Loading...

Pengendalian Hama Terpadu Tikus Sawah

Pengendalian Hama Terpadu Tikus Sawah
PendahuluanTikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan hama utama tanaman padi dari golongan mamalia yang dapat menurunkan hasil produksi cukup tinggi. Pada umumnya, tikus sawah tinggal di pesawahan dan sekitarnya, mempunyai kemampuan berkembang biak sangat pesat. satu pasang ekor tikus mampu berkembang biak menjadi 1.270 ekor per tahun. Tikus mempunyai sifat-sifat yang berbeda dibandingkan dengan jenis hama utama padi lainnya. Oleh karena itu pengendalian hama tikus diperlukan pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan hama padi dari jenis serangga.Kerusakan dan penurunan hasil produksi padi sangat besar akibat dari serangan hama tikus dan susah untuk dikendalikan. Hal ini disebabkan tikus beraktifitas pada malam hari. Tikus dapat merusak secara langsung yaitu mencari makan pada saat tanaman sudah mulai berbuah pada fase vegetatif tikus merusak batang tanaman padi hanya untuk mengasah gigi depannya. Kerusakan yang ditimbulkan oleh hama tikus dapat dilihat pada batang padi yang terpotong dan membentuk sudut 45º serta masih mempunyai sisa bagian batang yang tak terpotong. cepatnya peningkatan populasi tikus akan meningkatnya kerusakan tanaman yang begitu berat hingga menurunkan hasil produksi secara drastis, sampai saat ini belum ada yang berhasil secara konsisten dan efektif.Pengendalian Hama Tikus TerpaduBerdasarkan hasil penelitian merekomendasikan alternatif pendekatan pengendalian hama tikus sawah yang telah terbukti efektif yaitu Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT). Pada dasarnya pengendalian hama tikus sawah adalah usaha untuk menekan populasi tikus serendah mungkin dengan berbagai metode dan teknologi.Pengndalian hama tikus secara terpadu pelaksanaannya didasarkan pada pemahaman biologi dan ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif dan terus menerus dengan memanfaatkan semua teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Pengendalian difokuskan 2 minggu sebelum dan sesudah tanam agar tikus tidak sawah tidak sempat memasuki periode perkembang biakan yang terjadi pada setiap stadia generatif tanaman padi.Teknis pengendalian(1) Kultur teknisPengendalian secara kultur teknis diintegrasikan dengan budidaya padi. Metode ini bertujuan mengkondisikan lingkungan sawah, yang merupakan rumah bagi tikus sawah, agar kurang mendukung kelangsungan hidup dan reproduksinya. Beberapa teknik yang dapat dilaksanakan meliputi :a. Tanam dan panen sermpakDalam satu hamparan diusahakan tanam serempak, atur agar waktu selisih tanam tidak lebih dari 1 minggu dengan tujuan untuk membatasi ketersediaan pakan bagi tikus sawah sehingga tidak mampu berkembangbiak.b. Pengaturan pola tanamPada daerah endemik yang dicirikan dengan adanya serangan tikus pada setiap musim tanam, pola tanam padi-padi-bera-padi-padi-palawija, atau padi-palawija-padi dianjurkan untuk dilakukan. c. Pengaturan jarak tanamPetak sawah yang terserang hama tikus adalah rusak pada bagian tengah petakan. Pada serangan berat daerah tersearng dapat meluas sampai ke tepi petakan dan hanya menyisakan 1-2 baris tanaman padi di pinggir petakan. penanaman dengan sistem tanam jajar legowo, adanya lorong panjang terbuka, tikus kurang suka karena memungkinkan lebih mudah diketahui oleh predatornya.(2) Sanitasi habitat atau lingkunganPada awal tanam, dilakukan pembersihan gulma, semak, tempat bersarang dan habitat tikus seperti batas perkampungan, tanggul irigasi, pematang, tanggul jalan, parit, dan saluran irigasi. Selain itu ukuran pematang diminimalisasi (tinggi dan lebar < 30 cm) untuk mengurangi tempat tikus berkembang biak. Dengan sanitasi habitat sementara tikus akan kehilangan tempat berlindung, tempat membuat sarang dan pakan alternatif.(3) Fumigasi (pengemposan massal)Dilakukan serentak pada awal tanam dengan melibatkan seluruh petani menggunakan alat pengempos. Setelah pengemposan lakukan penutupan lubang tikus rapat-rapat dengan menggunakan tanah/lumpur agar tikus tidak dapat keluar dan mati bersama anak-anaknya. Selain itu penutupan lubang juga dimaksudkan agar struktur tanah pematang/tanggul, irigasi tidak menjadi rusak. Fumigasi dilakukan sepanjang areal pertanaman terutama pada stadia generatif.(4) Penerapan TBSTrap barrier system (TBS) atau system bubu perangkap terutama di daerah endemik tikus dengan pola tanam serempak.TBS terdiri dari:• Tanaman perangkap yaitu tanaman padi ditanam 3 minggu lebih awal berukuran 25 x 25 m untuk 10-15 ha• Pagar plastic atau terpal setinggi 60 cm yang ditegakkan dengan ajir bambu dengan bawahnya terendam air• Bubu perangkap dipasang pada setiap sisi TBS dibuat dengan ram kawat dengan ukuran 20 cm x 20 cm x 50 cm dilengkapi pintu masuk berbentuk corong dan pintu untuk mengeluarkan tangkapan tikus.(5) Penerapan LTBSLinier Trap Barrier Sistem (LTBS) atau system bubu perangkap linier merupakan bentangan pagar plastik minimal sepanjang 100 m tanpa tanaman perangkap dilengkapi dengan bubu perangkap. Bubu perangkap dipasang secara berselang seling sehingga bias menangkap dari dua arah (habitat dan sawah) pada saat bera, olah tanah, dan 1 minggu setelah tanam. Setelah tanaman padi rimbun bubu perangkap dipasang dengan mulut corong perangkap menghadap habitat tikus. Pemasangan LTBS dilakukan di dekat habitat tikus seperti tepi kampung, sepanjang tanggul irigasi dan tanggul jalan.(6) Penggunaan Pestisida NabatiAda beberapa jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan pestisida nabati. Salah satu tanaman yang digunakan untuk mengendalikan hama tikus pada padi sawah adalah menggunakan buah Cabai (Capsicum annum), Cabai mengandung minyak atsiri, piperin dan piperidin yang berfungsi sebagai repellent dan mengganggu preferensi makan hama.Pembuatan pestisida nabati dengan cabai yaitu:Cabai ditumbuk halus kemudian direndam selama semalam. Kemudian disaring dan dapat langsung disemprotkan pada tanaman padi, sehingga hama tikus menjadi berkurang nafsu makannya, dan masih banyak lagi buah tanaman yang dapat dibuat pestisida penghalau tikus. BPP Kec. Bulukerto 2018