Loading...

PENGENDALIAN TIKUS PADA TANAMAN PADI

PENGENDALIAN TIKUS PADA TANAMAN PADI
PENDAHULUAN Salah satu permasalahan yang dihadapi petani dalam usahatani padi adalah hama tikus. Permasalahan ini juga dialami sebagian besar petani di Lampung Hama tikus menyerang baik saat musim tanam pertama (rendeng) maupun Musim tanam kedua ( Gadu) . Selama ini pengendalian yang umumnya dilakukan adalah dengan cara gropyokan dan emposan. Hama tikus merupakan salah satu hama utama dari golongan mamalia yag menyerang tanaman padi. Kerusakan yang disebabkan oleh serangan hama ini bisa mencapai 20 sampai 30 % di kabupaten Lampung Selatan. Berbagai cara pengendalian telah dilakukan baik dari petani sendiri maupun oleh pemerintah. Namun belum ada yang konsisten cara yang digunakan dalam pengendalian hama tikus. Beberapa cara pengendalian hama tikus yang cukup efektif diantara nya: pengaturan pola tanam, gropyokan, dengan umpan beracun dan fumigasi. BEBERAPA CARA PENGENDALIAN HAMA 1. Pengelolaan Habitat (Manipulasi Agroekosistem) Tikus membutuhkan makanan dan lindungan, jika salah satunya tidak ada atau dalam keadaan kurang maka populasi tikus akan berkurang. Mengurangi jumlah makanan agak sulit karena padi yang dimakan tikus sama dengan yang dimakan manusia, maka yang dapat dikurangi adalah lindungan. Mengurangi lindungan tikus dapat dilakukan dengan cara - cara : Pematang sawah dan saluran irigasi dibersihkan dari gulma Pada saat pengolahan tanah dilakukan pembenaman sisa tanaman setelah panen berupa tunggul-tunggul, jerami, salibu (turiang), karena dapat menjadi sumber makanan dan tempat tinggal bagi tikus. Pematang-pematang sawah harus kecil, lebarnya tidak lebih dari 30 cm, dan tingginya tidak boleh lebih dari 15 cm dari permukaan air. Hal ini bertujuan untuk mencegah tikus membuat lobang untuk tempat hidup dan berkembang biak. 2. Pengaturan Pola Tanam Jika memungkinkan, adakan periode bera selama 6 – 8 minggu, kerena populasi tikus akan menurun dengan cepat pada sawah-sawah yang diberakan. Saat bera ini para petugas pertanian (Penyuluhan dan Pengamat Hama Penyakit) harus mengambil inisiatif dan mengorganisir pertemuan kelompok tani, sehingga petani dapat dikomunikasikan aktifitas mereka untuk memberakan sawah-sawah dalam hamparan yang sama dan merencanakan tanam serentak. Bera dan tanam secara serantak dapat menguarngi ketersediaan makan, sehingga populasi tikus dapat berkurang. 3. Gropyokan Gropyokan adalah berburu massal dengan mengasapi lobang tikus mengunakan solder dan belerang, emgunakan fumigasi, seperti Tiran 58 PS serta menggunakan pentungan. Gropyokan lebih baik dilakukan pada saat tanaman padi berumur kurang dari 1 bulan (saat populasi tikus masih rendah), pada tempat-tempat yang dicurigai pada tikus seperti pada pinggir-pinggir semak, munggu-munggu, pinggiran hutan dan lain-lain. 4. Pengendalian Secara Biologi Pengendalian secara biologi hama tikus dilakukan dengan memanfaatkan dan mendayagunakan musuh alaminya, seperti ular sawah, kucing liar dan macan bambu (rimau buluh), burung elang, burung hantu, musang dan biawak. Musuh alami alami tikus ini banyak ditemukan disekitar persawahan, untuk itu jangan dibunuh atau diburu. 5. Pemasangan Umpan Beracun Cara pemakaian racun ini adalah dengan memasangnya pada tempat-tempat yang dicurigai ada tikus, seperti pada sepanjang jalan tikus, sekitar lobang, munggu-munggu dan pada sekitar daerah persembunyiannya. Jarak pemasangan dianjurkan 10 – 20 m atau dianjurkan juga memasang satu umpan pada setiap lubang dan periksa umpan setiap 2 – 3 hari. 6. Fumigasi Fumigasi dilakukan terhadap lubang-lubang tikus, agar efektif dan efisien funmikasi dilakukan terhadap lobang aktif. Gas fumigan yang umum dipakai adalah dari bahan sulfur (belerang) yang dihembuskan kedalam lubang tikus dengan menggunakan solder atau dengan emposan. Pada saat pengemposan lubang “tembus” harus ditutup rapat untuk mencegah hilangnya gas keluar, serta menutup kemungkikan tikus meloloskan diri melalui lubang tembus tersebut. Secara praktis fumigasi dapat menggunakan Tiran 58 PS dengan menggunakan alat pengemposan Tiran (Alpostran). Cara aplikasi Tiran 58 PS adalah sebagai berikut : Pengemposan tikus menggunakan Tiran 58 PS akan lebih efektif jika dilakukan pada lobang aktif. Untuk menentukan lobang aktif, maka seluruh lobang ditutup dengan lumpur pada sore hari dan diamati pada pagi besok harinya. Lobang-lobang yang terlihat terbuka adalah yang aktif. Lobang yang terbuka diasapi (diempos) dengan terlebih dahulu menutup lobang tembusan dan atau lobang rahasia serta lobang lainnya. Masukan Tiran 58 PS yang berbentuk batangan berbungkus kertas kedalam alponstran (alat pengempos Tiran) dengan posisi ujung yang runcing pada bagian luar. Arahkan alpostran yang terisi Tiran 58 PS ke mulut lobang tikus sejauh 2-5 cm kemudian ujung Tiran 58 PS di bakar. Setelah Tiran 58 PS terbakar, segera alpostran dan Tiran 58 PS di dorong ke mulut lobang dan di tekan rapat-rapat agar asap tidak keluar. Setelah Tiran 58 PS habis terbakar (± 1 menit) Alpostran di tarik keluar kemudian mulut lobang ditutup kembali dengan tanah. Fumigasi terbukti efektif membunuh tikus sawah beserta anak-anaknya di dalam lubang. Disamping itu, metode tersebut juga terjangkau petani, baik fumigator (alat untuk fumigasi) maupun fumigan (bahan untuk membuat asap racunnya). Pada prinsipnya, fumigasi adalah mengubah komposisi udara dengan zat atau senyawa racun pernafasan. Sumber tulisan: dari Berbagai sumber Sumber gambar: koleksi pribadi Nasriati dan Tim .