Loading...

PENGENDALIAN HAMA TIKUS TERPADU (PHTT) DI TANAMAN PADI SAWAH

PENGENDALIAN HAMA TIKUS TERPADU (PHTT) DI TANAMAN PADI SAWAH

Tikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan hama utama penyebab kerusakan padi di Indonesia. Rata-rata tingkat kerusakan tanaman padi mencapai 20% per tahun. Serangan tikus sawah terjadi sejak pesemaian hingga panen, bahkan dalam gudang penyimpanan padi. Pengendalian tikus sawah relatif lebih sulit karena sifat biologi dan ekologinya yang berbeda dibanding hama padi lainnya. Tidak hanya di Indonesia, tikus sawah juga dilaporkan sebagai hama utama tanaman padi di beberapa negara Asia Tengggara seperti Thailand, Kamboja, Vietnam, Malaysia, dan Filipina (Singleton 2003; Aplin et al. 2003). Dalam periode 2011-2015, tingkat serangan hama tikus pada tanaman padi di Indonesia rata-rata mencapai 161.000 ha per tahun (Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 2015). Angka kerugian tersebut setara dengan kehilangan 620 juta kg beras yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan lebih dari 6 juta penduduk selama satu tahun. Pusdatin Pertanian (2018) mencatat bahwa tikus sawah adalah hama utama tanaman padi dengan tingkat serangan puso tertinggi. Luas serangan tikus sawah di Indonesia mencapai 66.087 ha/th dengan 1.852 ha diantaranya mengalami puso.

Ciri khas serangan tikus sawah adalah kerusakan tanaman dimulai dari tengah petak, kemudian meluas ke arah pinggir, sehingga pada keadaan serangan berat hanya menyisakan 1-2 baris padi di pinggir petakan. 

Tikus sawah digolongkan dalam kelas vertebrata (bertulang belakang), ordo rodentia (hewan pengerat), famili muridae, dan genus rattus. Tubuh bagian punggung berwarna coklat kekuningan dengan bercak-bercak hitam di rambutrambutnya, sehingga secara keseluruhan tampak berwarna abu-abu. Bagian perut berwarna putih keperakan atau putih keabu-abuan. Tikus betina memiliki 12 puting susu (6 pasang). Indera pengecap tikus sawah berkembang baik sehingga mampu mendeteksi rasa pahit, racun, dan enak/tidaknya suatu pakan. Tikus sawah mempunyai kemampuan reproduksi yang tinggi. Periode perkembang-biakan hanya terjadi pada saat tanaman padi periode generatif. Dalam satu musim tanam padi, tikus sawah mampu beranak hingga 3 kali dengan rata-rata 10 ekor anak per kelahiran. Tikus betina relatif cepat matang seksual (±1 bulan) dan lebih cepat daripada jantannya (±2-3 bulan). Masa kebuntingan tikus betina sekitar 21 hari dan mampu kawin kembali 24-48 jam setelah melahirkan (post partum oestrus). Terdapatnya padi yang belum dipanen (selisih hingga 2 minggu atau lebih) dan keberadaan ratun (Jawa : singgang) terbukti memperpanjang periode reproduksi tikus sawah. Dalam kondisi tersebut, anak tikus dari kelahiran pertama sudah mampu bereproduksi sehingga seekor tikus betina dapat menghasilkan total sebanyak 80 ekor tikus baru dalam satu musim tanam padi.

Habitat tikus sawah adalah agroekosistem sawah dan lingkungan di sekitarnya. Tikus sawah bersarang pada lubang di tanah yang digalinya (terutama untuk reproduksi dan membesarkan anaknya) dan di semak-semak (habitat pelarian). Tikus bersembunyi di dalam lubang pada tanggul-tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampungan dekat sawah.

Berikut beberapa Strategi PHTT yang bisa diterapkan yaitu

1.    Kegiatan pengendalian diprioritaskan pada awal musim tanam, dilakukan petani secara bersama-sama dan terkoordinir dalam skala hamparan, intensif dan berkelanjutan dengan menerapkan kombinasi teknik pengendalian yang sesuai.

2.    Untuk tikus lokal, pengendalian intensif dilakukan sebelum periode aktif perkembangbiakan tikus sawah yang bertepatan dengan stadia padi generatif.

3.    Untuk tikus migran yang berasal dari tempat lain, pengendalian intensif dilakukan sebelum tikus mencapai pertanaman di lokasi target pengendalian. Misalnya dengan pemasangan LTBS memotong arah migrasi, atau fumigasi dan gropyok massal di lokasi asal tikus.

 Adapun Tindakan Pengendalian yang dapat dilakukan yaitu

1.    Wilayah endemik yang selalu terjadi serangan setiap musim tanam → lakukan pengendalian intensif berkelanjutan terutama 2 minggu sebelum dan sesudah tanam.

2.    Wilayah sporadik yang kadang-kadang terjadi serangan → lakukan monitoring intensif untuk memantau dan menekan poluasi awal. Misalnya dengan penerapan TBS tanam awal di habitat tikus seperti tepi kampung, tanggul irigasi, pematang besar, dan tanggul jalan.

3.    Wilayah aman serangan tikus → lakukan monitoring dengan memperhatikan tanda-tanda keberadaan tikus, seperti jejak kaki (footprint), lubang aktif, dan gejala serangan/kerusakan tanaman. Kegiatan pengendalian tikus dilakukan sesuai dengan stadia pertumbuhan padi dari masa bera, olah tanah, semai, tanam, bertunas, bunting dan matang. 

A.   Bera pratanam

Lakukan sanitasi habitat, gropyok atau fumigasi massal, penggunaan LTBS, dan pemakaian rodentisida apabila populasi tikus tinggi.

1.    Sanitasi habitat. Merupakan Pembersihan habitat tikus seperti tepi kampung, tanggul irigasi, tanggul jalan, pematang, dan saluran irigasi. Lebar dan tinggi pematang dibuat < 30 cm agar tidak digunakan tikus untuk membuat lubang sarangnya.

2.    Gropyok Massal. Beragam cara tangkap tikus, penggalian dan penggenangan lubang aktif, perburuan dengan anjing, ngobor malam, penjeratan, pemukulan, penjaringan, dan lain-lain dengan melibatkan seluruh petani dalam hamparan.

3.    Fumigasi / Pengemposan. Fumigasi efektif membunuh tikus beserta anak-anaknya dalam lubang sarang. Tutup lubang tikus dengan lumpur setelah difumigasi dan sarang tidak perlu dibongkar.

4 . Penerapan LTBS (Linear Trap Barrier System). LTBS berupa bentangan plastik / terpal setinggi 60-70 cm, ditegakkan dengan ajir bambu setiap 1 m, dipasang bubu perangkap setiap 20 m berselang-seling arah corong masuknya. Dipasang di antara habitat tikus dengan sawah atau memotong arah migrasi tikus.

5.    Rodentisida. Pengumpanan hanya dilakukan apabila populasi tikus sangat tinggi, terutama pada saat awal tanam atau bera. Penggunaan rodentisida harus sesuai dosis anjuran. Umpan ditempatkan di habitat utama tikus, seperti tanggul irigasi, jalan sawah, pematang besar, atau tepi perkampungan.

B.   Pengolahan Tanah

   Saat olah lahan, fokuskan untuk melakukan tindakan pengendalian dengan sanitasi habitat, gropyok massal, penggunaan TBS tanam awal dan LTBS. Pengumpanan rodentisida masih dapat dilakukan.

C.   Pesemaian

    Lakukan sanitasi habitat, gropyok massal, dan pemanfaatan pesemaian sebagai petak TBS dengan pemagaran plastik dan pemasangan bubu perangkap. 

D.   Tanam dan Panen Serempak

    Selisih waktu tanam dalam satu hamparan usahakan tidak lebih dari 2 minggu, agar pakan terbatas sehingga tikus tidak berkembangbiak terus menerus. 

E.   Penerapan TBS Tanam Awal (Trap Barrier System)

   Terutama di daerah endemik tikus dengan pola tanam serempak. TBS terdiri atas (i) tanaman perangkap untuk menarik kedatangan tikus, yaitu petak padi 25 m x 25 m yang ditanam 3 minggu lebih awal, (ii) pagar plastik untuk mengarahkan tikus agar masuk perangkap, berupa plastik/terpal setinggi 70-80 cm, ditegakkan ajir bambu setiap 1 m dan ujung bawahnya terendam air, (iii) bubu perangkap untuk menangkap dan menampung tikus, berupa perangkap dari ram kawat 20 cm x 20 cm x 40 cm dipasang pada setiap sisi TBS.

   Tindakan pengendalian selanjutnya, setelah pindah tanam, stadia anakan, hingga panen dilakukan sesuai tabel rekomendasi tindakan PHTT dengan metode yang telah dipaparkan di atas.