Pengendalian dilakukan berdasarkan prinsip dan strategi pengendalian hama terpadu (PHT). Khususnya pengendalian dengan pestisida merupakan pilihan terakhir bila serangan OPT berada diatas ambang ekonomi 1. Ulat grayak (Spodoptera litura) Ciri-ciri: Ulat grayak berupa ngenagt berwarna agak gelap dengan garis putih pada sayap depanya. Satu betina mampu bertelur sebanyak 2000 butir, diletakkan menjadi 4-8 kelompok telur, dan diletakkan dibawah daun. Telur dilapisi semacam beludru berwarna coklat kekuninan, telur akan menetas setelah 2-4 hari. Larva (ulat) yang baru saja menetas hidup berkelompok, tetapi setelah beberapa hari berpencar, aktif menyerang tanaman pada malam hari. Ulat yang baru saja menetas berwarna kehijau-hijauan dengan sisi samping coklat hitam. Sedangkan ulat yang sudah tumbuh sempurna berwarna hijau gelap dengan garis punggung gelap mamanjang, umur ulat 20-46 hari. Pupa berwarna coklat kemerah-merahan berukuran 1,5 cm, berada di dalam tanah atau pasir, umur pupa 8-11 hari. Daur hidup 30-61 hari. Gejala serangan: ulat merusak seluruh bagaian tanaman terutama daun dan polong. Daun yang terserang berlubang-lubang tidak beraturan. Pada tingkat serangan yang berat, daun tanaman dapat menjadi gundul. Pengendalian: (1) tanam serempak tidak lebih dari 10 hari, (2) pengumpulan kelompok telur dan ulat untuK dimusnahkan, (3) pemasangan lampu perangkap, (4) penggunaan insektisida mikrobia (agens hayati) misalnya SI-NPV (Spodoptera litura-Nuclear Polyhidrosis Virus), (5) penggunaan insektisida Ambush 2 EC, Cascade 50 EC, Decis 2,5 EC dengan konsentrasi semprot 2 cc/l, volume semprot 500 l/ha penyemprotan pada ambang kendali yaitu: a) pada saat tanaman berumur 0-10 hari, intensitas kerusakan 12,5%, b) pada saat tanaman berumur >20 hari, intensitas kerusakan 20%, c) ditemukan 10 ekor ulat per 10 tanaman pada fase vegetatif, d) ditemukan 13 ekor ulat per 10 rumpun pada fase pembungaan dan pembentukan polong, dan e) ditemukan 26 ekor ulat per 10 tanaman pada fase pengisian polong. Kutu kebul (Bemisia tabaci) Ciri-ciri: Sering disebut kutu putih atau kutu kebul, berwarna kuning keputih-putihan, rentangan sayap 1-1,5 mm. kutu dewasa berumur 6 hari. Satu betima dapat menghasilkan 60-125 butur telur dengan masa peletakan telur 12-21 hari, telur diletakkan pada daun bagian bawah dan menetas setelah 7 hari. Nimfa (telur yang baru menetas) berwarna keputihan dan terdapat di bagian bawah daun, panjang 1 mm. Gejala serangan: kutu dewasa dan nimfa merusak tanaman dengan cara menghisap cairan tanaman, seringkali menjadi vektor virus beberapa jenis tanaman. Pengendalian: (1) tanam serentak tidak lebih dari 10 hari, (2) pergilira tanaman bukan inang, (3) penanaman varietas tahan, misalnya Wilis, Lokon, dan Jayawijaya. (4) penggunaan insektisida Applaud 10 WP atau Confidor. 2. Kepik Coklat (Riptortus linearis) Bentuk tubuhnya sangat mirip dengan walang sangit, tetapi terdapat garis warna putih kekuningan memanjang pada bagian sisi samping kiri dan kanan tubuhnya. Panjang tubuhnya 11-14 mm. total umur nimfa (kepik muda) 23 hari. Telur diletakkan berkelompok pada bagaian bawah daun atau polong 3-5 butir. Telur bulat berwarna abu-abu dan berubah menjadi coklat suram. Diameter telur 1, 2 mm, dan menetas setelah 6-7 hari menjadu kepik muda dan kepik muda mirip semut hitam yang panjang tubuhnya 2-9 cm. perkembangan telur sampai dewasa sekitar 29 hari. Gejala serangan: kepik menusuk dan menghisap cairan biji, akibatnya polong gugur atau hampa, mengering, biji berbintik-bintik dan akhirnya menjadi busuk berwarna. Pengendalian: (1) tenam serentak tidak lebih dari 10 hari, (2) pergiliran tanaman bukan inang, (3) pengumpulan kepik dewasa ataupun nimfa untuk dimusnahkan, (4) menjaga kebersihan lahan dari gulma, (5) penggunaan insektisida Mipcin 50 EC dan insektisida lainnya dengan ambang kendali intensitas kerusakan polong > 2% atau terdapat sepasang kepik dewasa pada pertanaman kedelai, saat 45-50 hari setelah tanam. Yulia TS Sumber: 1. Dr.Adisarwanto,Budidaya kedelai dengan pemupukan yang efektif dan pengotimalan pe ran bintil akar. Cetakan Ke I Jakarta 2005. 2. Teknik Produksi Dan Pengembanga Kedelai, Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian 2007 3. Teknologi Budidaya Kedelai, Balai Besar Pengkajian dan pengembangan Teknologi Pertanian , Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian,2008