Tikus merupakan salah satu hama yang menyerang dalam setiap fase pertumbuhan tanaman. Dengan demikian perlu diketahui saat yang tepat untuk melakukan pengendalian sehingga menghasilkan efek yang besar bagi penurunan populasi tikus serta penurunan intensitas serangan tikus pada pertanaman. Tikus merupakan hewan mammalia dengan seluruh bagian tanaman padi sebagai pangan pokoknya. Hewan ini mempunyai kemapuan reproduksi yang cepat dalam satu kali tanam, satu pasang tikus dapat menghasilkan 80 ekor keturunan tikus. Tikus mulai kawin pada saat tanaman umur 45 hari setelah tanam. Pada saat tanaman berumur 65 hari tikus tersebut melahirkan anakan pertama dengan rata-rata sepuluh dengan perabndingan anakan jantan dan betina 1: 1 atau dari sepuluh anakan tersebut diperoleh 5 pasangan tikus baru. Pada 80 hst sepasang tikus tersebut sudah beranak lagi untuk yang kedua kalinya dengan menghasilkan 10 anakan. Peranakan yang ketiga terjadi pada saat tanaman umur 110 hst. Pada saat sepasang indukan tersebut melahirkan anakan ke tiga, 5 pasang anakan pertama telah siap beranak sehingga pada saat panen telah terdapat 30 anakan dari sepasang indukan dan 50 cucu dari indukan sehingga telah terdapat 80 ekor keturunan dari sepasang indukan tersebut. Pada fase bero atau setelah panen, tikus dapat dilakukan dengan menggunakan metode sanitasi habitat, gropyokan massal, umpan, bubu tikus maupun perangkap tikus.pada fase ini tikus dapat lincah bergerak karena tidak ada halangan tanaman namun demikian persembunyian tikus hanya di liangnya saja dan bukan diantara tanaman padi. Pengolahan tanah memberikan keleluasaan pada tikus dikarenakan pangkal batang padi telah terbenam ke dalam tanah sehingga hewan nocturnal ini lebih banyak berada di liang. Dengan demikian pengendalian yang tepat dilakukan dengan sanitasi habitat, gropyokan massal, fumigasi, bubu tikus, dan tanaman perangkap. Pada fase persemaian, pengendalian dengan tanam serempak merupakan cara pengendalian tikus yang paling jitu. Pengendalian dengan gropyokan massal dan sanitasi habitat yang tepat akan sangat mendukung dalam menekan perkembangbiakan tikus di ekosistem persawahan. Pada masa vegetative atau pembentukan anakan tanaman padi p[engendalian secara gropyokan sudah tidak efektif walaupun petani sering melakukan gropyokan pada fase ini. Pada fase ini pengendalian yang tepat adalah dengan menggunakan LTBS (Linear Trap Barrier System) berupa bentangan pagar plastik setinggi 60 sampai 70 cm di sepanjang tanaman padi. Pemasangan dilakukan dengan 20 m secara selang-seling agar mampu menangkap tikus dari arah habitat dan sawah. Pemasangan dirancang sesuai dengan pergerakan tikus dari liang menuju tempat makan makan. Pemasangan LTBS diantara sawah dan habitat tikus, seperti tepi kampung, tanggul irigasi, dan tanggul jalan. Metode ini efektif untuk mengendalikan migrasi tikus dengan membentangkan LTBS dan memasang bubu perangkap memotong jalus migrasi. Pada masa tanaman bunting, pengendalian yang tepat adalah sanitasi habitat, fumigasi dan LTBS. Sanitasi habitat yang bias dilakukan dengan pembersihan saluran irigasi, pematang, semak-semak, sehingga tikus kehilangan tempat untuk bersembunyi. Pada masa generatif dan mendekati panen pengendalian dapat dilakukan dengan fumigasi. Sedangkan ketika musim panen pengendalian yang paling tepat dilakukan dengan pemanenan secara bersama-sama.