Pengendalian penyakit Rebah Batang pada Persemaian Tanaman Cabai
Tanaman cabai (Capsicum annuum) merupakan salah satu komoditas komoditas sayuran yang banyak dibutuhkan masyarakat. Cabai cocok dikembangkan didaerah tropis terutama disekitar khatulistiwa, seperti di Indonesia. Budidaya cabai yang sehat dimulai dari penyediaan benih yang sehat dan kuat. Salah satu penyakit yang sering menyerang benih/bibit cabai yaitu penyakit rebah batang. Penyakit rebah batang merupakan penyakit yang sering menyerang tanaman muda di persemaian. Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Rhizoctonia solani dan Pythium spp. Gejala yang diakibatkan oleh cendawan ini dapat diberdakan melalui serangannya. Gejala serangan yang disebabkan oleh serangan cendawan Rhizoctonia solani ditandai adanya luka berwarna coklat di pangkal batang, sehingga batang tersebut patah dan akhirnya mati. Gejala serangan yang disebabkan oleh cendawan Pythium spp. ditandai dengan adanya warna coklat di pangkal akar, patah dan membusuk. Pencegahan dan pengendalian yang dapat dilakukan yaitu : Perlakuan benih cabai merah sebelum disemai dengan jalan merendam benih dalam air hangat suam-suam kuku atau dalam larutan fungisida Propamokarb hidroklorida (konsentrasi 1 ml/l air) selama 30 menit Pasteurisasi atau Pengukusan media semai menggunakan uap air panas selama 4 jam Penjarangan tanaman di persemaian Semaian yang terinfeksi penyakit harus dicabut dan dimusnahan, media tanah yang terkontaminasi dibuang. Naungan persemaian secara bertahap dibuka agar matahari masuk dan tanaman menjadi lebih kuat. Penggunaan fungisida selektif dengan dosis batas terendah. Penggunaan fungsisida selektif dapat dilakukan dengan dosis terendah atau setengah dosis dari aplikasi tanaman dewasa. Pengentuan dosis harus hati-hati karena pemberian yang berlebihan dapat menyebabkan tanaman kering dan mati. Fungisida untuk mengatasi penyakit rebah batang dapat ditemukan dengan mudah dipasaran. Fungsisida dengan bahan aktif benomil, propamokarb hidroklorida, mefenoksam, propineb, zinep, mankozep, kaptan, dll. Penyusun : Gohan Octora Manurung Sumber Foto : Dokumentasi BPTP Lampung Sumber bacaan : balitsa.litbang.pertanian.go.id