Loading...

PENGENDALIAN PENYAKIT JAMUR AKAR PUTIH PADA TANAMAN KARET MENGGUNAKAN AGENS HAYATI

PENGENDALIAN PENYAKIT JAMUR AKAR PUTIH  PADA TANAMAN KARET MENGGUNAKAN AGENS HAYATI
Penyakit jamur akar putih (JAP) disebabkan oleh Rigidoporus microporus syn. Akibat dari penyakit ini akan menyebabkan kerugian yang besar yaitu menurunnya produksi yang cukup tinggi sampai dapat menyebabkan kematian tanaman serta mahalnya biaya pengendalian. Patogen dapat menginfeksi pada semua stadia umur pertumbuhan tanaman, terutama lebih banyak ditemukan pada fase tanaman belum menghasilkan (TBM) yaitu pada umur tanaman 2 - 4 tahun yang rentan terhadap infeksi. Gejala infeksi ditandai dengan batang dan akar tanaman menghitam, membusuk, lunak, mudah patah, daun menjadi kusam, layu, menguning, kering dan menyebabkan kematian tanaman dan ditemui miselia yang berwarna putih. Perkembangan penyakit sangat dipengaruhi oleh kondisi vegetasi sebelumnya. Kebun karet yang dibuka dengan penebangan tanpa ada pembongkaran tanggul dan akar-akar tanaman sebelumnya masih tertinggal menjadi food base R. microporus yang berpotensi menjadi sumber inokulum bagi penyakit JAP. Selain itu penyakit JAP juga dipengaruhi oleh tekstur, struktur tanah, topografi, keasaman tanah (pH), kadar air tanah, curah hujan per tahun. Kebun karet dengan tanah gembur atau berpasir dengan topografi datar atau landai juga mendukung perkembangan penyakit. Hal ini dikarenakan kebun yang datar atau landai menyebabkan air hujan mudah tergenang sedangkan tekstur tanah gembur atau berpasir meningkatkan kemampuan rizomorf untuk menembus tanah berpori. Begitu juga dengan tanah yang mempunyai kandungan bahan organik tinggi, keasamanan tanah (pH) netral yaitu 5 – 7 juga menjadi faktor pendukung bagi perkembangan penyakit ini, sedangkan pH tanah asam pertumbuhan penyakit akan terhambat bahkan pada pH 4 penyakit ini tidak berkembang. Kebun dengan kelembaban tinggi diatas 80% dan curah hujan tinggi lebih dari 4.000 mm/tahun akan menyebabkan patogen R. microporus cepat berkembang. Pengendalian JAP ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan agens hayati dari kelompok jamur, bakteri, maupun aktinobakteri yang dapat menghambat perkembangan R. microporus. Beberapa agen hayati yang potensial untuk pengendalian JAP, antara lain dari marga jamur antagonis seperti Trichoderma, Aspergillus, Chaetomium, Botryodiplodia, Penicillium, Paecilomyces, dan Eupenicillium. Jamur antagonis mempunyai kemampuan dalam menghambat perkembangan patogen dengan berbagai mekanisme, antara lain melalui kompetisi ruang dan nutrisi, antibiosis, atau lytic enzyme, parasitisme dengan melilit hifa patogen, dan induksi ketahanan tanaman. Adapun agens hayati dari marga bakteri yang potensial untuk pengendalian JAP antara lain Streptomyces sp, Burkholderia sp, Pseudomonas sp, Bacillus sp, Serratia sp. Bakteri ini merupakan bakteri kitinolitik yaitu bakteri penghasil enzim kitinase yang berperan dalam mendegradasi kitin menjadi N asetilglokosamin sehingga berpotensi besar untuk dimanfaatkan sebagai agens pengendali hayati terhadap cendawan patogen, nematoda atau serangga hama karena kitin merupakan komponen struktural dari sebagian besar di dinding sel organisme tersebut. Bakteri ini mempunyai kemampuan sebagai mikroparasitisme, kompetisi dan antibiosis serta secara langsung dapat juga memacu pertumbuhan tanaman dan merangsang respon ketahanan terhadap penyakit. Pengendalian menggunakan agens hayati memiliki beberapa kelebihan, antara lain: secara alami hidup di dalam tanah sehingga mudah beradaptasi, umumnya berfungsi sebagai dekomposer bahan organik, meminimalisir aplikasi pestisida kimia sintesis sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, menjaga keberlangsungan ekosistem dan mendukung keanekaragaman hayati. Aplikasi agens hayati sebaiknya dilakukan pada saat penanaman atau di sekitar perakaran tanaman agar dapat berkembang dengan baik. Dan untuk mempermudah aplikasi serta meningkatkan kestabilan dan keefektifan agen hayati perlu dibuat dalam bentuk formula biofungisida. Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Widi Amaria, Khaerati dan Rita Harni, 2019. Peranan Agens Hayati Dalam Mengendalikan Penyakit Jamur Akar Putih Pada Tanaman Karet. Perspektif Vol 18 (1), Juni 2019. Widi Amaria, Rita Harni, dan Samsudin, 2015. Evaluasi Jamur Antagonis Dalam Menghambat Pertumbuhan Rigidoporus Microporus Penyebab Penyakit Jamur Akar Putih Pada Tanaman Karet. J. TIDP 2(1), Maret 2015. Cici Indriani Dalimunthe, Ahmad Dahlan dan Radite Tistama, 2019. Potensi Bakteri Serratia Sp. Sebagai Agensia Hayati Penyakit Jamur Akar Putih (Rigidoporus Microporus). Jurnal Agro Estate 3 (1) July, 2019.