Usaha ternak kelinci sanggat menjanjikan dalam meningkatkan pendapatan petani sekaligus juga mampu menambah ketersediaan pangan hewani. Di antara alasan mengapa memilih beternak kelinci adalah sebagai berikut : 1. Pemeliharaan dan perawatannya mudah 2. Tidak membutuhkan lahan yang luas 3. Biaya produksi relatif murah sehingga tidak membutuhkan modal besar 4. Ternak penghasil daging berkualitas dengan kadar lemak rendah 5. Ketersediaan pakan yang melimpah, karena mampu memanfaatkan pakan dari sisa dapur dan hasil sampingan produk pertanian 6. Termasuk ternak yang prolific, yaitu ternak yang mampu beranak banyak per kelahiran 7. Hasil sampingannya pun masih bisa dimanfaatkan Alasan Kunyit (Curcuma domestica Val) digunakan sebagai obat adalah 1. Kandungan kimianya mengandungminyak atsiri, pati, serat, abu dan zat warna kurkuminoid. 2. Mudah didapat 3. Murah harganya 4. Mudah diaplikasikan Khasiatnya melancarkan peredarandarah, antiinflamasi, antibakteri, melancarkan pengeluaran empedu, antipiretik dan ikterik hepatitis. Manfaat selain sebagai hewan hias dari kelinci adalah bulu dan daging yang sampai saat ini mulai laku keras di pasaran. Selain itu hasil ikutan masih dapat dimanfaatkan untuk pupuk, kerajinan dan pakan ternak. Beternak kelinci memang gampang-gampang susah,jika kita tidak tahu tehnik dasar cara berternak kelinci maka kita akan merugi karena banyak yang mati. Hal dasar yang paling di utamakan dalam memelihara binatang ini adalah makanan dan kebersihan kandang, Jika kedua hal tersebut dapat terpenuhi maka kelinci akan sehat gemuk dan populasinya akan cepat. Kebersihan kandang harus benar-benar dijaga, sanitasi harus ada biar udara mudah berganti, bersihkan sisa makanan tiap pagi,kalau bisa usahakan sinar matahari pagi bisa mengenai kandang,sehingga bakteri dan virus-virus penyakit akan mati. Sebenarnya kunci keberhasilan adalah di peternak itu sendiri, di butuhkan ketelatenan dan keseriusan dalam usaha ternak kelinci. Kendala yang paling sering dihadapi adalah timbulnya penyakit,untuk itu peternak harus paham betul cara mengatasi masalah-masalah tersebut. Penyakit yang sering timbul adalah kembung, mencret (diare), lumpuh, scabies, pilek dan lain-lain. Penyebab kembung biasanya terkena angin malam, kelinci memang suka di hawa yang dingin tapi dia tidak kuat dengan angin malam yang dingin makanan yang banyak mengandung gas, misalnya kol segar, kangkung segar, singkong dan lain-lain. Akibat penyakit kembung ini dapat menyebabkan penyakit mencret (diare) biasanya dari makanan yang terlalu basah dan banyak mengandung bakteri penyakit, juga bisa disebabkan kandungan serat, lemak, protein sangat tidak seimbang. Penangananya berikan makanan kering seperti pelet, rumput kering/hay,untuk sementara jauhkan hijauan dan air minum, Selama ini dalam pengobatan penyakit diare pada kelinci, petani banyak mengunakan obat-obat kimia buatan pabrik. Keluhan yang timbul adalah harganya mahal, kurang tersedia di took-toko obat hewan, selain itu belum tentu efektif. Oleh karena itu perlu dilakukan pengobatan alternatif yaitu dengan dengan menggunakan tanaman obat yang tersedia di sekitar temapat usaha. Salah tanaman obat yang digunakan untuk pengobatan diare pada kelinci adalah Kunyit. Alasan Kunyit (Curcuma domestica Val) digunakan sebagai obat adalah : 1. Kandungan kimianya mengandung minyak atsiri, pati, serat, abu dan zat warna kurkuminoid. 2. Mudah didapat 3. Murah harganya 4. Mudah diaplikasikan Khasiatnya melancarkan peredaran darah, antiinflamasi, antibakteri, melancarkan pengeluaran empedu, antipiretik dan ikterik hepatitis. Hasil survey yang dilakukan di lokasi usaha ternak kelinci menunjukkan bahwa jumlah kematian (mortalitas) kelinci yang disebabkan penyakit cukup tinggi, berkisar antara 10% sampai 30%. Kematian terjadi dari masa kelahiran hingga penyapihan atau sekitar umur 1-2 bulan. Sedangkan rata-rata angka kesakitannya (morbiditas) mencapai 23,52 %. Berdasarkan kronologis di atas maka perlu dilakukan kajian penggunaan kunyit dalam pengobatan penyakit diare, agar permasalahan penyakit diare dalam usaha ternak kelinci dapat diatasi, sehingga akan menurunkan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (moratlitas) A. Tanaman Kunyit( Curcuma domestica) Kunyit mempunyai morfologi sebagai tanaman berumur panjang dengan daun besar berbentuk elips, 3-8 buah, panjang sampai 85 cm, lebar sampai 25 cm, pangkal daun meruncing, berwarna hijau seragam. Batang semu berwarna hijau atau agak keunguan, tinggi sampai 1,60 meter. Bagian dari kunyit di dalam tanah berupa rimpang yang mempunyai struktur berbeda dengan Zingiber (yaitu berupa induk rimpang tebal berdaging yang membentuk anakan/rimpang lebih panjang dan lansing) warna bagian dalam kuning jingga yang pusatnya lebih pucat (Anonim, 1977). Menurut Rukmana dan Sudarsono dkk yang disitasi oleh Kusumaningrum O.D (2008) , kandungan zat kimia pada rimpang kunyit (Curcuma domestica) adalah minyak atsiri, pati, serat, dan abu (Rukmana, 1994),sedangkan warna kuning berasal dari zat warna kurkuminoid serta mineral yaitu Mg, Mn, Cu,Ca, Na, K, Pb, Zn, Al, dan Bi. Rimpang kunyit (Curcuma domestica) berkhasiat melancarkan peredaran darah, antiinflamasi, antibakteri, melancarkan pengeluaran empedu, antipiretik dan ikterik hepatitis (Anonim, 2011). Sifat-sifat kunyit yang dapat menyembuhkan luka sudah dilaporkan sejak tahun 1953. Hasil penelitian menunjukkan, dengan kunyit laju penyembuhan meningkat 23,3% pada kelinci dan 24,4% pada tikus. Pemberian ekstrak air atau ekstrak etanol kunyit secara oral pada kelinci secara nyata menurunkan sekresi asam lambung dan meningkatkan produksi mukus pada mukosa lambung. Hasil ini memperlihatkan efek terapeutik kunyit untuk penyakit lambung dimungkinkan akibat efek stimulasi mukus. Kunyit juga mempunyai khasiat antiinflamasi. Khasiat antiinflamasi kunyit sebanding dengan hydrokortison asetat yang menyembuhkan inflamasi akibat induksi karagenin. Ekstrak air (hasil ekstraksi menggunakan air) 40 mg/kg berkhasiat sama dengan indomentasin 5 mg/kg bobot badan. Khasiat antiinflamasi ini akibat adanya minyak atsiri. B. Kelinci Menurut Faiz Manshur (2009), ternak ini semula hewan liar yang sulit dijinakkan. Kelinci dijinakkan sejak 2000 tahun silam dengan tujuan keindahan, bahan pangan dan sebagai hewan percobaan. Hampir setiap negara di dunia memiliki ternak kelinci karena kelinci mempunyai daya adaptasi tubuh yang relatif tinggi sehingga mampu hidup di hampir seluruh dunia. Kelinci dikembangkan di daerah dengan populasi penduduk relatif tinggi, Adanya penyebaran kelinci juga menimbulkan sebutan yang berbeda, di Eropa disebut rabbit, Indonesia disebut kelinci, Jawa disebut trewelu dan sebagainya. Jenis yang umum diternakkan adalah American Chinchilla, Angora, Belgian, Californian, Dutch, English Spot, Flemish Giant, Havana, Himalayan, New Zealand Red, White dan Black, Rex Amerika. Kelinci lokal yang ada sebenarnya berasal dari dari Eropa yang telah bercampur dengan jenis lain hingga sulit dikenali lagi. Jenis New Zealand White dan Californian sangat baik untuk produksi daging, sedangkan Angora baik untuk bulu. Manfaat yang diambil dari kelinci adalah bulu dan daging yang sampai saat ini mulai laku keras di pasaran. Selain itu hasil ikutan masih dapat dimanfaatkan untuk pupuk, kerajinan dan pakan ternak. C. Diare pada Kelinci Menurut Manshur, Faiz. (2009), penyakit ini sering kita sebut mencret. Kelinci yang mengalami mencret dapat sembuh dan dapt juga mengalami kematian. Apabila kita tidak menangani secara tepat maka akan berakibat pada kematian pada kelinci. Agar kita tepat dan cepat bertindak menangani penyakit ini, kita harus mengetahui jenis diare/mencret yang dialami pada kelinci. Ada beberapa jenis daire yang sering menyerang kelinci : 1. Diare Biasa dengan kotoran normal dan konsisten Gejala : kotoran normal dan tidak dimakan kelinci dengan kondisi fases keras dan kondisi kelinci selera makannya bagus penyebabnya : Kegemukan, sakit gigi, Rematik, Radang sendi, penyakit kulit disekitar selakangan 2. Diare biasa dengan kotoran lembut, cair dan konsisten Gejala : kotoran lembut tidak dimakan dengan kondisi butiran fases keras dan kondisi kelinci bagus, penyebabnya : Perubahan makanan, tidak ada serat makan, pakan terlalu berair, stress 3. Kokidiasis Gejala : kelinci mengalami diare bervariasi dengan dari fases cair hingga fases lembut tapi banyak. Hal ini berakibat kelinci jadi pendiam, berat badan menurun. Penyebabnya : parasit eimera , parasit ini muncul dikarenakan tempat yang sesak, kotor dan lembab. Parasit ini menyerang usus dan sistem pencernaan . Kelinci yang terinfeksi mengalami Oosista ( ini menyerang anakan kelinci diatas 21 hari dikarenakan kandang yang jorok pada waktu penggantian musim ) Pencegahan : (1) Kandang harus bersih dari kotoran sekecil apapun, (2) Kandang tidak boleh kotor, basah dan lembab pada musim kemarau, (3) Pindahkan kelinci ke kandang yang lain dan kandang diberi vaksin setiap sudut sampai bersih Pengobatan : (1) Untuk kelinci yang nafsu makannya baik, berikan obat sulpha khususu hewan dan berikan makanan yang bergizi , (2) Obat pediatric suspensian produk trimethoprim/sulfamethoxazole sesuai dosis, (3)Obat alami : 3 daun pupus jambu klutuk, 2 pupus daun pepaya, pupus daun pisang secukupnya, garam sepucuk sendok teh, adu satu sendok teh. Tumbuk daun-daun tersebut dan peras , diambil airnya dicampur dengan garam dan madu dengan air hangat. Berikan secara oral ke mulut kelinci dengan suntikan ( tanpa jarum) 4. Mucoid Enteropathy Gejala : tidak ada fases keras , diare dan lendir bercampur, tidak ada fases yang keluar pada tahap berikutnya. Ciri-cirinya : perut kembung, badan membungkuk, pediam dan perut bersuara gemerutuk. Penyebab : kelinci mengalami stress karena kondisi lingkungan yang tidak baik, udara terlalu panas, peralihan cuaca yang mendadak, perjalanan jauh, ancaman hewan buas, dan kelinci kalah dominan di satu kandang koloni. Kasus ini sering menimpa kelinci dibawah 2 bulan dan indukan kelinci yang menyusui. Pengobatan : Sebelum terjadinya penyakit ini alangkah baiknya dilakukan pencegahan terlebih dahulu. Untuk pengobatan baiknya dilakukan pengobatan secara alami seperti penanganan kokidiasis atau juga seperti penanganan penyakit kembung. Anonim (2011) menyatakan bahwa salah satu karakter kelinci memang suka makan apa saja apalagi aneka sayuran. Hanya sebelum memberikan sayuran kepada kelinci sebaiknya dijemur terlebih dahulu dan diberikan dalam keadaan layu atau kering untuk mengurangi kandungan air dan getah yang ada dalam sayuran tersebut dan akan manambah kandungan serat kasar yang baik untuk pencernaan kelinci. Pemberian Hay (sayuran dan rumput dalam keadaan layu) sengaja diberikan untuk menghindari agar kelinci tidak menjadi kembung dan diare. Enteropathogenic E. coli (EPEC) agen penyebab diare pada manusia, kelinci, anjing, kucing dan kuda. Sel EPEC ini cukup invasif (iaitu mereka memasuki sel inang) dan menimbulkan respon inflamasi. Maksud dan Tujuan Maksud dari kajian ini adalah sebagai kegiatan dalam pemecahan masalah sering terjadinya penyakit diare pada kelinci. Sedangkan tujuannya adalah untuk mengetahui apakah kunyit dapat meyembuhkan penyakit diare pada kelinci. A. Pengertian/Batasan Dalam kajian ini perlu diketahui pengertian /batasan-batasan yaitu : 1. Perlakuan adalah penggunaan kunyit dalam bentuk parutan sebanyak 1 rimpang (+ 10 gram) yang dicampur dengan ampas tahu sebanyak 1,5 kg untuk 5 ekor kelinci. 2. Kelinci yang dimaksud adalah kelinci umur 1-2 bulan tanpa membedakan ras/jenis kelinci. 3. Kunyit adalah Tumbuhan berbatang basah, tingginya sampai 0,75 m, daunnya berbentuk lonjong, bunga majemuk berwarna merah atau merah muda. Tanaman herba tahunan ini menghasilkan umbi utama berbentuk rimpang berwarna kuning tua atau jingga terang. Perbanyakannya dengan anakan 4. Angka Kesakitan (Morbiditas) adalah prosentase jumlah kelimci yang sakit dengan jumlah seluruh kelinci dalam kotak ( kandang batteray). 5. Angka Kematian (Mortalitas) adalah prosentase jumlah kelinci yang mati disbanding dengan jumlah seluruh kelinci yang sakit. 6. Angka Kesembuhan ( Cure Rate ) adalah prosentase jumlah kelinci yang sembuh dibanding dengan dengan jumlah kelimci yang sakit. B. Pelaksanaan 1. Waktu dan Tempat Waktu pelaksanaan kajian ini dimulai tanggal 20 April sampai dengan 24 Mei 2011 di Kelompok Tani " Madurasa " Kelurahan Lok Bahu Kecamatan Sungai Kunjang Kota Samarinda. 2. Bahan dan Alat Bahan utama yang digunakan dalam kajian ini antara lain : a). Kelinci : 20 ekor b) Kunyit : 16 rimpang ( a + 10 gram) c) ampas tahu : 24 kg d) rumput : ad libitum Alat yang digunakan dalam kajian ini a) Kandang batteray : 4 kotak b) Tempat pakan : 4 buah c) Tempat minum : 4 buah d) Plang percobaan : 4 buah e) Kartu pengamatan : 1 buah f) Spidol/pulpen : 1 buah 3. Metode dan Cara Dalam kajian ini digunakan metode studi kasus . Hasil sitasi Erna Febru Aries S (2008) dinyatakan bahwa Bogdan dan Bikien (1982) memberi pengertian bahwa studi kasus merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu orang subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu sedangkan Surachrnad (1982) membatasi pendekatan studi kasus sebagai suatu pendekatan dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan rinci, yang lebih tepatnya adalah studi kasus observasi yang mengutamakan teknik pengumpulan datanya melalul observasi peran-serta atau pelibatan (participant observation), sedangkan fokus studinya pada suatu organisasi tertentu.. Bagian-bagian organisasi yang menjadi fokus studinya antara lain: (a) suatu tempat tertentu di dalam sekolah; (b) satu kelompok siswa; (c) kegiatan sekolah. Kegiatan uji kajian ini meliputi : a. Pengelompokan kelinci dikelompokkan menjadi 2 yaitu : 1.) Kelompok kelinci yang sakit yang pakannya (ampas tahu) tidak diberikan parutan kunyit (TO), dan 2.) Kelompok kelinci yang sakit yang pakannya (ampas tahu) diberi parutan kunyit (T1). Kedua kelompok kelinci tersebut masing-masing dilakukan pengulangan sebanyak 2 kali sehingga kodenya menjadi TO1, T02, T11, dan T12. setiap kelompok terdiri dari 5 ekor kelinci. b. Pemberian Kunyit Pemberian kunyit hanya pada T11 dan T12, sedangkan T01 dan T02 tidak dilakukan. Kunyit yang digunakan sebanyak 1 rimpang (+ 10 gram) setiap kali pemberian. Pemberian kunyit dilakukan dalam bentuk parutan dimana kunyit tidak perlu dikupas kulitnya. Parutan kunyit tersebut langsung dicampur dengan ampas tahu. Ampas tahu yang sudah dicampur parutan kunyit tersebut diberikan hanya sekali sehari yaitu pada pemberian pakan pagi hari, pemberian ampas tahu tanpa kunyit tidak diberikan pada sore hari. Ampas tahu yang diberikan sebanyak 1,5 kg untuk 5 ekor kelinci. c. Pengamatan Kajian ini dilakukan selama 1 bulan . Pengamatan dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan kelinci selama kajian. Ada 2 pengamatan yang dilakukan yaitu pengamatan harian harian, dan pengamatan mingguan. Pengamatan harian untuk mengetahui kondisi kesehatan harian kelinci, sedangkan pengamatan mingguan untuk mengetahui evaluasi kondisi kesehatan kelinci akibat perlakuan pemberian kunyit dan tanpa pemberian kunyit. Sesuai dengan tujuan kajian ini, untuk mengetahui penggunaan kunyit dalam pengobatan diare pada kelinci perlu dicatat juga angka kesakitan (Morbiditas), angka kesembuhan (Cure Rate), dan angka kematian (Mortalitas) dari kelinci setiap kelompok baik sebelum perlakuan dan setelah perlakuan. 4. Pembiayaan Pembiayaan kajian ini bersumber dari dana sendiri (swadana) dan sumber dana lainnya. Dana tersebut digunakan untuk alat bantu seperti kertas, spidol, pulpen. Sedangkan bahan utama dan selain tersebut diatas sudah tersedia. 5. Pelaksan Pelaksana kajian ini dilakukan oleh penyuluh bersama petani ternak . Kegiatannya meliputi menyiapkan desain/rencana kajian menyiapkan bahan, alat, pelaksanaan, pengamatan dan pengumpulan data dan pembuatan laporan. ANALISIS PERMASALAHAN Kajian ini telah dilaksanakan selama 1 (satu) bulan adalah sebagai berikut : 1. Angka Kesakitan ( Morbiditas ) masing-masing kotak perlakuan adalah sebagai berikut : - T01 : 3/5 = 0,6 - T02 : 0/5 = 0 (sehat) - T11 : 3/5 = 0,6 - T12 : 0/5 = 0 2. Angka Ksesembuhan (Cure Rate ) masing-masing kotak perlakuan adalah sebagai berikut : - T01 : 0/5 = 0 %. - T02 : (tetap sehat) - T11 : 3/3 = 100 %. - T12 : (tetap sehat) 3. Angka Kematian (Mortalitas) hanya terjadi pada perlakuan T01 sebesar 100 %, yaitu dari 3 ekor kelinci yang sakit ternyata yang mati juga sebanyak 3 ekor. Pada kelompok T01 (tanpa perlakuan kunyit) telah ditemukan 3 ekor kelinci yang sakit diare, sedangkan pada kelompok T02 tidal ditemukan kelinci yang diare. Penggunaan kunyit pada kedua kelompok tersebut (T01 dan T02) tidak dilakukan, hanya diberikan pakan hijauan dan ampas tahu tanpa parutan kunyit selama 1 bulan. Hasil uji coba tersebut menunjukkan bahwa dari 3 ekor kelinci yang sakit pada kelompok T01 setelah 1 bulan tanpa diberikan parutan kunyit akhirnya mengalami kematian (mortalitas 100%), sedangkan pada kelompok T02 tidak terjadi kesakitan atau tetap sehat. Pada kelompok T11 telah ditemukan ada 3 ekor kelinci yang sakit diare, sedangkan pada kelompok T12 tidak ditemukan kelinci yang sakit diare. Kedua kelompok ini diberikan perlakuan yaitu ampas tahu dicampur dengan parutan kunyit selama 1 bulan. Hasil pengamatan 1 bulan menunjukkan bahwa 3 ekor yang sakit diare kelompok T11 telah mengalami kesembuhan ( cure rate =100 %.), sedangkan pada kelompok T12 tidak ada yang sakit dan tetap sehat. Berdasarkan hasil ujicoba lapang di atas menunjukkan bahwa dengan perlakuan menggunakan kunyit ternyata dapat menyembuhkan penyakit diare dengan angka kesembuhan (cure rate) sebesar 100%, sedangkan tanpa perlakuan kunyit akan menyebabkan kematian dengan mortalitas sebesar 100%. Hal ini menunjukkan bahwa dapat kunyit mampu untuk menyembuhkan penyakit diare. Anonim (2011) menyatakan bahwa salah satu karakter kelinci memang suka makan apa saja apalagi aneka sayuran. Hanya sebelum memberikan sayuran kepada kelinci sebaiknya dijemur terlebih dahulu dan diberikan dalam keadaan layu atau kering untuk mengurangi kandungan air dan getah yang ada dalam sayuran tersebut dan akan manambah kandungan serat kasar yang baik untuk pencernaan kelinci. Pemberian Hay (sayuran dan rumput dalam keadaan layu) sengaja diberikan untuk menghindari agar kelinci tidak menjadi kembung dan diare. Lebih lanjut diterangkan Escherichia coli atau di singkat E. coli adalah agen penyebab diare pada manusia, kelinci, anjing, kucing dan kuda. E coli ini biasanya terdapat dalam sayuran atau tanaman, baik untuk makanan manusia atau pun hewan. Hal ini akan berbahaya bagi manusia atau hewan. Dikhawatirkan bakteri dapat mengontaminasi pakan kelinci baik sayuran atau pun rumput. Jika sudah mauk ke dalam saluran akan menimbulkan penyakit diare. Di lain pihak kunyit dengan fungsinya sebagai anti bakteri dan anti inflamasi merupakan tanaman rimpang yang dapat didigunakan sebagai obat. Dengan demikian fungsi kunyit dapat membunuh E. Coli sebagai agen penyakit diare pada kelinci. KESIMPULAN Penyakit yang sering timbul pada kelinci adalah kembung, mencret (diare), lumpuh, scabies, pilek dan lain-lain. Akibat penyakit kembung ini dapat menyebabkan penyakit mencret (diare) biasanya dari makanan yang terlalu basah dan banyak mengandung bakteri penyakit. Di lain pihak rimpang kunyit (Curcuma domestica) salah satunya berkhasiat antiinflamasi dan antibakteri. Berdasarkan tersebut di atas, maka ujicoba lapang ini dilakukan selama 1 bulan di Kelurahan Lok Bahu Kecamatan Sungai Kunjang Samarinda dengan tujuan untuk mengetahui apakah kunyit dapat meyembuhkan penyakit diare pada kelinci . Berdasarkan hasil kajian di atas menunjukkan bahwa dengan perlakuan menggunakan kunyit ternyata dapat menyembuhkan penyakit diare dengan angka kesembuhan (cure rate) sebesar 100%, sedangkan tanpa perlakuan kunyit akan menyebabkan kematian dengan mortalitas sebesar 100%. Hal ini menunjukkan bahwa dapat kunyit mampu untuk menyembuhkan penyakit diare dengan dosis sebanyak 10 gram kunyit/1,5 kg ampas tahu atau 0,67 %. Akhirnya kami berharap, agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi orang lain umumnya. SARAN PEMECAHAN Berdasarkan hasil kajian tersebut maka dapat disarankan sebagai berikut : 1. Penggunaan kunyit dalam pengendalian penyakit diare pada kelinci lebih dianjurkan; 2. Perlu dilakukan ujicoba atau pengkajian lebih lanjut dosis kunyit yang tepat dalam pengendalian penyakit diar Penulis : 1.Ir.Sumijan 2.Suriansyah,Spt