Loading...

PENGENDALIAN HAMA TIKUS SAWAH

PENGENDALIAN HAMA TIKUS SAWAH
Salah satu jenis hama yang cukup menimbulkan kerugian dalam usaha budidaya pertanian adalah tikus. Gangguan hama tikus ini sudah dimulai sejak dari persemaian hingga pada hasil pertaniaan yang sudah di simpan didalam gudang. Hama tikus dapat dengan cepat berkembang terutama bila mata rantai makanannya tidak terputus dan hama tikus juga mempunyai kemampuan untuk beradaptasi bilamana rantai makanannya terputus dengan alternatif rantai makanan lainnya. Serangan hama tikus hampir menimpa di seluruh propinsi di Indonesia. Dampaknya usaha budidaya pertanian yang dilakukan di sebagian besar wilayah Indonesia tidak mencapai hasil optimal. POLA MAKAN HAMA TIKUS Hama Tikus memiliki sifat pemakan segala tidak hanya padi hama tikus juga menyerang berbagai macam hasil pertanian seperti jagung, kedelai, ubi kayu, ubi jalar, tebu, kelapa dan tanaman hasil pertaniaan lainnya. Bila mana tidak tersedia cukup makanan tikus dapat memakan apa saja, yang terpenting bagi tikus adalam pemenuhan kebutuhan karbohidrat. Adakalanya tikus juga akan memakan jenis-jenis serangga, siput, bangkai ikan dan makanan hewan lainnya. Makanan jenis hewan dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan akan protein dan hampir seluruh waktu yang digunakan untuk makan yaitu pada malam hari. Beberapa jenis Hama tikus yang dikenal merusak usaha budidaya pertaninan adalah Rattus argentiventer, Rattus-rattus diardi, Rattus exultant dan Rattus norvegikus. Dua jenis tikus yang pertama disebutkan dapat merusak usaha budidaya pertanian dari mulai proses penanaman benih hingga hasil jadi produk pertaninan yang disimpan di dalam gudang. MARFOLOGI TIKUS SAWAH ( Rattus argentiventer) Tubuh hama tikus ini umumnya berwarna kelabu gelap dengan dada berwarna keputihan. Panjang Badannya tikus sawah dari hidung sampai ujung ekor berkisar 270 -370 mm dengan berat sekitar 130 gr. Panjang ekor sama atau lebih pendek dari panjang badan. Tikus sawah mempunyai 6 pasang puting susu yang terletak dikiri dan kanan pada bahagian perut memanjang sepanjang badan. Tikus sawah dapat berkembang biak mulai pada umur 1,5 – 5 bulan setelah kawin, masa bunting memerlukan waktu 21 hari. Seekor tikus betina dapat melahirkan 8 ekor anak setiap melahirkan, dan mampu kawin lagi dalam tempo 48 jam setelah melahirkan serta mampu hamil dan menyusui dalam waktu bersamaan. Selama satu tahun satu ekor betina dapat melahirkan sampai 4 kali, sehingga dalam satu tahun dapat melahirkan sampai 32 ekor anak. Seekor tikus betina dapat bunting sebanyak 6- 8 kali dan perkehamilan bisa melahirkan sekitar 10 ekor sehingga satu ekor tikus betina berpotensi berkembang biak hingga 80 ekor per satu musim tanam. MARFOLOGI TIKUS ( Rattus Exuitant ) Tikus ini hidup di semak-semak, padang rumput dan huma. Tubuhnya sedikit lebih kecil dari tikus sawah. Panjang badannya dari hidung sampai ujung ekornya berkisar antara 220-285 mm. Panjang ekor sama atau lebih panjang dari badannya. Puting susunya adalah 2 pasang dikiri dan dikanan sehingga puting susu berjumlah delapan. Tikus semak pandai memanjat, bahagian atas badannya warna kelabu dan bahagian bawahnya berwarna putih kelabu. Tikus ini sering didapat disemak-semak, dirumah dan dipinggir-pinggir hutan namun kurang suka didaerah banyak air. Tikus dapat menyerang beberapa jenis tanaman seperti padi, kacang tanah, kedelai, ubi kayu, ubi jalar, tebu, kelapa. Tetapi tanaman yang sering diserang dan paling disenangi ialah padi. Serangan pada tanaman padi memperlihatkan pada bahagian batangnya terpotong. Bila serangan hama ini terjadi pada fase vegetatif seekor hama tikus dapat merusak tanaman antara 11-176 batang padi/malam. Pada saat bunting kemampuaan merusak meningkat menjadi 24-246 batang /malam. Besarnya kerugiannya yang disebabkan oleh tikus ditentukan oleh banyaknya anakan yang gagal menghasilkan malai masak pada waktu panen. Pengendalian Hama tikus Beberapa penyebab hama tikus terus menyerang tanaman padi setiap tahun dibeberapa daerah di Indonesia : • Pengendalian Hama tikus yang dilakukan petani berjalan sendiri-sendiri• Monitoring yang lemah terhadap hama• Terlambat melakukan pengendalian dan pengendalian sering tidak berkelanjutan Kurangnya pemahaman terhadap hama tikus dan informasi teknologi dalam memberantas hama ini. Membunuh seekor tikus betina pada waktu tanam sama dengan membunuh 80 ekor tikus setelah berkembang biak. Oleh karena itu dalam mengendalikan hama tikus diperlukan suatu strategi dengan metode konsep pengendalian hama terpadu yaitu memamfaatkan semua teknik yang kompatibel dalam suatu sisitim yang harmonis untuk mempertahankan populasi dibawah batas ambang ekonomi. Beberapa cara pengendalian yang dipadukan dalam satu strategi pengendalian hama terpadu. yaitu sbb : • Sanitasi lingkungan , membersihkan semak-semak dan rerumputan, membongkar liang serta sarang serta tempat perlindungan lainnya. Dengan lingkungan yang bersih tikus merasa kurang mendapatkan perlindungan.• Fisik dan mekanis : dengan pukulan, diburu dengan anjing, menggunakan perangkap, penggunaan pagar plastik. Cara ini biasanya lebih berhasil apabila dilaksanan secara massal atau gropyokan. Gropyokan dapat dilakukan bila padi sawah telah dipanen atau saat sawah sedang tidak ditanami ataupun sedang bera. Pada saat dilakukan kegiatan ini liang-liang tikus dibongkar dan tikusnya dibunuh. Pengunaan pagar plastik khususnya dilakukan pada persemaian padi. Dengan metoda ini diharapkan tikus tidak dapat masuk kedalam persemaian, dan hasilnya lebih baik bila dikombinasikan dengan pemasangan perangkap.• Pengaturan waktu tanam, dianjurkan untuk Penanaman yang serentak dan diupayakan keserentakan pada saat bunting dan bermalai.• Penggunaan bahan kimia, pemasangan umpan beracun dengan rodentisida antikogulan pada saat berangkat hingga menjelang padi bunting. • Pengumpanan dihentikan apabila padi sudah bunting.• Pengemposan dengan asap beracun (belerang)atau pembakaran karbit pada mulut liang tikus dengan pompa kompor. pengemposan dilakukan pada saat bunting atau padi bermalai. Syarat pengendalian hama tikus, yaitu : - serempak meliputi areal yang luas. - massal yaitu mengikuti semua pihak. - berulang kali sampai populasi tidak lagi menimbulkan kerugian. TBS (Trap Barrier System) TBS atau sistem bubu perangkap adalah teknik pengendalian tikus yang mampu menangkap banyak tikus sawah terus menerus selama musim tanam (sejak tanam hingga panen). TBS dianjurkan untuk digunakan pada daerah endemik tikus yaitu wilayah yang populasi tikusnya selalu tinggi sehingga terjadi serangan tikus pada setiap musim tanam.Trap Barrier System atau sistim perangkap bubu terdiri dari dari 3 komponen utama. Pertama adalah bubu perangkap yang berfungsi sebagai pengumpul tikus yang tertangkap. Kedua adalah pagar plastik yang berfungsi mengarahkan tikus memasuki lubang tertentu tempat bubu perangkap dipasang. Sedangkan tanaman perangkap berfungsi sebagai penarik (attractant) agar tikus bergerak ke lahan penangkapan TBS. Petak tanaman perangkap berguna untuk melindungi serangan tikus terhadap areal sekelilingnya. Makin besar petak tanaman perangkap makin besar jumlah tikus yang tertangkap. Hal ini terjadi karena tikus tertarik untuk menuju tanaman perangkap sehingga terperangkap oleh bubu perangkap. Keunggulan TBS ini adalah mampu menangkap tikus dalam jumlah besar, sehingga populasi tikus disekitar TBS menjadi rendah, hemat tenaga, dan efektif menangkap tikus secara terus menerus pada daerah endemis serta dapat mengatasi migrasi tikus sawah. Penulis : ENING SUPRIHATININGSIH, SP (BPP Sidorejo, Kab. Magetan)