan hasil pangkasan sebaiknya dikubur dalam rorak-rorak yang dibuat disekitar tanaman dan berfungsi sebagai pupuk kompos. Dengan sanitasi yang baik diharapkan dapat menekan kepompong dari hama PBK untuk berkembang. Pemupukan. Melakukan pemupukan yang tepat dan berimbang akan memberikan pertumbuhan tanaman yang kuat dan sehat. Dengan pertumbuhan tanaman yang sehat dan kuat akan memberikan ketahanan tanaman akan adanya serangan hama dan penyakit termasuk serangan hama PBK. Dengan pemupukan yang tepat maka lapisan keras pada buah kakao akan menjadi kuat sehingga ulat hama PBK akan kesulitan untuk menembusnya. Dengan pemupukan yang tepat diharapkan dapat menekan perkembangan larva dari hama PBK. Dengan melaksanakan kegiatan PsPSP diharapkan serangan hama penggerek buah kakao dapat dikendalikan dengan baik, sehingga para petani dapat menikmati hasil dari kebun kakaonya secara maksimal dan diperoleh biji kakao yang bermutu baik sesuai standar mutu yang diharapkan. (I Ketut Sukarba,SP. Penyuluh Pertanian Madya BP3K Kecamatan Selemadeg,Tabanan,Bali).