[ Jakarta ] Pembangunan pertanian saat ini harus dapat memanfaatkan teknologi informasi secara efektif dan efisien sebagai upaya untuk mendorong percepatan penyiapan data dalam mendukung program dan kegiatan peningkatan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani di seluruh wilayah Indonesia. Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, sektor pertanian akan makin kuat apabila didukung riset dan inovasi yang berkelanjutan. Ia juga menegaskan, petani Indonesia harus mengikuti perkembangan teknologi di era 4.0. "Petani Indonesia tidak boleh tertinggal karena banyak inovasi teknologi dan mekanisasi yang dibuat untuk meningkatkan produktivitas pertanian,” kata Mentan SYL. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi berharap penyuluh dan petani bisa membuat pestisida sendiri. Disaat yang sama dapat menekan biaya produksi dan meningkatkan produktifitas. Produktifitas kita pasti berdaya saing, maka kita dapat mampu mengekspor hasil tani Indonesia. Dedi mengatakan kita bisa mengendalikan OPT, kita bisa menyelamatkan produktivitas antara 10-80%. Salahsatu caranya bisa dengan menggunakan pestisida nabati. Dengan menggunakan bio pestisida, kita dapat mendapatkan keuntungan yang luar biasa.Yang pertama adalah murah, karena bisa menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar kita. Keuntungan yang kedua adalah tidak merusak lingkungan dan keuntungan yang ketiga yaitu efektifitasnya tidak kalah baik dari pestisida kimia”. Jelas Dedi. Sementara itu agenda kegiatan Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) volume 34 bertemakan Biopestisida dalam pertanian untuk penggelolaan serangan hama dilaksanakan pada hari Jumat (24/09/2021) melalui virtual dengan narasumber dari Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Asep Kurnia. Asep kurnia menjelaskan pestisida sintetik telah digunakan lebih dari 60 tahun. Generasi pertama yaitu golongan organoklorin. Generasi kedua adalah golongan organofosfat dan karbamat. Namun pestisida sintetik tersebut dapat menimbulkan kerusakan lingkungan. Sampai saat ini kandungan pesisida sintetik tersebut masih ditemukan di tanah karena penggunaan pestisida berlebihan telah menimbulkan residu tanah. Latar belakang pentingnya biopestisida yaitu dampak negatif pestisida sintetik, meluasnya penerapan konsep PHT, berkembangnya pertanian organik, upaya pelestarian lingkungan, perjanjian pedagangan internasional yang membatasi kadar residu pestisida di dalam produk pertanian. Syarat dari insektisida nabati yaitu efektif dan efisien, aman terhadap lingkungan dan organisme berguna, tidak bersifat antagonis jika dicampur, bahan bakunya mudah didapat”. jelas Asep. Secara terperinci Asep menjelaskan cara kerja insektisida nabati yaitu racun syaraf, racun respirasi, penghambat fungsi hormon serangga, penghambat makan, pengusir, pemikat, pemandul. Teknik aplikasi pestisida nabati yaitu ada 6 T, yaitu tepat waktu, tepat cara, tepat dosis, tepat sasaran, tepat alat dan tepat jenis. Pertanian ramah lingkungan mutlak harus dilakukan. Salahsatunya adalah bagaimaan menggunakan bio pestisida. Bio pestisida ini bisa mensubstitusi pestisida sintetik. Biopestisida hanya berpengaruh terhadap hama target tertentu, efektif dan jumlah kecil, bebas residu dan aman terhadap lingkungan. Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) didefinisikan sebagai penggunaan segala sumberdaya untuk mengendalikan populasi hama dan penyakit dibawah ambang yang dapat menyebabkan kerugian secara ekonomi serta meminimalisasi dampak terhadap lingkungan. hvy