PENDAHULUAN Budidaya bawang merah menjadi salah satu peluang usaha pertanian yang menjanjikan. Saat ini, areal penanaman bawang merah sudah tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Provinsi Lampung yang memiliki luas areal sekitar 37 ha yang dengan daerah sentra pengembangan di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung Tengah dan Pringsewu dengan total produksi sekitar 6.137 kwintal. Namun, OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) masih menjadi faktor pembatas dalam budidaya bawang merah. Masalah yang sering dihadapi petani bawang merah adalah penyakit layu fusarium atau moler yang dapat menurunkan produksi hasil panen hingga 70%. Layu fusarium merupakan salah satu penyakit penting yang menyerang tanaman bawang merah di lapangan maupun dalam penyimpanan yang disebabkn oleh cendawan Fusarium oxysporum f, sp. Penyakit ini sering menyerang bawang merah terutama pada musim hujan, saat curah hujan tinggi dan kondisi lingkungan yang lembab. Penyakit bawang merah ini biasanya menyerang tanaman berumur 35 sampai 45 hari setelah tanam. APA ITU PENYAKIT MOLER ? Penyakit moler adalah penyakit utama yang sangat berbahaya pada tanaman bawang merah. Peningkatan intensitas serangan penyakit moler diduga disebabkan oleh perubahan iklim yang tidak menentu akhir-akhir ini. Perubahan iklim mempengaruhi perkembangan cendawan patogen secara fisiologis dan molekuler. Pengaruh itu bisa berdampak pada meningkatnya keganasan). Selain itu meningkatnya serangan moler juga disebabkan oleh kebiasaan petani yang secara terus menerus menanam bawang merah tanpa pergiliran tanaman. Penggunaan bibit yang tidak selektif, menggunakan bibi. PENDAHULUAN Budidaya bawang merah menjadi salah satu peluang usaha pertanian yang menjanjikan. Saat ini, areal penanaman bawang merah sudah tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Provinsi Lampung yang memiliki luas areal sekitar 37 ha yang dengan daerah sentra pengembangan di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung Tengah dan Pringsewu dengan total produksi sekitar 6.137 kwintal. Namun, OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) masih menjadi faktor pembatas dalam budidaya bawang merah. Masalah yang sering dihadapi petani bawang merah adalah penyakit layu fusarium atau moler yang dapat menurunkan produksi hasil panen hingga 70%. Layu fusarium merupakan salah satu penyakit penting yang menyerang tanaman bawang merah di lapangan maupun dalam penyimpanan yang disebabkn oleh cendawan Fusarium oxysporum f, sp. Penyakit ini sering menyerang bawang merah terutama pada musim hujan, saat curah hujan tinggi dan kondisi lingkungan yang lembab. Penyakit bawang merah ini biasanya menyerang tanaman berumur 35 sampai 45 hari setelah tanam. APA ITU PENYAKIT MOLER ? Penyakit moler adalah penyakit utama yang sangat berbahaya pada tanaman bawang merah. Peningkatan intensitas serangan penyakit moler diduga disebabkan oleh perubahan iklim yang tidak menentu akhir-akhir ini. Perubahan iklim mempengaruhi perkembangan cendawan patogen secara fisiologis dan molekuler. Pengaruh itu bisa berdampak pada meningkatnya keganasan). Selain itu meningkatnya serangan moler juga disebabkan oleh kebiasaan petani yang secara terus menerus menanam bawang merah tanpa pergiliran tanaman. Penggunaan bibit yang tidak selektif, menggunakan bibit PENDAHULUAN Budidaya bawang merah menjadi salah satu peluang usaha pertanian yang menjanjikan. Saat ini, areal penanaman bawang merah sudah tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Provinsi Lampung yang memiliki luas areal sekitar 37 ha yang dengan daerah sentra pengembangan di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung Tengah dan Pringsewu dengan total produksi sekitar 6.137 kwintal. Namun, OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) masih menjadi faktor pembatas dalam budidaya bawang merah. Masalah yang sering dihadapi petani bawang merah adalah penyakit layu fusarium atau moler yang dapat menurunkan produksi hasil panen hingga 70%. Layu fusarium merupakan salah satu penyakit penting yang menyerang tanaman bawang merah di lapangan maupun dalam penyimpanan yang disebabkn oleh cendawan Fusarium oxysporum f, sp. Penyakit ini sering menyerang bawang merah terutama pada musim hujan, saat curah hujan tinggi dan kondisi lingkungan yang lembab. Penyakit bawang merah ini biasanya menyerang tanaman berumur 35 sampai 45 hari setelah tanam. APA ITU PENYAKIT MOLER ? Penyakit moler adalah penyakit utama yang sangat berbahaya pada tanaman bawang merah. Peningkatan intensitas serangan penyakit moler diduga disebabkan oleh perubahan iklim yang tidak menentu akhir-akhir ini. Perubahan iklim mempengaruhi perkembangan cendawan patogen secara fisiologis dan molekuler. Pengaruh itu bisa berdampak pada meningkatnya keganasan). Selain itu meningkatnya serangan moler juga disebabkan oleh kebiasaan petani yang secara terus menerus menanam bawang merah tanpa pergiliran tanaman. Penggunaan bibit yang tidak selektif, menggunakan bibitterinfeksi serta kandungan organik yang rendah juga memicu meningkatnya serangan moler. Gejala Serangan Penyakit Moler pada Bawang Merah Serangan fusarium mengganas saat musim hujan, saat curah hujan yang tinggi dan pada kondisi lingkungan yang lembab perkembangan jamur fusarium sangat cepat. Penyakit moler biasanya menyerang tanaman bawang merah saat umur tanaman 35 – 45 hari setelah tanam. Jika bibit yang digunakan adalah bibit yang terifeksi, gejala lebih cepat terlihat yaitu pada umur 5 – 10 hari setelah tanam. 1). Tanaman layu secara mendadak. 2). Warna daun berubah menguning dan melengkung (moler) 3). Akar tanaman membusuk dan tanaman mudah tercabut 4). Daun mengkerut dan melintir 5). Daun tanaman terkulai 6). Umbi membusuk, terdapat koloni jamur berwarna putih dan akhirnya tanaman mati. PENGENDALIAN Jamur Fusarium Oxsporum adalah patogen yang sulit dikendalikan, apalagi jika tanaman sudah terlanjut terinfeksi kecil kemungkinan untuk bisa diselamatkan. Pengendalian dan pencegahan harus dilakukan sejak awal, yaitu sejak pengolahan lahan dan pemilihan bibit. Berikut ini beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit Moler pada bawang merah ; Secara Teknis dan Hayati Melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inang. Cara ini dilakukan untuk memutus siklus hidup Fusarium yang ada di dalam tanah, Pengolahan lahan yang baik, antara lain dengan pemncangkulan dan penjemuran lahan, serta membersihkan sisa-sisa tanaman sebelumnya, Pengapuran untuk meningkatkan pH tanah. pH tanah yang rendah adalah kondisi terbaik dan disukai jamur patogen. Drainase yang baik untuk mencegah genangan air hujan diarea pertanaman, Menjaga kebersihan lingkungan dengan membersihkan gulma dan rumput liar agar area pertanaman tidak terlalu lembab, Selektif dalam memilih benih dengan menggunakan benih/bibit yang sehat dan bebas dari fusarium, Menggunakan pupuk organik (pupuk kandang atau kompos) plus agensia hayati Trichoderma sp. dan Gliocladium sp.. Mencabut dan memusnahkan tanaman yang terinfeksi agar tidak menular ke tanaman lainnya. Secara Kimiawi (Menggunakan Fungisida Kimia, dengan cara 5 – 7 hari sebelum tanam lahan disemprot menggunakan fungisida (bahan aktif azoksistrobin dan difenokonazol); Penyemprotan dilakukan dengan interval 5 – 7 hari sekali, dimulai sejak tanaman umur 10 – 15 hari setelah tanam. Penyusun : Nasriati Sumber : UMUS, Brebes dan referensi lainnya