PENGENDALIAN PENYAKIT UTAMA PADA TANAMAN KENTANG A. PENYAKIT1. LAYU BAKTERIGejala serangan :a. Bakteri Ralstonia Solanacearum dapat menyerang tanaman melalui akar maupun daun.b. Layu diawali dari pucuk daun kemudian layu menyeluruh pada tanaman terserangc. Kelayunan bersifat permanen, diikuti dengan kematian tanaman.d. Bila batang dipotong akan tampak garis vaskuler berwarna gelap, bila dimasukan ke dalam air bening akan mengeluarkan eksudat berupa lendir berwarna putih keabu-abuan dan bila pangkal batang dipijat dengan penjepit maka akan terlihat eksudat putih.e. Bila gejala kelayuan terlihat di bawah umur 30 HST maka kemungkinan besar penyakit terbawa dari benih yang ditanam.f. Bila gejala kelayuan terlihat di atas 30 HST maka kemungkinan besar tanaman tertular dari tanah.Pengendalian :a. Cara Kultur Teknis1). Gunakan benih sebar yang bersertifikat dan berlabel2). Lakukan rotasi tanam dengan tanaman yang bukan inang patogen selama minimal 3 musim3). Pilih lahan dengan drainase yang baik4). Lakukan sanitasi kebun dengan memberantas gulma dan pengganggu lainnya5). Hindari pelukaan karena mekanis maupun nematoda pada akar dan umbi.b. Cara Fisik/ mekanisCabut tanaman terserang sampai ke akar-akarnya besarta tanah disekitar perakaran, kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik kemudian dimusnahkan.c. Cara BiologisMenggunakan agensi hayati seperti bakteri Pseudomonas Fluorescens yang terdapat dalam PGPR (Plant Growth Promoting Rizobacterium), corrin bacterium dengan dosis aplikasi 100 ml/ liter air pada saat awal tanam, dan pada saat tanaman berumur 15 hari dengan cara dikocorkan ke seluruh permukaan bedengan secara merata.d. Cara KimiawiAplikasi bakterisida dengan bahan aktif Asam Oksolinik 20% sesuai anjuran.2. LAYU FUSARIUMPathogen : cendawan fusarium solanii (Mart.) Sacc.Pathogen ini umumnya menyerang umbi digudang akibat pelukaan pada umbi karena benturan. Pathogen ini dapat bertahan hidup di dalam tanah sebagai saproba atau dalam bentuk klamidospora selama 5 tahun dan pada umbi kentang yang disimpan di gudang. Pada umumnya penyakit ini timbul di daerah beriklim kering, suhu optimum untuk perkembangan penyakit 20-240 C. Gejala serangan : a. Kelayuan dimulai dari daun-daun bawah dan berkembang ke atas. b. Daun berwarna hijau suram, layu, menguning dan mengering. Daun pucuk tetap hijau. c. Bila batang disayat tampak kayu berwarna coklat. Warna coklat juga ditemukan pada pembuluh tangkai daun. d. Pada tanah yang basah dan dingin, batang dibawah permukaan tanah menjadi busuk, tanaman layu dan mati. e. Umbi yang terserang melekuk pada ujung stolon dan terjadi pencoklatan pembuluh sampai kedalaman yang beragam. Bila mencapai mata umbi maka tidak akan membentuk tunas. f. Sumber penyakit layu fusarium adalah umbi bibit yang terinfeksi di gudang atau dari dalam tanah. Bila umbi pembawa pathogen di tanam maka jamur akan menginfeksi akar dan menjalar melalui tanaman ke umbi yang masih sehat. Pengendalian :a. Cara Kultur Teknis1). Gunakan benih sebar yang bersertifikat dan berlabel2). mengurangi suhu di gudang penyimpanan serta menghindari pelukaan umbi calon benih.3). pergiliran tanaman4). membuat drainase yang baik5). Mempertahan kondisi pH tanah tetap netral.b. Cara Fisik/ mekanisCabut tanaman terserang sampai ke akar-akarnya beserta tanah disekitar perakaran, kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik kemudian dimusnahkan.c. Cara KimiawiPerlakuan dengan menggunakan fungisida pada benih digudang. 3. BUSUK DAUN (LATE BLIGHT)Penyebab : Phytophtora infestans yaitu jamur termasuk famili Phythiaceae Gejala serangan : a. Timbulnya gejala serangan dapat terjadi pada saat mulai tumbuh daun atau tanaman berumur 3 – 6 minggu dan dijumpai pada daun-daun bawah, kemudian merambat ke atas kedaun yang lebih muda, terkadang juga menyerang pada bagian batang dan masuk keumbi.b. Pada awal serangan terdapat bercak kebasah-basahan dengan tepian yang tidak teratur pada tepi daun atau tengahnya. Bercak dikelilingi oleh sporangium berwarna putih, kemudian melebar dan terbentuklah daerah nekrotik yang berwarna coklat.c. Serangan tingkat lanjut muncul bercak-bercak nekrotik yang berkembang ke seluruh daun tanaman dan menyebabkan tanaman mati.Pengendalian :a. Cara Kultur Teknis1. Gunakan benih sebar yang bersertifikat dan berlabel2. Pemilihan varietas tahan3. Hindari penanaman yang berdekatan dengan pertanaman inang terutama yang lebih tua, agar tidak terjadi penularan4. Lakukan sanitasi lingkungan dari sisa tanaman yang terserang kemudian dibakar atau dimusnahkan5. Lakukan rotasi tanam dengan tanaman yang bukan inang patogen selama minimal 3 musim6. Pilih lahan dengan drainase yang baik7. Mengatur waktu tanam yaitu penanaman di musim kemaraub. Cara Fisik/ mekanisPengendalian secara fisik/mekanis pada serangan awal dapat dilakukan pemotongan bagian yang terserang kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik kemudian dimusnahkan.c. Cara BiologisPengendalian secara biologi dengan menggunakan agensi hayati seperti cendawan Trichoderma atau Gliocladium dengan dosis penyemprotan 100 gr/liter air ditambah zat perekat.d. Cara KimiawiAplikasikan pestisida (fungisida) kimiawi yang telah terdaftar dan diizinkan oleh pemerintah dengan bahan aktif seperti : mankozeb, propinep, klorotalonil, simoksanil, mandipropamid dsb.Lakukan pemilihan pestisida yang tepat dengan memperhatikan bahan aktifnya dan sifat sistemik, translaminar atau kontak.Hindari pemakaian satu jenis bahan aktif secara terus menerus dan hindari mencampur beberapa bahan aktif secara bersamaan.Lakukan penyemprotan secara berselang seling antara yang bersifat sistemik dan kontak. 4. BERCAK KERING (EARLY BLIGHT)Penyebab : Jamur Alternaria Solanii Gejala serangan : a. Serangan umumnya menyerang pada musim kemarau. Kondisi optimum perkembangan penyakit adalah suhu 28 – 30 derajad.b. Pada umumnya gejala baru tampak setelah tanaman berumur lebih dari 6 minggu.c. Terdapat bercak-bercak kecil agak membulat berbatas jelas, berwarna coklat tua kering pada tengah daun berbentuk lingkaran-lingkaran sepusat dengan tidak memotong ruas-ruas tulang daun. Pengendalian :a. Cara Kultur Teknis1. Gunakan benih sebar yang bersertifikat dan berlabel2. Hindari penanaman yang berdekatan dengan pertanaman inang terutama yang lebih tua, agar tidak terjadi penularan3. Lakukan sanitasi lingkungan dari sisa tanaman yang terserang kemudian dibakar atau dimusnahkan4. Lakukan rotasi tanam dengan tanaman yang bukan inang patogen selama minimal 3 musim5. Pilih lahan dengan drainase yang baikb. Cara Fisik/ mekanisPengendalian secara fisik/mekanis pada serangan awal dapat dilakukan pemotongan bagian yang terserang kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik kemudian dimusnahkan.c. Cara KimiawiAplikasikan pestisida (fungisida) kimiawi yang telah terdaftar dan diizinkan oleh pemerintah dengan bahan aktif seperti : Azoksistrobin, Difenokonazol, metalaksil, dsb.Lakukan pemilihan pestisida yang tepat dengan memperhatikan bahan aktifnya dan sifat sistemik, translaminar atau kontak.Hindari pemakaian satu jenis bahan aktif secara terus menerus dan hindari mencampur beberapa bahan aktif secara bersamaan.Lakukan penyemprotan secara berselang seling antara yang bersifat sistemik dan kontak. 5. KUDIS BAKTERI / KROPENGPathogen : bakteri Streptomyces scabies (Thaxt) Waks & HenriciStreptomyces scabies adalah bakteri yang mirip fungi berbentuk benang (filamentous) namun morfologinya sangat berbeda dengan fungi. Filamentous secara bertahap akan menginduksi spora melalui fragmen. Diameter vegetatif filamentous bakeri lebih kecil dibandingkan fungi (±1 mm), tidak memiliki nucleus, menghasilkan thaxtomins (phytotoxins) yang berhubungan dengan perkembangan penyakit yaitu menginduksi gejala penyakit yang namanya hypertrophysel dan kematian sel. Penyebab penyakit bertahan dalam tanah dan menyerang pertanaman selanjutnya. Penyebaran jarak jauh dilakukan oleh umbi-umbi sakit. Infeksi terjadi melalui lentisel, stomata atau luka. Umbi-umbi muda lebih peka terkena infeksi. Suhu tanah di bawah 200 C, kelembaban tanah rendah dan pH lebih besar dari 5.2 akan mengurangi serangan penyakit. Penyakit hanya menyerang umbi dengan gejala awal berupa bercak kecil berwarna kemerahan-merahan sampai kecoklatan. Bercak makin lama makin luas dan sedikit menonjol. Luka berkembang dengan beberapa tipe baik dipermukaan atau di dalam umbi serta pembengkakan. Luka-luka tersebut mempunyai bentuk dan ukuran yang berlainan namun biasanya bundar dan berdiameter kurang dari 10 mm. Luka-luka ini dapat bergabung satu sama lain sehingga seluruh permukaan umbi retak-retak. Kudis juga menyerang akar dan stolon dan pada serangan lanjut dapat menyebabkan tanaman mati. Pengendalian :a. Cara Kultur teknis1. penggunaan bibit sehat (bersertifikat)2. rotasi tanaman3. penggunaan pupuk amonium sulfat4. pengairan teraturb. Cara Kimiawi Guna mencegah serangan pada umbi di gudang dapat dilakukan pencelupan kedalam larutan formalin selama 1 jam. 6. KANKER BATANG/ KUDISLAK (BLACK SCRUF)Penyakit ini disebabkan oleh serangan jamur Rhizoctonia solani, termasuk jenis penyakit tular tanah dan tular umbi.Pengendalian :a. Cara Kultur Teknis1. Gunakan benih sebar yang bersertifikat dan berlabel2. Teknik penanaman yang tidak terlalu dalam dan ditanah dengan struktur baik.3. Teknik penyimpanan umbi didalam ruang terang agar diperoleh tunas yang kuat, dikarenakan tunas yang berwarna putih lebih sensitif terhadap serangan penyakit ini.b. Cara KimiawiAplikasi fungisida pada umbi digudang. Sarwo Edi Prabawa, SP BPP Kec. Pejawaran