Pengembangan sapi potong di Indonesia mempunyai prospek yang baik. Saat ini Indonesia baru berhasil menyediakan daging sapi dalam negeri sekitar 70% s.d 72% dari kebutuhan, sehingga terdapat kekurangan 28% s.d 30%. Kebutuhan ini dipenuhi dengan mengimpor sapi hidup maupun dalam bentuk daging. Multiple effek dari perkembangan usaha penggemukan sapi potong tersebut, tidak hanya meningkatnya suplai dan konsumsi daging, tetapi juga perluasan kesempatan kerja, perluasan kesempatan berusaha dan meningkatnya pendapatan petani peternak. Hampir semua jenis sapi potong dapat digemukkan seperti Sapi Bali, Sapi Madura, Sapi Ongole, Sapi Simental, Sapi Limosin dan Brahman. Namun sebagai pertimbangan aspek fisik pada ternak yang akan digemukkan harus memenuhi kriteria berikut ini. ? Tingginya laju pertumbuhan (Gain/ADG) dari sapi selama proses penggemukan ? Terbentuknya jaringan badan yang dapat dikonsumsi sesuai dengan selera konsumen (Edible meat, organ dalam, dan lain-lain) ? Angka konversi pakan (konsumsi/gain) yang efisien ? Nilai feed cost / gain yang rendah (ekonomis) ? Produksi karkas, edible portion (bag. Badan yang dapat dikonsumsi) yang tinggi dan kualitas daging / produk yang baik. ? Mortalitas (kematian) dan kasus penyakit yang rendah atau jarang Secara umum persyaratan ternak sapi yang mau digemukkan dalam jangka waktu pendek 4 s.d 6 bulan dipilih ternak bakalan yang memenuhi persyaratan sebagai berikut: ¢ Umur antara 2 s.d 2,5 tahun ¢ Jenis kelamin jantan ¢ Pertulangan kuat ¢ Nafsu makan tinggi ¢ Bentuk tubuh panjang, bulat dan lebar, panjang minimal 170 cm tinggi pundak minimal 135 cm, lingkar dada 133 cm. ¢ Tubuh kurus, tulang menonjol, tetapi tetap sehat (kurus karena kurang pakan, bukan karena sakit). ¢ Pandangan mata bersinar cerah dan bulu halus. ¢ Kotoran normal. Disamping persyaratan sebagaimana tersebut di atas perkembangan produksi daging sapi juga dipengaruhi oleh faktor - faktor : 1. Pakan Pakan yang berkualitas dan dalam jumlah yang optimal akan berpengaruh baik terhadap kualitas daging. 2. Faktor Genetik Ternak dengan kualitas genetik yang baik akan tumbuh dengan baik/ cepat sehingga produksi daging menjadi lebih tinggi. 3. Jenis Kelamin Ternak jantan tumbuh lebih cepat daripada ternak betina, sehingga pada umur yang sama, ternak jantan mempunyai tubuh dan daging yang lebih besar. 4. Manajemen Pemeliharaan dengan manajemen yang baik membuat sapi tumbuh dengan sehat dan cepat membentuk daging, sehingga masa penggemukan menjadi lebih singkat. Sapi setiap hari memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10% dari berat badannya dan juga pakan tambahan 1% - 2% dari berat badan. Ransum tambahan (konsentrat) berupa dedak halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek, ampas tahu yang pemberiannya dengan cara diberikan dahului konsentrat kemudian diberi rumput ditempat pakan. Hal itu dimaksudkan untuk merangsang pertumbuhan mikroba dalam rumen sehingga daya cerna terhadap pakan hijaun dapat meningkat. Selain itu, dapat ditambah mineral sebagai penguat berupa garam dapur atau sudah dalam bentukcampuran. Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi menjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam hijauan segar adalah rumput-rumputan, kacang-kacangan (legu minosa) dan tanaman hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput raja (king grass), daun turi, daun lamtoro. Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan tujuan agar tahan disimpan lebih lama. Termasuk dalam hijauan kering adalah jerami padi, jerami kacang tanah, jerami jagung, dsb. yang biasa digunakan pada musim kemarau. Hijauan ini tergolong jenis pakan yang banyak mengandung serat kasar. Hijauan segar dapat diawetkan menjadi silase. Secara singkat pembuatan silase ini dapat dijelaskan sebagai berikut: hijauan yang akan dibuat silase ditutup rapat, sehingga terjadi proses fermentasi. Hasil dari proses inilah yang disebut silase. Contoh-contoh silase yang telah memasyarakat antara lain silase jagung, silase rumput, silase jerami padi, dll. Air minum yang bersih harus harus tersedia secara adlibitum karena kita tidak tahu batas konsumsinya, selain itu harus bersih. Penulis: Nurul Ashar (Penyuluh Pertanian Madya Dipertanhut Kab. Pemalang) Sumber Informasi: Anonim. Teknologi Penggemukan Sapi Potong. Jawa Tengah, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. 2006. Anonim. Pedoman Budidaya Ternak Sapi Potong Yang Baik (Good Farming Practice). Ditjen Peternakan. 2007. Hatmono, H, Drh. M.Si. Model Usaha Agribisnis Sapi Pedaging. Pt. Duta Karya Swasta.2010