Loading...

PENGENDALIAN PENYAKIT PATEK PADA TANAMAN CABE

PENGENDALIAN PENYAKIT PATEK PADA TANAMAN CABE
Organisme pengganggu tanaman (OPT) merupakan factor pembatas produksi tanaman di Indonesia baik tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan. OPT secara garis besar dibagi tiga yaitu hama, penyakit dan gulma. Hama menimbulkan gangguan secara fisik yang disebabkan serangga, tungai, vertebrata, dan moluska. Sedangkan penyakit menimbulkan gangguan fisiologis yang disebabkan cendawan, bakteri, fitoplasma, virus, viroid, nematode dan tumbuhan tingkat tinggi. Perkembangan hama dan penyakit sangat dipengaruhi oleh dinamika factor iklim.Sampai saat ini patek masih merupakan penyakit utama pada tanaman cabai, bahkan sekarang patek juga sudah menyerang cabai rawit. Kerugian yang ditimbulkan penyakit patek bisa mencapai 100 %.Penyakit patek disebabkan dua jenis jamur : (1) Jamur Colletotricum capsici : Serangan dicirikan dengan cara menginokulasi pada tengah buah cabai dan biasanya menyerang cabai yang sudah tua. Penyebabnya adalah cendawan Colletotricum yang bersumber dari benih dan sisa tanaman sakit. Cara menular melalui percikan air (termasuk penyemprotan pestisida), hujan angin, dan tangan pemetik buah. Sedangkan pemicu perkembangan penyakit yaitu : benih tidak sehat, kondisi tajuk terlalu lemban, pupk N terlalu tinggi, dan tanah kekurangan unsur calcium.(2) Jamur Gloeosporium sp : jamur ini dicirikan dari jenis serangannya pada ujung cabai yang muda maupun tua.Gejala Umum Serangan Cendawan Collectrotichum capsici gejala awal ditandai terdapat bercak coklat kehitaman pada buah yang kemudian meluas menjadi busuk lunak. Di bagian tengah terdapat titik-titik hitam. Serangan berat menyebabkan buah cabai mengerut dan mongering seperti jerami. Sedangkan gejala yang ditimbulkan cendawan Gloeosporium piperatum umumnya menyerang buah muda dan menyebabkan mati ujung (die back). Gejalanya ditandai dengan terbentuknya bintik-bintik kecil kehitaman dan berlekuk serta tepi bintik berwarna kuning. Bagian lekukan akan terus membesar dan memanjang serta bagian tengahnya berwarna gelap.Pengendalian¢ Sebelum disemai, biji direndam dalam air hangat (55 derajat celcius) selama setengah jam, atau direndam selama 4-8 juam dalam larutan fungisida seperti banlate dengan dosis 0,5 g/liter air.¢ Gunakan bibit yang sehat, jika menggunakan bibit sendiri jangan menggunakan dari bekas cabai yang terserang patek, karena spora jamur tersebut mampu bertahanpada benih cabai.¢ Jarak tanam dijarangkan agar tidak lembab missal menggunakan jarak 65 x 70 cm.¢ Pilih lokasi yang bukan bekas tanaman cabai, terong, tomat dll (satu family dengan cabai). Spora patek mampu beradaptasi dan bertahan hidup di dalam tanah dalam waktu tahunan.¢ Tanamlah varietas cabai yang tahan patek, biasanya cabai keriting lebih tahan.¢ Gunakan pupuk dasar maupun kocoran yang rendah unsur N, karena unsur N hanya akan membuat tanaman cabai menjadi rentan. Selain itu unsur N juga membuat tanaman menjadi rimbun yang akan meningkatkan kelembaban sekitar tanaman.¢ Perbanyak unsur kalium dan calcium untuk membantu pengerasan kulit buah cabai.¢ Lahan pertanaman dibersihkan, buah yang sudah terserang dikumpulkan dari tanah maupun dipetik langsung setiap hari dalam wadah/kantong plastik untuk kemudian dibakar. Wadah tidak boleh digunakan untuk buah yang sehat agar tidak tertular.¢ Tanaman disemprot dengan fungisida Derosol 60 WP dicampur Dithane M-45 dengan perbandingan 1 : 8, konsentrasi larutan 2,8 gram /liter. Dapat juga disemprot dengan fungisida Kasumin 20 AS 2cc/liter, Difolatan 4 cc/liter, Folucur 25 WP, Velimek 80 WP, Daconil 75 WP, Topsin, Antracol 70 WP, Delsene MX 200.¢ Pestisida nabati, pestisida nabati yang bisa digunakan berupa campuran nimbi, serai dan laos dengan perbandingan 8:6:6 atau 6:6:6, larutan daun tembakau pada air 1:20, efektifnya setara dengan Bahan aktif mancozeb 0,2 % (fungisida kimia). (Penulis : Suharyanto, S.PKP, penyuluh Pertanian BPP Way Bungur Lampung Timur)Sumber tulisan:https://unsurtani.com dan BPTP Lampung, 2017