Loading...

PENGENDALIAN KERING ALUR SADAP (KAS) PADA TANAMAN KARET

PENGENDALIAN KERING ALUR SADAP (KAS) PADA TANAMAN KARET
Penurunan produksi tanaman karet salah satunya disebabkan oleh Kering Alur Sadap (KAS) atau Tapping Panel Dryness (TPD) atau Brown Bast (BB). Kering alur sadap ditandai dengan tidak keluarnya lateks dari sebagian atau seluruh kulit tanaman karet. Produktivitas tanaman karet akan menurun seiring semakin banyaknya jumlah tanaman yang terkena sehingga mengakibatkan kerugian. Munculnya KAS dipicu oleh ketidakseimbangan antara regenerasi lateks di dalam pembuluh lateks dengan pengambilan melalui penyadapan. Gejala awal KAS ditandai dengan adanya koagulasi lateks dan pembentukan sel tilasoid, sedangkan secara visual ditandai dengan tidak keluarnya lateks beberapa centimeter di alur sadapan. Tanaman karet yang menderita KAS berat masih dapat tumbuh dengan baik, tetapi kulit bidang sadap mengering, mengelupas, dan pecah-pecah tetapi bila dibiarkan tanpa pengobatan, tanaman dapat terserang hama bubuk batang yang dapat menyebabkan tanaman tumbang. Faktor yang mempengaruhi intensitas KAS antara lain: jenis klon, intensitas sadap (sistem sadap dan penggunaan stimulansia), tata guna kulit, ketersediaan hara bagi tanaman. Sedangkan persentase kejadian KAS meningkat seiring dengan pertambahan umur, lingkar batang dan periode juvenil. Tanaman karet berdasarkan karakteristik metabolisme terbagi menjadi 2 (dua) klon yaitu quick starter (PB 260, PB 340, IRR 112 dan IIR 118) dan slow starter (BPM 1, BPM 24, GT 1, PR 300, PR 303 dan RRIC 100). Klon quick starter apabila terserang KAS akan kehilangan produksi lebih tinggi dibandingkan klon slow starter. Hal ini disebabkan klon quick starter rentan terhadap KAS dan kulit pulihannya tipis, sedangkan klon slow starter relatif tahan terhadap eksploitasi berlebih dan kulit pulihannya tebal. Demikian juga timbulnya penyakit KAS akan meningkat sebanding dengan tingginya frekuensi penyadapan. Adapun arah sadapan juga akan mempengaruhi persentase KAS, penyadapan ke arah atas dapat mengurangi persentase serangan. Begitupun tanaman yang memiliki kandungan unsur hara yang rendah akan lebih mudah terserang KAS. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan untuk mengurangi kering alur sadap pada tanaman karet dapat dilakukan melalui pemilihan klon, pemeliharaan tanaman dan melakukan manajemen penyadapan. Klon yang digunakan sebaiknya klon yang tidak rentan terhadap KAS, dengan mempertimbangkan potensi dan pola produksi serta kesesuaian agroklimat setempat dan umur tanaman. Pemeliharaan tanaman dilakukan dengan pemenuhan unsur hara tanaman melalui pemupukan berimbang sesuai dengan rekomendasi yang telah ditetapkan. Hal ini dikarenakan apabila ketersediaan hara mikro dan makro rendah akan mempengaruhi biosintesis lateks di jaringan pembuluh lateks yang pada akhirnya akan memunculkan KAS. Selain itu manajemen penyadapan juga perlu diperhatikan. Manajemen penyadapan dilakukan antara lain penyadapan sesuai tipologi metabolisme klon karet, pemberian aplikasi stimulan sesuai rekomendasi dan irisan penyadapan ke arah atas selama 4 (empat) tahun dapat mengurangi KAS. Tanaman karet yang telah terkena KAS untuk penyembuhannya dapat dilakukan pengerokan kulit dengan membuang bagian kulit pada bagian sadap yang kering sampai kedalaman 3 – 4 mm dari kambium untuk mempercepat pertumbuhan kulit baru (kulit pulihan), selanjutnya kulit yang sudah dikerok dioles dengan formula oleokimia dan tidak disadap dahulu sampai kulit pulihan kembali. Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Mudita Oktarina Nugrahani, Akhmad Rouf, Intan Berlian dan Hananto Hadi, 2016. Kajian Fisiologi Kering Alur Sadap Pada Tanaman Karet (Hevea brasiliensis). Warta Perkebunan 35 (2). Mochlisin Andriyanto dan Radite Tistama, 2014. Perkembangan dan Upaya Pengendalian Kering Alur Sadap (KAS) Pada Tanaman Karet (Hevea brasiliensis). Warta Perkebunan 33 (2).