Loading...

PENGENDALIAN HAMA TANAMAN CABAI MERAH

PENGENDALIAN HAMA TANAMAN CABAI MERAH
Tanaman Cabai merah merupakan komoditas hortikultura unggulan yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Tanaman Cabai merah dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah asal drainase dan aerasi tanah cukup baik dan air tersedia selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tingkat kemasaman (pH) tanah yang sesuai adalah 6 – 7Untuk menghindari timbulnya berbagai masalah dalam budidaya cabai merah, terutama terhadap keamanan produk dan lingkungan, perlu dilakukan usaha budidaya cabai merah secara benar. Upaya yang dilakukan agar usaha budidaya cabai merah dapat dilakukan secara berkelanjutan dan produknya aman untuk konsumsi adalah penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang memuat alur proses budidaya dari on farm sampai penanganan pasca panen sesuai dengan GAP (Good Agricultural Practices) yang dianjurkan. Salah satunya adalah pengendalian hama pada tanaman cabai. Kegiatan pengendaliaan OPT dilakukan dengan sistem terpadu untuk menurunkan populasi OPT atau intensitas serangan sehingga tidak merugikan secara ekonomis dan aman bagi lingkungan. Hama yang menyerang tanaman, antara lain : 1. Thrips Pada umumnya hama ini berkembang pesat di musim kemarau, sehingga populasi lebih tinggi sedangkan pada musim penghujan populasinya akan berkurang karena banyak thrips yang mati akibat tercuci oleh air hujan. Hama ini menyerang tanaman dengan menghisap cairan permukaan bawah daun (terutama daun daun muda). Serangan ditandai dengan adanya bercak bercak putih/keperak-perakan. Daun yang terserang berubah warna menjadi coklat tembaga, mengeriting atau keriput dan akhirnya mati. Pada serangan berat menyebabkan daun, tunas atau pucuk menggulung ke dalam dan muncul benjolan seperti tumor, pertumbuhan tanaman terhambat dan kerdil bahkan pucuk tanaman menjadi mati. Pengendaliannya a. Penggunaan mulsa plastik yang dikombinasikan dengan tanaman perangkap. Cara ini cukup efektif untuk menunda serangan yang biasanya terjadi pada umur 14 HST. Penggunaan mulsa plastik juga dapat mencegah infeksi kutu daun dari luar pertanaman dan mencegah thrips mencapai tanah untuk berpupa, sehingga daur hidup thrips menjadi terputus. Sanitasi dan pemusnahan bagian tanaman yang terserang thrips. b. Penggunaan perangkap likat warna biru atau putih sebanyak 40 buah per ha atau 2 buah per 500 m2, dan dipasang sejak tanaman berumur 2 minggu. Perangkap likat dapat dibuat dari potongan paralon berdiameter 10 cm dan panjang + 15 cm, kemudian di cat putih atau biru, digantungkan di atas tanaman cabai. Lem yang digunakan berupa lem kayu yang diencerkan atau vaselin, lem dipasang setiap seminggu sekali. c. Pemanfaatan musuh alami yang potensial untuk mengendalikan hama thrips, antara lain predator kumbang Coccinellidae, tungau, predator larva Chrysopidae, kepik Anthocoridae dan patogen d. Pestisida digunakan apabila populasi hama atau kerusakan tanaman telah mencapai ambang pengendalian (atau cara pengendalian lainnya tidak dapat menekan populasi hama. Pengendalian juga dapat dilakukan dengan menggunakan pestisida alami antara lain yang berasal dari gadung 2. Tungau Kuning Hama menghisap cairan tanaman dan menyebabkan kerusakan, sehingga terjadi perubahan bentuk menjadi abnormal seperti daun menebal dan perubahan warna daun menjadi menjadi tembaga/kecoklatan, terpuntuir, menyusut serta keriting, tunas dan bunga gugur. Pada awal musim kemarau biasanya serangan bersamaan dengan serangan trips dan kutu daun. Pengendaliannya a. Sanitasi dengan memusnahkan tanaman terserang b. Apabila cara lain tidak dapat menekan populasi hama, dapat diaplikasikan dengan pestisida efektif 3. Lalat Buah Buah cabai merah yang terserang ditandai denganadanya lubang titik hitam pada bagian pangkal buah, tempat serangga betina meletakkan telurnya. Jika buah cabai dibelah, didalamnya terdapat larva lalat buah. Larva tersebut membuat saluran di dalam buah dengan memakan daging buah serta menghisap cairan buah dan menyebabkan terjadinya infeksi oleh OPT lain sehingga buah menjadi busuk dan gugur sebelum larva berubah menjadi pupa. Serangan berat terjadi pada musim hujan, disebabkan oleh bekas tusukan ovipositor serangga betina terkontaminasi oleh bakteri sehingga buah yang terserang menjadi busuk dan jatuh ke tanah. Pengendaliannya Tanah dicangkul atau dibajak sehingga kepompong lalat buah yang ada di dalam tanah akan mati terkena sinar matahari Mengumpulkan buah yang terserang kemudian dimusnahkan dengan cara dibakar. Penggunaan perangkap dengan atraktan misalnya metil eugenol (ME) atau petrogenol sebanyak 1 ml/perangkap. Jumlah perangkap yang dibutuhkan 40 buah/Ha atau 2 buah per 500 m2. Perangkap dipasang pada saat tanaman berumur 2 minggu sampai akhir panen dan atraktan diganti setiap 2 minggu sekali. Pelepasan serangga jantan mandul yang telah diradiasi dilepas ke lapangan dalam jumlah besar sehingga diharapkan dapat mengurangi keberhasilan perkawinan dengan lalat fertil dan akhirnya populasi lalat buah dapat berkurang. Pemanfaatan musuh alami yang potensial untuk mengendalikan hama lalat buah,antara lain parasitoid larva dan pupa (Biosteres sp, Opius sp), predatorArachnidae (laba-laba), Staphylinidae (kumbang) dan Dermatera (Cocopet). Penggunana varietas-varietas yang agak tahan terhadap serangan hama lalat buah. Pengendalian secara kimiawi dilakukan apabila cara-cara pengendalian lainnya tidak dapatmenekan populasi hama, sehingga digunakan pestisida yang efektif, terdaftar dan sesuai anjuran. 4. Kutu Daun Persik Tanaman yang terserang kutu daun persik menjadi keriput, pertumbuhan tanaman kerdil, warna daun kekuningan, terpuntir, layu dan akhirnya mati. Kutu daun ini merupakan vektor lebih dari 150 strain virus, terutama penyakit virus CMV dan PVY. Ledakan hama biasanya terjadi pada musim kemarau. Hama ini hidupnya berkelompok dan berada di bawah permukaan daun. Menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan daun muda dan bagian pucuk tanaman. Cairan yang dikeluarkan kutu daun ini mengandung madu semut, yang dapat mendorong tumbuhnya cendawan jelaga pada daun sehingga menghambat proses fotosintesis. Pengendaliannya Melakukan eradikasi gulma dan bagian-bagian tanaman yang terserang, kemudian dibakar Tumpangsari cabai merah dengan bawang daun, dapat menekan serangan hama kutu daun persik karena bawang daun bersifat sebagai pengusir hama ini. Penggunaan tanaman perangkap, seperti tanaman caisin yang ditanam di sekeliling tanaman cabai merah, karena caisin lebih disukai oleh kutu daun persik daripada tanaman cabai. Jika populasi hama cukup tinggi, dilakukan penyemprotan pestisida pada tanaman perangkap saja (caisin). Penggunaan kain kasa pada bedengan persemaian maupun di sekitar pertanaman Penggunaan perangkap air berwarna kuning.Perangkap yang dibutuhkan sebanyak 40 buah per ha atau 2 buah per 500 m2, dipasang pada saat tanaman cabai berumur 2 minggu. Penggunaan pestisida yang efektif, terdaftar dan sesuai anjuran. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada sore hari. Penulis : Ely Novrianty (Penyuluh, BPSIP Lampung) Sumber :Standar Operasional Prosedur Cabai Merah, Direktorat Jenderal Hortikultura