Loading...

PENGENDALIAN PENYAKIT BLAS PADA TANAMAN PADI : KIAT KIAT PENGENDALIAN

PENGENDALIAN PENYAKIT BLAS PADA TANAMAN PADI : KIAT KIAT PENGENDALIAN

Penyakit blas pada padi yang disebabkan oleh cendawan Magnaporthe oryzae (Pyricularia grisea, sinonim Pyricularia oryzae) merupakan salah satu kendala utama produksi padi di sebagian besar wilayah penanaman padi di dunia. Penyebaran penyakit blas sangat luas dan bersifat destrukif jika kondisi lingkungan menguntungkan. Di Indonesia, penyakit blas merupakan kendala utama pada agroekosistem pertanaman padi gogo, dan banyak dijumpai pada agroekosistem rawa dan sawah tadah hujan. Kurun waktu 10 tahun terakhir, penyebaran penyakit blas mulai banyak diketemukan pada agroekosistem lahan sawah irigasi dan merupakan tantangan serius pada agroekosistem sawah irigasi karena banyaknya infeksi penyakit blas leher pada sawah irigasi.

Penyakit blas pada pertanaman padi di daerah rawa dapat dijumpai di Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Pada agroekosistem sawah, penyakit blas banyak ditemukan dan berkembang di pertanaman padi sawah yaitu di sentra produksi padi Jawa Barat seperti di Karawang, Subang, Sukabumi dan Indramayu; Jawa Tengah di Pemalang, Pati, Sragen, dan Banyumas; Jawa Timur di Lamongan, Jombang, Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang. Penyakit blas juga ditemukan pada pertanaman padi sawah di Bali, Jambi, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo dan Papua.

Kehilangan hasil yang disebabkan oleh penyakit blas dapat mencapai 40 – 50% atau bahkan lebih tinggi pada tingkat serangan yang serius. Di Indonesia, kerugian hasil oleh penyakit blas pada varietas Ciherang sebesar 3,65 ton/ha atau setara dengan 61% kehilangan hasil jika dibandingkan terhadap rata-rata produksi varietas Ciherang.

Gejala Penyakit

Cendawan P. grisea dapat menginfeksi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi mulai dari persemaian sampai menjelang panen. Pada fase bibit dan pertumbuhan vegetatif tanaman padi, P. grisea menginfeksi bagian daun dan menimbulkan gejala khas penyakit blas daun yaitu berupa bercak coklat berbentuk belah ketupat. Pada fase pertumbuhan generatif tanaman padi, gejala penyakit blas berkembang pada tangkai/leher malai disebut blas leher. Infeksi penyakit blas leher dapat mencapai bagian gabah dan patogennya dapat terbawa gabah sebagai patogen tular atau terbawa benih.

Penyakit blas leher juga sering disebut busuk leher, patah leher, cekik lehet, tekek (Jawa Tengah), kecekik (Jawa Barat). Penyakit blas juga dapat berkembang pada tanaman selain padi seperti gandum, sorgum dan spesies rumput-rumputan. Pada lingkungan yang kondusif, blas daun berkembang pesat dan dapat menyebabkan kematian tanaman. Penyakit blas leher dapat menurunkan hasil secara nyata karena menyebabkan leher malai mengalami busuk atau patah sehingga proses pengisian malai terganggu dan banyak terbentuk bulir padi hampa. Gangguan penyakit blas leher di daerah endemis sering menyebabkan tanaman padi menjadi puso.

Infeksi pada buku batang tanaman padi menyebabkan bercak berwarna coklat atau hitam dan batang patah, serta kematian yang menyeluruh pada batang sebelah atas dari buku batang yang terinfeksi. Serangan P. Grisea pada kolar daun yang merupakan daerah pertemuan antara helaian daun dan pelepah menimbulkan gejala blas kolar berwarna coklat. Blas kolar yang terjadi pada daun bendera atau pada daun kedua terakhir dapat menyebabkan pengaruh yang nyata terhadap produksi padi.

Biologi dan Ekologi Penyakit Blas

Cendawan P. grisea mempunyai banyak ras, yang mudah berubah dan membentuk ras baru dengan cepat. Di Indonesia, jumlah ras P. grisea yang sudah teridentifikasi sekitar 25-30 ras.

Satu siklus penyakit dimulai ketika spora cendawan menginfeksi dan menghasilkan suatu bercak pada tanaman padi dan berakhir ketika cendawan bersporulasi dan menyebarkan spora baru melalui udara. Apabila kondisi lingkungan menguntungkan satu siklus dapat terjadi dalam waktu sekitar 1 minggu. Selanjutnya dari satu bercak dapat menghasilkan ratusan sampai ribuan spora dalam satu malam dan dapat terus menghasilkan spora selama lebih dari 20 hari. Pada kondisi kelembaban dan temperatur yang mendukung, cendawan blas dapat mengalami banyak siklus penyakit dan menghasilkan kelimpahan spora yang dahsyat pada akhir musim. Tingkat inokulum yang tinggi ini sangat berbahaya bagi tanaman padi yang rentan.

Faktor lain yang mendukung perkembangan penyakit blas adalah pemakaian pupuk nitrogen yang berlebihan, tanah dalam kondisi aerobik dan stress kekeringan. Pengaruh nitrogen terhadap sel epidermis menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding sel dan menurunnya kadar unsur silika (Si), sehingga cendawan lebih mudah melakukan penetrasi. Pemberian pupuk Si dapat membantu kekerasan dan ketegakan daun. Peranan pupuk silika terutama ditekankan pada ketahanan fisik, khususnya sel-sel epidermis. Sumber inokulum primer penyakit blas di lapang adalah jerami atau sisa-sisa tanaman sakit. Di daerah tropis sumber inokulum selalu ada spanjang tahun karena adanya spora di udara dan tanaman inang alternatif selain padi.

Kelembaban udara dan kelembaban tanah mempengaruhi patogenisitas dan pertumbuhan cendawan. Pada lahan kering, serangan penyakit blas lebih berat daripada lahan sawah. Hal ini juga masih tergantung pada varietas padi yang digunakan. Kelembaban udara mempengaruhi perkembangan bercak. Variasi suhu di daerah tropis tidak begitu besar. Peranan kelembaban udara, baik iklim makro maupun mikro, dan pembentukan embun sangat menentukan perkembangan penyakit blas. Naungan berpengaruh terhadap perkembangan bercak.

 

Pengendalian Penyakit Blas

Cara yang paling efektif, murah dan ramah lingkungan dalam pengendalian penyakit blas adalah penggunaan varietas tahan. Yang perlu diperhatikan dalam penggunaan varietas tahan adalah:

1.Tidak menanam padi secara monokultur varietas tahan secara luas. Pada skala lahan yang luas, dapat dilakukan penanaman beberapa varietas padi yang berbeda tingkat ketahanannya, dengan adanya keragaman pertanaman padi dapat mengurangi tekanan seleksi terhadap patogen, sehingga dapat memperlambat terjadinya ras baru dan patahnya ketahanan suatu varietas. 

2.  Apabila tanaman padi ditanam terus menerus sepanjang tahun maka harus dilakukan pergiliran varietas atau rotasi gen yang berbeda.

3. Penggunaan varietas tahan harus disesuaikan dengan sebaran ras-ras P. grisea di suatu daerah, sehingga suatu varietas tahan tidak dapat diterapkan pada semua lokasi.

Beberapa varietas padi yang tahan atau agak tahan terhadap ras patogen blas tertentu diantaranya adalah Inpari 21, Inpari 22, Inpari 26, Inpari 27, Inpari 28, Inpari 31, Inpari 32, Inpari 33, Inpari 34, Inpari 35, Inpari 36, Inpari 37,  Inpari Unsoed 79 Agritan, Inpari 38, Inpari 39, Inpari 40, Inpari 41, Inpari 42, Inpari 43, Tarabas, Munawacita, Mustaban, Siliwangi, Cakrabuana, Baroma, Pamelen, Pamera, Paketih, Jeliteng, Inpari IR Nutrizinc, Inpari 46, Cisaat, Arumba, Inpari 47, Inpari 48, Gemah, Marem, Respati, Inpari VTE 13, BK Situbondo 02, HIPA 18, HIPA 19, HIPA 20, HIPA 21, Situ Patenggang, Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Inpago 7, Inpago 8, Inpago 9 Inpago 10, Inpago 11, Inpago 12 dan Inpago 13 Fortiz. Ketahanan blas pada varietas padi sawah dan padi hibrida pada umumnya baru ketahanan terhadap penyakit blas daun, sedangkan untuk padi gogo meliputi ketahanan terhadap blas daun dan blas leher.

Pendekatan Cara Bercocok Tanam

1.  Penggunaan benih sehat.

Cendawan penyebab penyakit blas dapat ditularkan atau terbawa melalui benih sehingga benih yang digunakan harus sehat atau bebas dari patogen P. grisea. Pertanaman yang terinfeksi penyakit blas sangat tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai benih

2.  Pemakaian jerami sebagai kompos

Cendawan P. grisea dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman padi atau jerami dan biji dari pertanaman padi sebelumnya, sehingga sumber inokulum selalu tersedia dari musim ke musim. Pembenaman jerami dalam tanah sebagai kompos dapat menyebabkan miselia dan spora mati karena naiknya suhu selama proses dekomposisi.

3.  Perlakuan benih.

Pengendalian penyakit blas akan efektif apabila dilaksanakan sedini mungkin, hal ini disebabkan karena penyakit blas dapat ditularkan melalui benih. Perlakuan benih dapat dilakukan dengan penggunaan fungisida sistemik. Perlakuan benih dapat dilakukan dengan cara perendaman benih atau pelapisan benih.

a. Cara perendaman benih.

Benih direndam dalam larutan fungisida selama 24 jam dan selama periode ini larutan diaduk selama merata setiap 6 jam. Perbandingan berat benih dan volume air adalah 1 : 2 (1 kg benih : 2 liter air). Benih yang telah direndam dianginkan dalam suhu kamar di atas kertas koran dan dibiarkan sampai benih tersebut disebarkan (padi gogo). Pada padi sawah perendaman dalam larutan fungisida dilakukan sebelum pemeraman.

b. Cara pelapisan benih.

Pelapisan benih lebih efektif dari pada cara perendaman benih dan lebih cocok untuk lahan kering (gogo). Benih dibasahi dengan cara merendam beberapa jam kemudian ditiriskan sampai air tidak menetes lagi. Fungisida yang digunakan dengan dosis tertentu dicampur dengan 1 kg benih basah dan dikocok sampai merata, benih dikeringanginkan dengan cara yang sama seperti metode sebelumnya dan selanjutnya siap tanam.

4.    Penggunaan pupuk nitrogen dengan dosis anjuran.

Pupuk nitrogen berkorelasi positif dengan keparahan penyakit blas. Pertanaman yang dipupuk nitrogen dengan dosis tinggi menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan dan keparahan penyakit lebih tinggi. Sebaliknya dengan pupuk kalium menyebabkan tanaman menjadi lebih tahan terhadap penyakit blas. Oleh karena itu, disarankan menggunakan pupuk nitrogen dan kalium secara berimbang.

5.    Cara tanam.

Jarak tanam yang tidak terlalu rapat atau sistem legowo sangat dianjurkan untuk membuat kondisi lingkungan tidak menguntungkan bagi patogen penyebab penyakit. Kemudian didukung dengan cara pengairan berselang (intermiten). Sistem tersebut akan mengurangi kelembaban sekitar kanopi tanaman, mengurangi terjadinya embun dan air gutasi serta menghindarkan terjadinya gesekan antar daun. Pertanaman yang rapat akan menciptakan kondisi lingkungan terutama suhu, kelembaban, dan serasi yang lebih menguntungkan bagi perkembangan penyakit. Di samping itu pada pertanaman yang rapat akan mempermudah terjadinya infeksi dan penularan dari satu tanaman ke tanaman lain.

6.    Sanitasi Lingkungan

Sanitasi dengan menjaga kebersihan lingkungan pertanaman dari gulma yang mungkin menjadi inang alternatif dan membersihkan sisa-sisa tanaman yang terinfeksi merupakan usaha yang sangat dianjurkan mengingat patogen dapat bertahan pada inang alternatif dan sisa-sisa tanaman.