Hama penggerek buah kakao (PBK, Conopomorpha cramerella) masih menjadi penyebab utama kehilangan hasil dan penurunan mutu kakao Indonesia. Dampak serangan PBK menyebabkan gagalnya perkembangan biji pada buah sehingga mengakibatkan turunnya bobot dan mutu biji dengan tingkat kehilangan hasil mencapai 68-70%. Kondisi ini menyebabkan produk biji kakao asal Indonesia sering mendapat klaim dari negara-negara importir kakao akibat cita rasa biji kakao Indonesia lemah, kadar kotoran tinggi, serta banyak terkontaminasi bakteri serta tingginya residu pestisida karena penggunaan insektisida kimia. Oleh sebab itu semakin meningkatnya kesadaran konsumen akan produk dengan mutu yang bagus dan aman bagi kesehatan, maka diperlukan pengendalian hama yang ramah lingkungan yaitu salah satunya pengendalian hama secara hayati. Pengendalian hayati ialah suatu pengendalian hama dengan cara biologi dengan memanfaatkan musuh alami seperti predator, parasit dan patogen. Teknik pengendalian hayati yang dapat dilakukan untuk meminimalisir serangan PBK yaitu dengan menggunakan semut hitam (Dolichoderus thoracicus) yang merupakan predator bagi PBK. Pengembangan semut hitam (Dolichoderus thoracicus) dapat dilakukan dengan membuat sarang dari daun kakao, daun kelapa, daun pisang atau daun pinang. Sarang daun kakao dapat menggunakan 30 helaian daun yang diikat dengan tali rafia atau dimasukkan kedalam kantong plastik, sarang daun pisang dapat dibuat dengan memasukkan helaian daun pisang ke dalam tabung bambu, sarang daun kelapa atau daun pinang dapat dibuat model anyaman, kemudian sarang-sarang tersebut digantungkan pada pohon kakao yang sudah ada semut hitam. Setelah 4 – 7 hari sejak pemasangan, sarang semut yang telah berisi koloni semut dapat dipindahkan ke tanaman kakao lain yang belum ada semut hitamnya sedangkan tanaman kakao yang sudah ada semut hitam cukup dipasang sarang buatan yang kosong agar tersedia tempat berkembangbiak semut hitam. Pemasangan sarang semut ini perlu dilakukan penggantian bila terdapat sarang yang rusak agar populasi semut tetap stabil pada pohon kakao dan lebih efisien. Pada satu pohon dapat dipasangkan 3 buah sarang semut yang tersebar. Pada saat pemasangan sarang semut, pakan perlu diberikan di tengah lubang sarang yaitu dengan memberikan kepala ikan segar atau larutan gula. Pakan semut hitam juga dapat dilakukan dengan menginduksikan kutu putih jenis Chataenococcus hispidus ke tanaman kakao karena kutu putih memproduksi sekresi yang menjadi makanan utama semut hitam. Ketersediaan pakan perlu dipantau minimal 2 – 3 minggu sekali agar semut hitam dapat berkembangbiak dengan baik. Hal yang perlu diperhatikan untuk pengendalian PBK menggunakan semut hitam (Dolichoderus thoracicus) adalah tidak menyemprotkan insektisida kimia ke tanaman kakao, tidak mengubah ekosistem tanaman kakao secara drastis misalnya dengan pemangkasan pohon dengan frekuensi yang sering. Untuk mengefektifkan pengendalian menggunakan semut hitam maka penanaman kakao dapat ditumpangsarikan dengan tanaman kelapa. Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Endang Sulistyowati, Fitria Yuliasmara, Dwi Suci Rahayu dan Soekadar Wiryadiputra, 2012. Pengendalian Penggerek Buah Kakao Conopomorpha cramerella Snell Ramah Lingkungan. Warta Volume 24 (3) Oktober 2012. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jember. Hendra Heri Robika, Zaedar A Masese dan Mihwan Satara, 2020. Pengendalian Hayati Hama Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha cramerella) Menggunakan Semut Hitam (Dolichoderus thoracicus). Celebes Agricultural Volume 1 (1) Agustus 2020.