Penggerek polong dikenal dengan nama Etiella zinckenella, E. Hobsoni, Pod Borer, atau Lima Bean Borer. Hama ini merupakan hama utama pada kedelai, selain kumbang kedelai. Tanaman inang hama ini antara lain Crotalaria strata, orok-orok, kacang tunggak, kacang krotok, dan Teprosia candida.Gejala kerusakan tanaman akibat serangan hama ini adalah terdapatnya bintik atau lubang berwarna cokelat tua pada kulit polong, bekas jalan masuk larva ke dalam biji. Seringkali, pada lubang bekas gereka terdapat butir-butir kotoran kering yang berwarna coklat muda dan terikat benang pintal atau sisa-sisa biji terbalut benang pintal. Gambar. Penggerek polong kedelai Bioekologi Morfologi Ngengat penggerek polong panjangnya 1,0 - 1,2 cm; E. Hobsoni lebih pendek daripada E. zinckenella. Ngegat penggerek polong berwarna keabu-abuan. Ciri khas ngegat E. zinckenella yaitu adanya garis putih pada pinggir sayap depan.Telur berbentuk manyerupai buah alpukat, kadang-kadang bentuknya tidak beraturan, panjangnya 0,6 mm. Telur yang baru diletakkan berwarna putih mengkilap, sehari kemudian berubah menjadi kemerah-merahan, dan ketika akan menetas berubah menjadi jingga atau merah berbintik hitam.Larva instar-1 mempunyai kepala yang lebih besar daripada badannya, sedang kepala larva instar 2-5 labih kecil daripada badannya. Larva instar-5 panjangya berkisar antara 13-15 mm dan lebarnya 2-3 mm.Larva instar-1 berwarna putih kekuning-kuningan, kepalanya berwarna coklat sampai hitam. Larva instar-2 dan 3 berwarna kehijau-hijauan dengan garis merah memanjang yang di tumbuhi rambut. Larva instar-4 berwarna kemerah-merahan atau merah kebiru-biruan atau lembayung.Pupa berbentuk lonjong, panjangnya 8-10 mm dan lebarnya 2 mm, berwarna coklat. Pupa E. Hobsoni lebih kecil daripada pupa E. zinckenella.Biologi dan perilakuNgegatnya tertarik pada cahaya, meletakkan telur pada malam hari. Telur diletakkan satu-satu atau berkelompok 3 - 5 butir, di antara rambut-rambut polong, biasanya di dekat pangkal polong, juga dapat di selipkan di daun ketiak, di bagian bawah daun kelopak bunga, di batang muda dekat bunga atau polong.Pupa terbentuk di dalam tanah yang di bungkus kokon berbentuk bulat telur yang terbuat dari butiran tanah dan benang pintal.Siklus hidup penggerek polong berlangsung antara 32-39 hari (rata-rata 35 hari). Stadia telur rata-rata 4 hari, stadia ulat 13-18 hari (rata-rata 16 hari), stadia pra kepompong 3-4 hari dan stadia kepompong antara 9-15 hari. Lama hidup imago jantan dan bentina relatif sama, yaitu yang jantan berkisar 7-19 hari dan betina berkisar 8-17 hari. Masa praoviposisi imago 2 hari. Seekor betina mampu bertelur cukup banyak, rata-rata 73 butir dan maksimum 204 butir.EkologiTanaman inang Etiella spp. terutama kedelai; selain itu dapat hidup dan berkembang pada tanaman kacang hijau, kacang tunggak, kacang tanah, kacang kratok (Phaseolus vulgaris), Tephrosia sp., Crotalaria striata, dan C. juncea.Musuh alami Etiella sp. berupa prasitoid dan predator. Beberapa jenis parasitoid yang telah di identifikasi ialah Agathis sp. (Braconidea), Apanteles sp., Antrocephalus sp., Bracon sp.A, Bracon sp.B, Microbracon sp., Phanerotama sp., Pristmerus naitoi, Temelucha etiellae sp., Temelucha sp., Trahala sp., Trichogramma sp., dan satu spesies dari famili Tachinidae yang belum diidentifikasi. Selain itu, juga telah diketahui adanya parasitoid telur di lapangan. Predator imago yang biasa ditemukan antara lain Lycosa sp. dan Oxyopes sp.Dinamika populasi tahunan terutama dipengaruhi oleh curah hujan, kelimpahan tanaman inang dan musuh alami. Oleh karena itu, populasi maupun intensitas serangan pada musim kamarau jauh lebih tinggi daripada musim hujan. Musuh alami diduga berpengaruh penting dalam menentukan kelimpahan populasi, sebab hama ini mempunyai banyak musuh alami.Hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa penggerek polong biasanya datang di pertanaman pada awal pembungaan. Telur mulai ditemukan pada umur sekitar 40 hst dan puncak populasi terjadi pada 50 hst, tetapi dapat bergeser menurut keberadaan populasi di alam atau pada tanaman inang lain, pola pembungaan dan pembentukan polong.Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa puncak populasi telur terjadi pada umur 55 hst pada musim kemarau dan 65 hst pada musim hujan. Selanjutnya populasi menurun dan telur terakhir dijumpai pada umur 75 hst.Gejala serangan dan kerusakanBagian tanaman yang diserang penggerek polong ialah polong dan biji. Tanda serangan pada kulit polong berupa lubang gerek berbentuk bundar. Apabila terdapat dua lubang gerek pada satu polong berarti ulat sudah keluar. Di dalam polong terserang terdapat butir-butir kotoran ulat yang berwarna kuning coklat atau coklat muda yang menggumpal. Akibat serangan hama ini menyebabkan kuantitas dan kualitas hasil panen menurun.Kerugian yang disebabkan oleh penggerek polong sangat bervariasi bergantung pada sumber populasi dan musim/waktu tanam. Intensitas serangan pada musim penghujan biasanya lebih rendah daripada musim kemarau, atau serangan berat dapat terjadi pada musim kemarau.PengendalianPemantauan terhadap populasi larva E. zinckenella pada petakan pada petak alami dilakukan secara diagonal, dengan contoh sebanyak 10 rumpun.Ambang pengendalian yang didasarkan pada populasi larva yaitu 20 ekor/10 rumpun, sedangkan ambang pengendalian yang didasarkan kerusakan polong yaitu intensitas ≥ 2,5 % polong terserang.Komponem pengendalian yang utama ialah bertanam serentak dalam kisaran 10 hari, melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inangnya, dan waktu tanam yang tepat dengan memperhatikan pola dinamika populasi selama setahun maka dapat di tentukan waktu tanam yang tepat.Sanitasi terhadap inang alternatif sebelum tanam kedelai perlu dilakukan untuk meniadakan sumber populasi.Mengingat hasil penelitian yang menunjukkan bahwa komplek musuh alami terutama parasitidnya cukup banyak, maka penggunaan pestisida pada awal pertumbuhan harus dengan pertimbangkan yang cermat agar kompleks musuh alami pada pertanaman kedelai sejak awal dapat bekerja baik.Pada daerah endemis penggerek polong, perlu diterapkan cara pengendalian dengan menggunakan tanaman perangkap. Kedelai varietas Dieng telah diketahui lebih disukai ngengat penggerek polong untuk meletakkan telurnya, dengan demikian dapat digunakan sebagai tanaman perangkap. Hasil penelitian Balittan pada skala luas yang terbatas telah memberikan hasil positif tanaman perangkap itu (varietas Dieng) di tanamdi sekeliling lahan dan terutama di lokasi yang berbatasan dengan sumber serangan, lebih awal dua minggu dari tanggal tanam kedelai untuk produksi dengan proporsi sebesar 12% dari total luas lahan. Mengingat hal tersebut adalah teknologi baru, maka apabila dioperasionalkan pada berbagai agroekosistem skala luas hendaknya direncanakan dengan baik, sehingga sekaligus dapat mengevaluasi hasilnya.Pengendalian dengan menggunakan insektisida efektif dapat dilakukan apabila berdasarkan analisis ekosistem (pada fase kritis) di ketahui populasi larva atau intensitas serangan pada polong telah mencapai ambang pengendalian.Sumber : Direktorat Perlindungan Tanaman PanganPenulis : Iswardi, A.Md( Penyuluh Pertanian diBPP kecamatan Bandar Baru Pidie jaya)