Loading...

Pengendalian Hama Terpadu pada Tanaman kedelai

Pengendalian Hama Terpadu pada Tanaman kedelai
PENGENDALIAN HAMA TERPADU PADA TANAMAN KEDELAI Pengendalian hama terpadu (PHT) adalah pengendalian hama yang dilakukan dengan menggunakan kekuatan unsur-unsur alami yang mampu mengendalikan hama agar tetap berada pada jumlah dibawah ambang batas yang merugikan. Untuk penerapan PHT diperlukan beberapa Komponen yaitu perpaduan dari cara pengendalian pengendalian kultur teknik, hayati, varietas yang tahan, fisik dan mekanik, peraturan-peraturan, serta kimiawi (pestisida). Komponen –kompenen tersebut adalah sebagai berikut :a. Pengendalian varietas unggul yang tahan hama dan penyakit,b. Pengendalian hama,c. Keseimbangan Ekosistemd. Pemanfaatan bahan dan musuh alamiHama – hama yang penting pada tanaman kedelai adalah sebagai berikut :1. Lalat kacang (Ophiomyia sp dan Melanagromyza sp)Ambang Kendali : 1 imago per 5 baris tanaman atau 1 imago per 50 rumpun tanaman.Alternative pengendalian :• Tanam serentak, selisih waktu tanam tidak lebih dari 10 hari.• Rotasi tanaman dengan tanaman bukan tanaman inang.• Penggunaan varietas toleran.• Pemberian mulsa (5-10) t/ha untuk tanam kedelai setelah padi sawah.• Perlakuan benih dengan insektisida karbofuran untuk daerah endemis.• Penyemprotan dengan insektisia pada ambang kendali (7-10) dan (10-50) HST 2. Ulat pemakan daun (Spodoptera sp, Chrysodeixis sp dan Lamprosema sp)Ambang kendali :- Intensitas kerusakan baru sebesar 12,5% pada umur 20 hst dan lebih 20% pada umur lebih dari 20 hst.- Pada vase vegetative, 10 ekor larva instar 3 ( tahap ganti kulit ke 3) dari 10 rumpun yang diamati. - Pada fase pembungaan, 13 ekor larva instar 3 ( tahap ganti kulit ke 3) dari 10 rumpun yang diamati.- Pada fase pembentukan polong, 13 ekor larva instar 3 ( tahap ganti kulit ke 3) dari 10 rumpun tanaman yang diamati.- Pada fase pengisian polong, 26 ekor larva instar 3 ( tahap ganti kulit ke 3) dari 10 rumpun tanaman yang diamati.Alternative pengendalian :• Tanam serentak dengan selisih waktu kurang dari 10 hari.• Pemantauan pertanaman secara rutin dan pemusnahan kelompok telur dan ulat secara mekanis.• Penyemprotan dengan insektisida jika ambang kendali telah tercapai.• Penggunaan feromon seks untuk ulat grayak (6 perangkap per ha)• Pelepasan parasit Trchogramatoidea sp.• Penggunaan tanaman jagung sebagai perangkap yang ditanam secara tumpang sari.3. Penggerek polong (Heloverpa sp)Ambang Kendali :- Intensitas kerusakan baru mencapai lebih dari 2%.- Ditemukan 2 ekor ulat per rumpun pada tanaman yang berumur lebih dari 45 hstAlternative pengendalian :• Tanam serentak dengan selisih waktu kurang dari 10 hari• Pergiliran tanaman• Penyemprotan insektisida jika populasi mencapai ambang kendali• Penggunaan tanaman jagung sebagai perangkap dengan 3 jenis umur : genjah, sedang dan panjang4. Penghisap polong (Riptortus sp)Ambang kendali :- Pemantauan dilakukan umur 42-70 hst- Intensitas kerusakan lebih dari 2%- Ditemukan 1 pasang imago per 20 rumpun tanaman Alternative pengendalian:• Tanam serentak dengan selisih waktu kurang dari 10 hari• Pergiliran tanaman• Penyemprotan insektisida jika populasi mencapai ambang kendali