Ubi kayu (Manihot esculenta L) merupakan komoditas unggulan di Provinsi Lampung. Salah satu yang menjadi faktor penting yang menentukan produksi ubi kayu yaitu rendahnya tingkat serangan penyakit ubi kayu. Penyakit-penyakit yang menyerang ubi kayu pada masa pra panen disebabkan oleh jamur, bakteri, virus dan mikroplasma. Penyakit busuk umbi (leles) pernah menyerang pertanaman ubi kayu di Provinsi Lampung dan beberapa daerah di Jawa, sehingga petani mengalami kerugian yang sangat tinggi (Rahayu dan Saleh, 2013). Penyakit busuk umbi/leles mempunyai gejala umum yang sama yaitu terjadi kelayuan, daun gugur dan akhirnya tanaman mati. Apabila tanaman terinfeksi dicabut, pada tanaman yang terinfeksi umur muda perakarannya dan pangkal batang membusuk. Pada tanaman yang telah dewasa Sebagian atau seluruh umbinya menjadi busuk. Bahkan seringkali pada tanah, pangkal batang dan umbi tanaman terinfeksi terlihat adanya miselia jamur, badan buah jamur yang lain. Penyebab penyakit leles adalah jamur-jamur yang hidup di dalam tanah, jamur jamur tersebut menyerang pangkal batang, akar dan umbi. Seperti yang alami oleh petani ubi kayu di Provinsi Lampung, penyakit ini disebabkan oleh jamur Botryodiplodia sp., Fusarium sp., Colletotrichum sp. dan Sclerotium rolfsii (Hardaningsih et all, 2012). Penyakit leles juga menyerang daerang Kebun Percobaan Genteng, Banyuwangi sehingga umbi dan perakaran tanaman ubi kayu mukibat yang busuk yang disebabkan oleh jamur Fusarium sp., Cladosporium dan Aspergillus spp (Rahayu et all, 2011). Cara Pengendaliannya, sebagai berikut : 1. Penggunaan varietas ubi kayu yang tahan Pemilihan varietas merupakan cara pengendalian yang praktis, murah dan mudah diadopsi oleh petani. Varietas unggul ubi kayu yang tahan terhadap penyakit leles, seperti yang dilakukan di Kecamatan Pekalongan, Kabupaten Lampung Timur yang menunjukkan adanya keragaman persentase tanaman yang layu dan mati. Menurut Nasir Saleh et all (2014) menyatakan varietas yang tahan penyakit yaitu varietas UJ-5, Malang-4, Adira-4, dan Litbang UK-2, sedangkan varietas Malang-6 bersifat peka dan UJ-3 sangat peka. 2. Pemilihan Lokasi Cara yang paling sederhana yaitu mengusahakan tanaman ubi kayu pada lahan yang belum terinfeksi oleh serangan penyakit busuk umbi, tetapi car aini sukar diterapkan di lapangan karena berbagai alasan. Lahan yang sering terendam air mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan akar kurang sehat dan mudah terserang penyakit. Hal ini sejalan dengan Homenauth dan Sauza, 2012, dalam Nasser Saleh et all, 2016 menyatakan tidak menanam ubi kayu pada lahan yang diketahui sering terjadi kebanjiran atau terendam air juga dapat mengurangi kemungkinan terserang penyakit busuk umbi. Selain pemilihan lokasi, rotasi tanaman merupakan cara untuk mengendalikan penyakit busuk umbi pada ubi kayu (Mwangi, 2004 dalam Nasir Saleh, 2016). Rotasi tanaman tersebut bertujuan untuk menghindari pengulangan tanam ubi kayu di lahan yang sama secara terus menerus, setidaknya enam bulan untuk mengurangi penyakit busuk akar yang disebabkan penyakit Phytophtora spp, sehingga memutus siklus hidup pathogen yang endemik pada suatu lokasi. Kenyataan di lapangan rotasi tanaman dalam waktu 2-3 tahun sulit dilakukan karena kepemilikan lahan terbatas dan alasan ekonomi petani. Rotasi tanam dengan tanaman padi gogo/jagung selama 2-3 tahun dapat mengurangi sumber inoculum di dalam tanah. 3. Pengelolaan Tanah Sanitasi lahan dengan cara mengumpulkan sisa-sisa tanaman dan membakar setelah panen dapat mengurangi tumbuhnya jamur di lapangan bagi pertanaman yang akan ditanam pada musim selanjutnya. Selain sanitasi lahan, mengusahakan draenase yang baik, terutana pada lahan yang mempunyai curah hujan yang tinggim sehingga dapat mengurangi resiko serangan penyakit busuk umbi. Meskipun ubi kayu merupakan tanaman yang toleran pada lahan kurang subur, namun mengakibatkan pertumbuhan tanaman tidak optimal dan umumnya lemah. Oleh karena itu, pemberian pupuk organik dan anorganik yang berimbang diperlukan dengan tujuan agar pertumbuhan tanaman kuat dan mempunyai daya tahan terhadap kuman penyakit. 4. Pengelolaan Tanaman Menanam bahan tanam (stek) dengan syarat sehat, bebas dari penyakit merupakan cara untuk mengendalikan penyakit busuk umbi. Sebelum stek digunakan, disarankan memperlakuan stek dengan air hangat 490C selama 10 menit efektif untuk mengendalikan jamur Phythopthora atau Diplodia spp (Alvarez et all, 2005 dalam Nasir Saleh et all, 2016). Apabila kesulitan mendapatkan bahan tanam yang sehat, dapat dilakukan dengan cara mencelup stek ubi kayu dalam larutan fungisida Benomyl selama 10-15 menit untuk mencegah serangan jamur-jamur tanah, Tetapi cara ini tidak banyak dilakukan dengan alasan umbi ubi kayu merupakan bahan pangan sehingga dikhawirkan akam mengganggu Kesehatan. Intensitas serangan penyakit busuk umbi akan menigkat, apabila tanaman dibiarkan hingga umur 15 bulan dibanding apabila dipanen pada saat umbi telah cukup masak (Onyeka, 2002 dalam Nasir Saleh, 2016) Penyusun : Ely Novrianty Sumber : Saleh, N., D. Harnowo dan I Made Jana Mejaya. 2016. Penyakit-Penyakit Penting pada Ubi Kayu :Deskripsi, Bioekologi, dan Pengendaliannya. Malang, Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian. Hardaningsih, S., N. Saleh dan M. Hadi. 2012. Identifikasi Penyakit Ubi Kayu di Provinsi Lampung. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Tahun 2012; 604-609. Rahayu, M. dan N. Saleh. 2013. Penyakit Leles pada Tanaman Ubi Kayu: Bioekologi dan Cara Pengendaliannya. Buletin Palawija No. 26: 83-90 Rahayu, M., m., Rajid, B.S., dan N. Saleh. 2011. Fusarium sp. Isolat Mukibat dan Patogenisitasnya pada ubi kayu. Seminar Akselerasi Inovasi Teknologi untuk mendukung peningkata produksi aneka kacang dan umbi. Puslitbangtan. Halaman: 515-521