Loading...

Pengendalian Hama Tikus pada Tanaman Padi

Pengendalian Hama Tikus pada Tanaman Padi

Pengendalian Hama Tikus pada Tanaman Padi

Hama tikus merupakan salah satu penyebab utama kehilangan hasil pada tanaman padi. Dibandingkan dengan jenis Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) lainnya, serangan tikus sawah sering menimbulkan kerugian produksi yang paling tinggi. Serangan ini bersifat berulang dari waktu ke waktu, dan pada tingkat serangan berat tanaman padi dapat mengalami puso (gagal panen).

Ciri-Ciri, Daur Hidup, dan Kebiasaan Tikus Sawah

  1. Tikus sawah bersifat nokturnal (aktif pada malam hari), tidak tahan terhadap panas, namun memiliki daya tahan yang baik terhadap air.

  2. Menyukai makanan berkarbohidrat dan habitat yang bersemak, berbatu, serta berair — biasanya terdapat banyak lubang yang dapat dijadikan tempat tinggal.

  3. Mampu mencari makanan hingga radius ±1 km, dan dapat berenang sejauh ±1,5 km.

  4. Dalam satu tahun, seekor tikus betina dapat melahirkan hingga empat kali.

  5. Tikus dewasa mulai siap berkembang biak pada umur 2 bulan, dan dapat melahirkan pada umur 3 bulan dengan rata-rata 8 anak per kelahiran.

  6. Sehari setelah melahirkan, induk betina sudah dapat kembali kawin.

  7. Anak tikus sudah dapat menimbulkan kerusakan tanaman (menjadi hama) pada umur 3 minggu.

Konsep Pengendalian Hama Tikus secara Terpadu (PHT)

Agar pengendalian hama tikus berjalan efektif, perlu diterapkan Konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang mencakup tiga aspek utama berikut:

  1. Pendekatan Ekologis, meliputi penerapan pola tanam yang serempak, panen bersamaan, serta menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan sawah.

  2. Pendekatan Non-Ekologis, melalui penggunaan umpan beracun, fumigasi (pengasapan atau pengemposan), serta kegiatan gropyokan.

  3. Pengamatan Lapangan, dengan melakukan pemantauan populasi tikus pada masa bero dan deteksi dini serangan di lahan pertanaman.

Tahapan dan Cara Pengendalian Berdasarkan Fase Tanam

  1. Masa Bero (Tanah Kosong):
    Tikus biasanya tidak tinggal di sawah, melainkan di tempat yang aman dari gangguan manusia. Mereka mencari makan hingga jarak yang cukup jauh. Pengendalian efektif dilakukan dengan memasang umpan beracun di jalur lintasan dan sarang tikus.

  2. Fase Persemaian:
    Tikus sering menyerang persemaian untuk mencari makanan. Pengendalian dilakukan dengan pemasangan umpan beracun di luar areal persemaian disertai sanitasi lingkungan agar tikus tidak bersarang di sekitar lokasi.

  3. Fase Vegetatif (Tanaman Muda):
    Pada fase ini, tikus merusak tanaman untuk mendapatkan karbohidrat dan mengasah giginya yang terus tumbuh. Pengendalian dilakukan dengan pemasangan umpan dan pembersihan semak di sekitar lahan.

  4. Fase Pembungaan:
    Saat tanaman berbunga, populasi tikus meningkat karena ketersediaan makanan melimpah. Mereka membuat sarang di pematang atau sekitar sawah untuk berkembang biak. Pengendalian dilakukan dengan fumigasi atau pengemposan sarang serta sanitasi area sawah untuk mengganggu aktivitas kawin dan perkembangbiakan tikus.

  5. Pasca Panen (3–5 Hari Setelah Panen):
    Tikus masih berada di pematang untuk merawat anak-anaknya sambil memakan cadangan makanan di liang. Pengendalian efektif dilakukan dengan gropyokan massal, pengemposan belerang, pembongkaran sarang tikus, dan pembersihan area sawah.

 

6 Januari 2025,

Penulis:

Tim BPP Abung Timur, Kab. Lampung Utara