PENDAHULUAN Penyakit “leles” pada tanaman ubikayu (Manihot esculenta Crantz.) di Indonesia, identik dengan penyakit busuk akar/umbi (root rot disease) yang merupakan penyakit sangat penting. Kerugian akibat penyakit busuk akar/umbi dapat berupa kehilangan umbi saat panen, penurunan kualitas hasil ataupun produk yang berasal dari umbi, serta penurunan jumlah dan mutu bibit atau stek . Berdasarkan laporan penelitian dari negara produsen ubikayu, data kehilangan hasil akibat penyakit busuk akar/umbi sangat beragam antara 15– 100% . Di Indonesia data kehilangan hasil ubikayu akibat penyakit busuk akar/umbi belum terdokumentasi dengan baik. Namun di propinsi Lampung dan Jawa Timur terutama pada varietas UJ-3 dan Malang 6, penyakit “leles” mencapai persentase serangan 70–100% dan juga merusak kualitas umbi karena umbi yang dipananen dalam kondisi busuk (Saleh et al. 2012). Di Lampung, penyakit “leles” pada varietas UJ-3 serangannya mencapai 74,6%. Gejala penyakit pada tanaman muda berupa layu, daun menguning dan gugur, dan akhirnya tanaman mati, sedangkan gejala pada tanaman tua berupa busuk akar/umbi serta busuk pangkal batang. Penyakit tersebut biasanya berkembang pada lahan dengan kelembaban tinggi atau pada musim hujan. Hasil identifikasi patogen menunjukkan bahwa beberapa jamur patogenis yaitu Botryodiplodia sp., Fusarium spp. Colletotrichum sp., Sclerotium rolfsii, Cladosporium sp. dan Aspergillus spp. berasosiasi dengan penyakit tersebut. Penyakit Busuk Akar/Umbi (Root Rot) Gejala Penyakit “Leles” Apabila tanaman muda yang bergejala “leles” dicabut, di bagian perakaran, umbi, dan pangkal batang terdapat kerusakan jaringan atau menjadi busuk. Pada umbi terinfeksi dan tanah di sekitar perakaran seringkali terlihat adanya miselia jamur, sklerosia ataupun badan buah jamur lain yang tumbuh berkembang. Oleh karena penyakit “leles” mempunyai gejala umum yang sama dengan penyakit busuk akar/umbi yaitu terjadi kelayuan, daun menguning dan mudah gugur, dan akhirnya tanaman mati. Penyakit “leles” identik dengan penyakit busuk Penyakit busuk akar yang disebabkan asosiasi dua patogen Diplodia manihotis dan Fusarium oxysporum menyebabkan kematian stek sangat tinggi 80–90%. Sedangkan di Interandean Valleys, Columbia suatu daerah dataran tinggi berada 1000–1200 m dpl dengan suhu 18–24 oC, penyakit busuk akar/umbi yang disebabkan beberapa jamur tanah termasuk F. oxysporum mengakibatkan 20–80% stek mati. Menurut Alvares et al. (2005), Pengendalian Penyakit Busuk akar/Umbi (Root rot) Cara pengendalian yang potensial diterapkan terhadap penyakit busuk akar/umbi pada ubikayu adalah penggunaan varietas tahan atau toleran penyakit, pemilihan lokasi, serta pengelolaan tanah dan tanaman dengan baik. 1. Varietas tahan/toleran penyakit Pemilihan klon tahan penyakit adalah cara pengendalian preventif yang praktis, murah dan mudah diadopsi oleh petani. Balitkabi Malang telah mengevaluasi beberapa klon ubikayu untuk mengetahui respons ketahanannya terhadap Fusarium sp. Seperti varietas tahan penyakit (seperti UJ-5, Malang-4, Adira-4, Litbang UK-2), 2. Pemilihan lokasi (lahan) Menanam ubikayu di lahan yang tidak/belum pernah terinfestasi penyakit busuk akar/umbi adalah cara praktis untuk menghindar dari penyakit busuk akar/umbi. Namun seringkali cara ini sulit diterapkan, karena pertimbangan efiseinsi lahan. Tidak menanam ubikayu pada lahan yang diketahui sering kebanjiran atau terendam air juga dapat mengurangi kemungkinan terserang penyakit busuk akar/umbi (Homenauth and De-Souza, 2011). Pembuatan saluran drainase yang baik dapat mengurangi risiko perakaran ubikayu tergenang, sehingga dapat menurunkan serangan penyakit busuk akar/umbi (Homenauth dan De-Sauza, 2011). 3.Pengelolaan lahan Penyiapan lahan untuk media tanam perlu diikuti usaha pembersihan atau sanitasi untuk menghilangkan sisa-sisa tanaman yang kemungkinan menjadi sumber penyakit. Sisa-sisa tanaman terserang jamur-jamur tanah yang masih berada di lahan, merupakan sumber utama penyakit bagi tanaman berikutnya. Oleh karena itu sanitasi lahan dengan cara mengumpulkan sisa-sisa tanaman dan membakarnya setelah panen dapat mengurangi sumber inokulum penyakit di lahan. Petani ubikayu biasanya menumpuk batang ubikayu bekas dipanen dengan cara diletakkan di tengah atau tepi lahan, dengan alasan keterbatasan biaya untuk mengangkut dari lahan. Namun apabila di antara tanaman tersebut terinfeksi jamur penyebab busuk akar/umbi, maka dapat dipastikan akan menjadi sumber inokulum bagi pertanaman ubikayu pada musim berikutnya 4. Pengelolaan tanaman dan pemupukan berimbang Untuk menghindari indikasi kontaminasi atau pencemaran patogen pada stek ubikayu stek tersebut dengan pencelupan dalam air hangat pada saat sebelum tanam. Alvarez et al. (2005) perendaman stek dapat digunakan drum berisi air yang dipanaskan hingga suhu 49 ºC (hangat), selanjutnya stek direndam selama 10 menit. Perlakuan tersebut ternyata efektif untuk mengendalikan serangan jamur Phytophthora atau Diplodia spp. Pemupukan berimbang merupakan salah satu upaya agar tanaman singkong mampu berproduksi tinggi, berbuah banyak dengan bobot maksimal untuk itu perlu unsur hara yang cukup. Unsur hara yang tersedia didalam tanah kadangkala tidak mencukupi akan kebutuhan nutrisi tanaman singkong sehingga singkong tidak mampu berbuah sebagaimana mestinya. Oleh sebab itu diperlukan pemberian pupuk yang berimbang, meliputi jenis pupuk, waktu aplikasi dan dosis yang tepat. Pemakaian pupuk secara tepat dan berimbang bisa meningkatkan produksi singkong. Selain pemupukan yang berimbang, penggunaan ZPT juga berpengaruh terhadap peningkatan produksi singkong. Dalam dunia pertanian, penggunaan ZPT atau hormon tumbuhan merupakan faktor pendukung yang dapat memberikan kontribusi besar dalam keberhasilan usaha budidaya. Pada tanaman singkong ZPT berpengaruh terhadap pertumbuhan, jumlah umbi, ukuran dan bobot umbi. Penyusun : Dede Rohayana (Penyuluh Pertanian BPTP Lampung) Referensi Mudji Rahayu Dan Nasir Saleh. Jurnal Penyakit ”Leles” Pada Tanaman Ubikayu Bioekologi Dan Cara Pengendaliannya