Loading...

pengendalian hama tikus di kelompok tani tani sentosa desa paron kecamatan paron kabupaten ngawi

pengendalian hama tikus di kelompok tani tani sentosa  desa paron kecamatan paron kabupaten ngawi
tikus merupakan hama penting pada tanaman padi di indonesia. hama ini harus diperhatikan khusus. potensi kerusakan tanaman padi oleh hama tikus di indonesia cukup besar, yakni mencapai 20% per tahun. serangan hama tikus bisa terjadi pada semua fase, mulai dari persemaian hingga panen. seringkali petani padi dibuat tak berdaya oleh binatang pengerat ini karena pengendalian hama tikus lebih sulit dilakukan dibandingkan dengan pengendalian hama padi lainnya. usaha untuk mengendalikan tikus ini sudah banyak dilakukan oleh para petani, mulai dari fisik, cara hayati, sanitasi, kultur teknik, mekanik dan kimia. tetapi diakui, bahwa dengan cara pengendalian itu belum optimal, sehingga harapan untuk menekan populasi tikus sangatlah sulit. pengendalian hama tikus ini akan terlaksana dengan baik bila petani mempelajari konsep dasarnya dan menguasai berbagai cara pengendalian ke dalam suatu program yang sesuai dengan jenis organisme pengganggu dan ekosistem pertanian di tempat tersebut. sebelum melangkah pada usaha pengendalian tikus sawah, sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu biologis dan ekologi tikus, sehingga petani akan lebih mudah mengidentifikasi untuk selanjutnya melakukan pengendalian. pada umumnya, tikus sawah (rattus orgentiventer) tinggal di pesawahan dan sekitarnya, dan perkebangbiakan tikus sangatlah cepat. jika secara teori, tikus berkembang biak menjadi 1.270 ekor per tahun dari satu pasang ekor tikus. hal ini menggambarkan betapa pesatnya populasi tikus dalam setahun. perkembangan tikus banyak dipengaruhi faktor lingkungan, terutama ketersediaannya sumber makanan dan populasi tikus akan meningkat berkaitan dengan puncak pada masa generatif. tikus biasanya sangat aktif pada malam hari dan kegiatan hariannya sangat teratur mulai dari mencari makanan, minum dan mencari pasangan. untuk menghindari dari lingkungan yang tidak menguntungkan, tikus membuat sarang pada daerah yang lembab, berdekatan dengan sumber air dan makanan seperti di batang pohon, sela-sela batu, tanggul, jalan kereta api, dan perbukitan yang kecil. pada umumnya, tikus sawah selain melakukan aktivitasnya di sawah, juga dapat melakukan aktivitasnya di rumah. beberapa cara yang digunakan petani untuk mengendalikan hama tikus adalah : tanam dan panen serempak dalam 1 hamparan sanitasi habitat gerakan bersama ( gropyokan massal ) fumigasi / pengemposan trap barrier system (tbs) linier trap barrier system (ltbs) memanfaatan musuh alami pengendalian hama tikus secara kimiawi yaitu pengendalian menggunakan pestisida kimia khusus untuk tikus, yaitu rodentisida. cara pengendalian lokal lainnya seperti bunyi-bunyian atau pemberian bau-bauan yang menyengat di areal lahan. kelompok tani tani sentosa merupakan kelompok tani yang berada di dusun sukorejo desa paron kecamatan paron. kelompok tani tani sentosa memiliki luas lahan sawah 70 ha dan luas lahan darat seluas 12 ha. berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh kelompok tani tani sentosa banyak serangan hama tikus yang menyerang lahan. popt dan ppl wilayah binaan bin desa paron melakukan pengamatan dan identifikasi, hasil identifikasi terdapat lubang-lubang jalur tikus di tanggul irigasi, jalan sawah, batas perkampungan, pematang, parit, saluran irigasi, di pinggir jalan, dll. berdasarkan identifikasi tersebut maka di lakukan adalah sanitasi habitat, gerakan bersama (gropyokan massal), dan dengan cara fumigasi dengan melibatkan pihak-pihak terkait yang antara lain adalah dari dinas pertanian, bpp kecamatan paron, popt, polsek paron, koramil paron, dan terutama anggota kelompok tani tani sentosa. berikut adalah kegiatan pengendalian hama tikus yang dilakukan secara bersama-sama antara kelompok tani tani sentosa dengan pihak-pihak terkait : sanitasi habitat. yaitu dengan cara membersihkan gulma dan semak-semak pada habitat utama tikus yang meliputi tanggul irigasi, jalan sawah, batas perkampungan, pematang, parit, saluran irigasi, dll. juga dilakukan minimalisasi ukuran pematang (tinggi dan lebat pematang) kurang 30 cm agar tidak digunakan sebagai tempat bersarang. gerakan bersama (gropyokan massal). gerakan ini dilakukan serentak pada awal tanam melibatkan seluruh petani. gunakan berbagai cara untuk menangkap/membunuh tikus seperti penggalian sarang, pemukulan, penjeratan, pengoboran malam, perburuan dengan anjing, dan sebagainya. fumigasi / pengemposan. fumigasi dapat efektif membunuh tikus dewasa beserta anak-anaknya di dalam sarang. agar tikus mati, tutuplah lubang tikus dengan lumpur setelah difumigasi dan sarang tidak perlu dibongkar. lakukan fumigasi selama masih dijumpai sarang tikus terutama pada stadium generatif padi. yang perlu diwaspadai adalah populasi tikus yang masih hidup, karena akan terus berkembang biak dengan pesat selama musim tanam padi. disamping itu monitoring keberadaan dan aktivitas tikus sangat penting diketahui sejak dini agar usaha pengendalian dapat berhasil. cara monitoring antara lain dengan melihat lubang aktif, jejak tikus, jalur jalan tikus, kotoran atau gejala kerusakan tanaman. dan tidak kalah pentingnya adalah mewaspadai terhadap kemungkinan terjadinya migrasi (perpindahan tikus) secara tiba-tiba dari daerah lain dalam jumlah yang besar. referensi : anonim,2018. teknik-teknik pengendalian hama tikus sawah. (http://dintanpangan.temanggungkab.go.id/home/berita/124/teknik-pengendalian-hama-tikus-sawah) diakses pada tanggal 14 september 2019. anonim, 2018. pengendalian hama tikus terpadu. (bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/berita/info-teknologi/content/104-pengendalian-hama-tikus-terpadu) diakses pada tanggal 27 september 2019. anonim, 2018. pengendalian hama tikus di lahan sawah. (http://sulsel.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/publikasi/panduan-petunjuk-teknis-leaflet/89-pengendalian-hama-tikus-di-lahan-sawah). bptp balingbangtan. sulawesi selatan. diakses pada tanggal 27 september 2019. penulis : nunus widiyatmoko, sp, penyuluh bpp kecamatan paron kabupaten ngawi