PENDAHULUAN Tanaman lada (Piper nigrum linn) berasal dari pantai barat Ghats, Malabar, India. Lada merupakan produk tertua dan terpenting dari produk rempah-rempah yang diperdagangkan di dunia. Secara historis lada masuk ke Indonesia melalui Selat Sunda bersamaan dengan kedatangan bangsa eropa. Saat ini tanaman lada merupakan salah satu primadona bagi petani untuk dibudidayakan. Harganya yang relatif mahal menjadi daya tarik tersendiri bagi petani. Tantangan yang dihadapi oleh petani dalam hal budidaya selain dari harga yang cenderung fluktuatif adalah hama dan penyakit yang sangat mempengaruhi hasil yang akan didapatkan, salah satu penyakit utamanya adalah penyakit kuning. Penyakit kuning adalah salah satu penyakit utama pada tanaman lada. Di Indonesia, pertama kali dilaporkan oleh Van der Vecht tahun 1932. Penyakit ini disebabkan oleh keadaan yang kompleks, khususnya di wilayah Bangka yaitu adanya serangan nematoda (Radopholus similis dan Meloidogyne incognita), jamur parasit (Fusarium solani dan F. oxysporum), serta rendahnya kesuburan tanah dan kelembaban atau kadar air tanah. Hasil penelitian menunjukkan faktor utama penyebab penyakit adalah serangan nematoda. GEJALA SERANGAN Gejala penyakit tanaman terdiri dari gejala di atas dan bawah permukaan tanah. Gejala di atas permukaan tanah terlihat pada daun dan dahan tanaman. Daun dan dahan akan berubah menjadi kekuning-kuningan secara bertahap dari bagian bawah dan menjalar ke bagian atas tanaman. Daun-daun yang telah menguning tidak menjadi layu tapi sangat rapuh sehingga secara bertahap akan gugur. Hal ini juga terjadi pda dahan dan sulur panjat sehingga tanaman akan menjadi gundul. Gejala di bawah permukaan tanah terlihat pada bagian akar terutama rambut-rambut akar. Apabila bagian akar digali terdapat luka nekrosis dan puru. Luka-luka pada akar adalah gejala serangan nematoda R. similis, sedangkan puru akar adalah gejala serangan nematoda Meloidogyne spp. Di dalam jaringan akar yang luka dan berpuru tersebut terdapat kumpulan nematoda dan cairan yang menyumbat pembuluh jaringan akar. PENGENDALIAN PENYAKIT KUNING Melihat penyebab penyakit yang kompleks maka perlu strategi pengendalian secara terpadu, terutama untuk pengendalian nematoda dan jamur parasitnya. Selain itu, perlu juga diperhatikan pemenuhan unsur hara sesuai kebutuhan tanaman. Beberapa komponen pengendalian penyakit kuning antara lain: Penggunaan varietas toleran Hasil penelitian Nuryani (1984) menunjukkan varietas LDL dan Kuching cukup toleran terhadap M. incognita sedangkan varietas Kuching cukup toleran terhadap dan M. incognitaR. similis (Mustika, 1990). Sanitasi kebun dengan membokar dan membakar sisa tanaman sakit. Pemupukan berimbang sesuai umur tanaman lada. Penggunaan mulsa dan bahan organik untuk menekan aktivitas nematoda. Menanam tanaman bukan inang di sela tanaman lada misalnya Centrosema pubescens, Arachis hypogea, dan Crotalaria spp. Penggunaan musuh alami antara lain jamur Arthrobotrys, Dactylaria, Dactylella dan bakteri Pasteria penetrans. Penggunaan nematisida dan fungisida untuk menekan populasi nematoda dan aktivitas jamur patogen. Nematisida Aldicarb (50 mg/pohon/3 bulan) dapat menekan perkembangan penyakit kuning sebesar 15%, sedangkan pemberian Furadan 3G sebanyak 4x114 g/tanaman/tahun, dapat mengurangi populasi M. incognitadi dalam tanah sebanyak 82%, serta meningkatkan produksi lada basah sebesar 200% (Kueh dan Teo, 1978). Penggunaan pestisida nabati dari tanaman mimba dan jarak. Ditulis Oleh : Feriadi, S.P. (BPTP Kep. Babel)Sumber Bacaan : Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Monograf Tanaman LadaSumber Gambar : Foto Koleksi BPTP Kep. Bangka Belitung