Pengendalian wereng batang coklat (WBC) dapat dilakukan melalui pengendalian terpadu yang mencakup metode preventif dan kuratif. Metode preventif meliputi penggunaan varietas padi tahan, penanaman serempak, dan teknik jajar legowo. Untuk pengendalian kuratif, bisa menggunakan insektisida kimia atau hayati, musuh alami, dan pestisida nabati.
Wereng Coklat (WB) – Nilaparvata lugens
→ Menurunkan hasil hingga puso, menularkan virus kerdil rumput & kerdil hampa.
Wereng Hijau (WH) – Nephotettix spp.
→ Vektor virus tungro.
Wereng Punggung Putih (WPP) – Sogatella furcifera
→ Menyerang pelepah dan batang.
Daun menguning → coklat → mengering seperti terbakar (hopperburn).
Tanaman rebah dan mati berkelompok.
Populasi meningkat cepat pada musim kemarau basah / kelembapan tinggi.
Daun menguning belang → tanaman tumbuh kerdil (gejala tungro jika terinfeksi virus).
Penggunaan varietas rentan secara luas dan berulang.
Bilamana pestisida kimia disemprot berlebihan, membunuh musuh alami.
Pemupukan nitrogen berlebih, membuat tanaman lebih lunak dan disukai wereng.
Tanam tidak serempak → inang tersedia terus menerus.
Perubahan iklim (kelembapan tinggi + curah hujan sedang).
Pengendalian wereng harus mengikuti Pengendalian Hama Terpadu (PHT):
Pengamatan rutin dan ambang kendali
Tanam varietas tahan
Pengendalian hayati
Budidaya/ kultur teknis
Pestisida kimia selektif sebagai pilihan terakhir
Lakukan pengamatan setiap 5–7 hari, terutama fase vegetatif–generatif awal.
Ambil 10 rumpun secara acak setiap 1 ha.
Hitung jumlah wereng pada bagian pangkal batang/lahan sekitar.
Catat fase pertanaman dan varietas.
≤ 200 ekor per rumpun → belum perlu disemprot.
200–500 ekor per rumpun → waspada, ulangi pengamatan 2–3 hari.
> 500 ekor per rumpun → perlu tindakan pengendalian.
Tanam serempak dalam satu hamparan (selisih ≤14 hari).
Gunakan bibit sehat, tidak terinfeksi virus.
Atur pemupukan N (jangan berlebih; rekomendasi sesuai petugas penyuluh).
Sanitasi lahan: bersihkan gulma inang dan jerami terinfeksi.
Pengairan bergantian (intermittent irrigation) untuk menekan populasi.
Rotasi varietas untuk menghindari adaptasi wereng.
Manfaatkan musuh alami wereng:
Laba-laba (Lycosidae)
Kepik Mirid (Cyrtorhinus lividipennis)
Capung & belalang sembah
Kumbang Paederus
Anagrus spp., Oligosita spp. (parasitoid telur wereng)
Prinsip: Jaga keanekaragaman musuh alami → hindari pestisida spektrum luas.
Varietas padi tahan wereng (tergantung rekomendasi lokal), misalnya:
Inpari 32, Inpari 33, Inpari 34,
Inpari 42 Agritan GS,
Ciherang Sub 1, dan varietas baru ber-gen tahan.
(Daftar bisa disesuaikan dinas pertanian setempat.)
Gunakan hanya jika melewati ambang kendali.
Pilih insektisida selektif agar tidak mematikan musuh alami.
Rotasi bahan aktif untuk mencegah resistensi.
(Pilih sesuai anjuran setempat & label)
Neonicotinoid
Imidakloprid, Tiametoksam, Dinotefuran
Pyrazole
Fipronil
Phenylpyrazole/others
BPMC (Fenobukarb)
Pyridine azomethine
Pymetrozine
Ivenmectin group
Abamektin (lebih ke nymph/instar muda)
Semprot dasar batang (pangkal rumpun).
Hindari mencampur banyak bahan aktif sekaligus.
Gunakan volume semprot cukup ±250–400 L/ha.
Lakukan rotasi bahan aktif tiap musim.
Jika terjadi hopperburn:
Potong bagian terserang berat.
Buang/benamkan di parit atau tumpukan kompos.
Aplikasikan insektisida sesuai rekomendasi.
Lakukan pengairan berselang untuk pemulihan.
Mendorong hamparan tanam serempak.
Pembatasan penggunaan pestisida sembarangan.
Pelatihan PHT rutin bagi petani.
Monitoring varietas dan populasi musuh alami
Ditulis oleh Albertus Widiono, S.P. (PPL Abung Surakarta)