Loading...

PENGENDALIAN PENYAKIT PADA TANAMAN PADI SAWAH

PENGENDALIAN PENYAKIT PADA TANAMAN PADI SAWAH
Teknologi yang dikembangkan untuk mengendalikan hama dan penyakit pada pertanaman padi didasarkan kepada konsep pengendalian hama terpadu (PHT) dengan mempertimbangkan ekosistem, stabilitas, dan kesinambungan produksi sesuai dengan tuntutan praktek pertanian yang baik (Good Agricultural Practices, GAP). Meningkatnya kesadaran masyarakat akan lingkungan hidup telah mendorong perlunya memprioritaskan aspek kelestarian lingkungan dan faktor keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam pengambilan keputusan ekonomi (Departemen Pertanian 2003). Penyakit Utama Tanaman Padi Penyakit yang disebabkan oleh cendawan :Blast ( Pyricularia oryzae )Bercak daun ( Cercospora oryzae )Busuk Batang / Hawar Pelepah ( Rhizoctonia solani ) Penyakit yang disebabkan oleh Bakteri :Kresek ( Xantomonas oryzae ) Penyakit yang disebabkan oleh VirusTungro Kerdil rumput Kerdil kuning I. Blast (Pyricularia oryzae) Penyebab : Pyricularia grisea.Gejala : Bercak berbentuk belah ketupat-lebar di tengah dan meruncing di kedua ujungnya. Tengah bercak berwarna abu-abu.Infeksi dapat juga terjadi pada ruas batang ataupun leher malai (patah leher) Pengendalian.1) Gunakan beberapa varietas tahan secara bergantian.2) Pupuk N yang tepat dosis/tidak berlebihan.3) Perlakuan benih dengan fungisida.4) Secara kimiawi, gunakan fungisida berbahan aktif metil tiofanat, fosdifen dan kasugamisin. PENGENDALIAN OPT BLAST PADA FASE PERTUMBUHAN TANAMAN 1.Pra Tanam * Musnahkan jerami sumber infeksi dengan dijadikan kompos trichoderma 2. Persemaian * Hindari jual beli benih dari daerah serangan blast * Perlakuan benih (seed treatment)3. Tanaman Muda (Anakan Maksimum) * Pergunakan fungisida diizinkan dan efektif pada daerah kronis endemis (KE) * Pengaturan jarak tanam (sistim legowo) * Pemupukan berimbang N tidak lebih dari 90 Kg/Ha 4. Tanaman Tua (primordia-berbunga) * Penggunaan fungisida yang diizinkan dan efektif pada daerah kronisendemis (KE) 5. Pematangan bulir (Pengisian Bulir-Panen) * Penggunaan fungisida yang diizinkan dan efektif pada daerah kronis endemis (KE) 6. Kunci sukses : Pergiliran tanaman, penanaman varietas tahan II. BERCAK DAUN ( Cercospora oryzae) Penyakit bercak daun yang disebabkan oleh Cercospora sangat banyak ditemukan di daerah persawahan dan hal itu sangat merugikan apalagi pada sawah tadah hujan yang kahat kalium.Hal itu disebabkan oleh keringnya daun sebelum waktunya dan keringnya pelepah yang menyebabkan tanaman padi menjadi rebah.Gejala penyakit adalah 1). Munculnya bercak-bercak pada daun yang sempit memanjang, berwarna coklat kemerahan, sejajar dengan ibu tulang daun, dengan ukuran panjang kurang lebih 5 mm dan lebar 1-1,5 mm. 2) Bercak makin meningkat pada waktu tanaman membentuk anakan. Pada serangan yang berat, bercak-bercak terdapat pada upih daun, batang, dan bunga. 3) Pada saat tanaman mulai masak, gejala yang berat mulai terlihat pada daun bendera dan gejala paling berat menyebabkan daun mengering. Infeksi yang terjadi pada pelepah dan batang meyebabkan batang dan pelepah daun busuk sehingga tanaman menjadi rebah.Pengendalian penyakit bercak daun cercospora :a) Perkembangan penyakit bercak daun sangat dipengaruhi oleh faktor ketahanan varietas dan pemupukan. b) Dengan penanaman dengan penanaman varietas tahan c) Perbaikan kondisi tanaman.Pemupukan N, P, dan K yang mencukupi kebutuhan tanaman sangat efektif menekan perkembangan penyakit. d) Penyemprotan fungisida difenoconazol satu kali dengan dosis 1 cc per satu liter air volume semprot 400-500 l /ha pada stadium anakan maksimum, menekan perkembangan penyakit bercak daun cercospora hingga 32,10%. III. Hawar Pelepah (Rhizoctonia solani)Penyakit busuk pelepah daun disebabkan oleh serangan jamur Rhizoctonia sp. Jamur ini menyerang daun dan pelepah daun yang sudah membentuk anakan tanaman padi. Hal ini akan akan mengakibatkan penurunan jumlah produksi dan kualitas hasil panen tanaman padi. Pengendaliannya anda bisa menanam tanaman padi yang tahan terhadap serangan penyakit ini.Gejala penyakit a) dimulai pada bagian pelepah dekat permukaan air.Gejala berupa bercak-bercak besar berbentuk jorong, tepi tidak teratur berwarna coklat b) bagian tengah berwarna putih pucat.varietas padi yang beranakan banyak dan didukung oleh pemberian pupuk yang berlebihan terutama nitrogen, serta cara tanam dengan jarak yang rapat menyebabkan perkembangan hawar pelepah semakin parah.Kehilangan hasil padi akibat penyakit hawar pelepah dapat mencapai 30%.Rhizoctonia solani terutama menyerang benih tanaman dibawah permukaan tanah, tetapi juga dapat menginfeksi polong,akar,daun dan batang.Gejala yang paling umum dari Rhizoctonia adalah "redaman off", atau kegagalan benih yang terinfeksi untuk berkecambah.Rhizoctonia soloni dapat menyerang benih sebelum berkecambah atau dapat membunuh bibit sangat muda segera setelah terjadi perkecambah.Ada berbagai kondisi lingkungan yang menempatkan tanaman pada risiko tinggi infeksi karena Rhizoctonia patogen lebih suka iklim basah hangat untuk infeksi dan pertumbuhan. Bibit adalah yang paling rentan terhadap penyakit hawar pada pelepah.Siklus penyakit Rhizoctonia solani dapat bertahan dalam tanah selama bertahun-tahun dalam bentuk sclerotio.Dilihat dari cara hidupnya patogen dikenal lebih menyukai cuaca yang basah,hangat dan wabah biasanya terjadi pada bulan-bulan awal musim panas kebanyakan gejala patogen tidak terjadi sampai akhir musim panasdan dengan demikian sebagian besar petani tidak menyadari tanaman terjangkit sampai panen.Pengendalian hawar pelepah padi (Rhizoctonia solani Kuhn) dapat dikendalikan secara kimia,biologi dan teknik budidayanya. a) Pengendalian secara kimia dengan menggunakan fungisida berbahan aktif benomyl,difenoconazal,mankozeb,dan validamycin dengan dosis 2cc atau 2g per satu liter air dapat menekan perkembangan cendawa R. Solani kuhnb) Pengendalian secara biologi dengan penyemprotan beberapa bakteri antagonis dapat mengurangi tingkat keparahan hawar pelepah. Penambahan bahan organik yang sudah terdekomposisi sempurna/sudah matang (kompos jerami dengan C/N rasio ±10) dengan dosis 2 ton/ha, dapat menekan perkecambahan sklerosia di dalam tanah dan menghambat laju perkembangan penyakit hawar pelepah di pertanaman.c) Pengendalian dengan teknik budidaya diantaranya yaitu menerapkan jarak tanam tidak terlalu rapat, pemupukan komplit dengan pemberian nitrogen sesuai kebutuhan, serta didukung oleh cara pengairan yang berselang. Cara ini dapat menekan laju infeksi cendawan R. solani pada tanaman padi. Disamping itu, pengurangan sumber inokulum di lapangan dapat dilakukan dengan sanitasi terhadap gulma-gulma disekitar sawah. IV. PENYAKIT TUNGROPenyakit tungro ini ditularkan oleh wereng hijau. Gejala tanaman yang terserang 1) ditandai dengan pemendekan daun dan pelepahnya 2) Pertumbuhan tanaman terhambat dan kerdil. 3) Warna daun menjadi kuning sampai coklat mulai dair ujung daun4) Pembentukan dan perkembangan akar terhambat , saat pembentkan bunga tertunda. Sehingga waktu panen pun tertunda, malai yang dihasilkan lebih kecil , tdak dapat keluar sempurna. 5) Biasanya bulir mandul dan terdapat bintik-bintik coklat kehitaman.Pengendaliannya :1. Pengaturan Pola Tanam :a. Pergiliran tanaman dengan tanaman non padib. Penanaman secara serempak2. Eradikasi ( pemusnahan) tanaman terserang pada pesemaian, tanaman muda dan singgang.PENGENDALIAN OPT TUNGRO PADA FASE PERTUMBUHAN TANAMAN1. Pra Tanam a) Pengolahan tanah secara baik, sehingga lahan bersih dari sisa tanaman terserang (singgang) yang terinfeksi b) 5 hari setelah selesai pengolahan tanah segera sebar benih c) Pengaturan waktu tanam seawal mungkin agar saat populasi wereng hijau tinggi tanaman telah berumur > 60 hst sehingga tanaman tahan dari serangan tungro2. Persemaiana) Hindari jual beli benih dari daerah serangan tungro b) Musnahkan bibit yang terserang Bagi daerah kronis endemis (KE) penggunaan insektisida karbufuran sebelum sebar benih dengan membenamkan kedalam tanah dengan dosis 1 Kg/500 m2 lahan persemaian 3. Tanaman Muda (anakan maksimum) Musnahkan tanaman yang terserang virus tungro 4. Tanaman Tua (primordia-berbunga) Eradikasi bila diperlukan karena virus yang menginfeksi pada fase ini tidak menunjukan gejala dan tidak berpengaruh terhadap hasil 5. Kunci Sukses : Tanam serentak , pergiliran varietas, pergiliran tanaman dan eradikasi selektif sedini mungkin.Pemakaian Fungisida menurut cara kerjanya dalam tanaman:a. Fungisida sistemik : dapat masuk ke dalam jaringan tanaman, dan diedarkan ke seluruh bagian tanaman b. Fungisida non-sistemik : tidak dapat masuk ke dalam jaringan tanaman, hanya menempel di luar tanaman c. Fungisida sistemik lokal : masuk ke dalam jaringan tanaman, tetapi tidak atau sedikit diedarkan ke seluruh bagian tanaman Untuk mengatasi penyakit pada tanaman padi kita dapat melakukan pengendalian dengan menanam varietas tahan, karena varietas tahan dapat menekan penyakit yang terdapat pada tanaman padi, namun kita tidak bisa bergantung sepenuhnya pada varietas tahan karena ketahanan tanaman memiliki batas ketahanannya masing-masing.Untuk itu kita dapat menggunakan fungisida yang telah terbukti dapat mengendalikan serangan jamur untuk mendukung keberlangsungan varietas tahan. Pemakaian fungisida tidak boleh digunakan secara berlebihan karena dapat membahayakan ekosistem yang ada ditempat itu dan dapat mencemari lingkungan untuk itu pemakaiannya harus sesuai takaran agar tidak merusak lingkungan secara berlebihan. Oleh : Ridha Hayati,SST- Penyuluh Pertanian Wilayah Binaan Desa Talago Gunung