Harus memenuhi 6 tepat penggunaan pestisida : 1. Tepat Sasaran Yang dimaksud dengan tepat sasaran ialah pestisida yang digunakan harus berdasarkan jenis Organisme Pengganggu Tanaman dengan melakukan pengamatan untuk mengetahui jenis OPT yang menyerang. Hama serangga --> Insektisida Penyakit oleh cendawan --> Fungisida Tungau/Akarina --> Akarisida Bakteri --> Bakterisida Gulma/ tanaman liar --> Herbisida Tikus --> Rodentsida Siput /Moluska --> Moluskisida Nematoda --> Nematisida 2. Tepat Mutu Yang dimaksud dengan tepat mutu ialah pestisida yang digunakan harus bermutu baik, yaitu pestisida yang terdaftar dan diijinkan oleh Komisi Pestisida. Jangan menggunakan pestisida yang tidak terdaftar, sudah kadaluarsa, rusak atau yang diduga palsu. Baca pada etiketnya terkait dengan Nomor ijinnya, Peruntukannya, Kode produksi, Tanggal produksi, Tanggal kadaluarsa, dan Nama dan alamat pembuat. Pestisida yang diijinkan dan beredar di Indonesia ialah yang etiketnya ditulis dengan menggunakan Bahasa Indonesia. 3. Tepat Jenis Suatu jenis pestisida belum tentu dianjurkan untuk mengendalikan semua jenis OPT pada semua jenis tanaman. Oleh karena itu agar dipilih jenis pestisida yang dianjurkan untuk mengendalikan suatu jenis OPT pada suatu jenis tanaman. Informasi tersebut dapat dilihat pada label atau kemasan pestisida. 4. Tepat Waktu Penggunaan Waktu penggunaan pestisida harus tepat, yaitu pada saat OPT mencapai ambang pengendalian dan penyemprotannya harus dilakukan pada sore hari (pukul 16.00 atau 17.00) ketika suhu udara < 30oC dan kelembaban udara 50-80%. 5. Tepat dosis atau konsentrasi formulasi Dosis atau konsentrasi formulasi harus tepat yaitu sesuai dengan rekomendasi anjuran karena telah diketahui efektif mengendalikan OPT tersebut pada suatu jenis tanaman. Informasi dosis atau konsentrasi anjuran untuk setiap jenis OPT pada tanaman tertentu dapat dilihat pada label atau kemasan pestisida 6. Tepat cara penggunaan Percikan (splashing), Hembusan (dusting), Fogging, Pencelupan (dipping), Pengocoran (drenching), Perlakuan benih (Seed treatment), Injeksi, Pelaburan (painting), Fumigasi (fumigation), Penaburan, Penyemprotan, dan sebagainya STRATEGI PENGGUNAAN INSEKTISIDA Penyemprotan insektisida untuk mengendalikan OPT pada budidaya sayuran dilakukan jika populasi OPT atau intensitas serangannya telah mencapai ambang pengendalian. Ambang pengendalian ialah tingkat populasi hama atau intensitas serangannya yang jika tidak dikendalikan akan menimbulkan kerugian secara ekonomi STRATEGI PENGGUNAAN FUNGISIDA Berbeda dengan pengendalian hama, pengendalian penyakit dengan fungisida harus dilakukan secara preventif. Hal ini disebabkan patogen penyakit tidak dapat terlihat dengan mata telanjang dan yang kita lihat adalah akibat serangannya STRATEGI PENYEMPROTAN FUNGISIDA Pada pengendalian penyakit tanaman, strategi penggunaan pestisida yang disusun berdasarkan prinsip pencegahan atau preventif, bukan menunggu sampai timbulnya gejala serangan atau kuratif. STRATEGI PERGILIRAN PESTISIDA Bertujuan untuk menghambat terjadinya resistensi (kekebalan) hama dan penyakit terhadap pestisida. Pergiliran penggunaan pestisida harus dilakukan berdasarkan pada cara kerja (Mode of Action/ MoA) pestisida yang berbeda. Cara kerja atau Mode of Action (MoA) adalah mekanisme kerja pestisida dalam mematikan hama atau penyakit sasaran melalui target pada bagian tubuh OPT. Cara kerja pestisida ditetapkan dengan kode angka dan huruf. TEKNIK PENYEMPROTAN PESTISIDA 75% cara aplikasi pestisida dilakukan dengan penyemprotan. Hal-hal yang harus diperhatikan pada saat penyemprotan 1. Peralatan (Pompa semprot dan Nozzle (Spuyer) Peralatan semprot seperti tangki semprot dan perlengkapannya dipastikan dalam kondisi baik dan tidak bocor. Di samping persyaratan tersebut, penyemprot punggung harus memiliki tekanan semprot minimal 3 bar dan penyemprot mesin 8-12 bar. Nozzle (spuyer) sebaiknya mempunyai Ukuran butiran semprot yang ideal untuk penyemprotan pestisida yaitu 150 – 200 mikron. Ukuran < 150 mikron, butiran semprot tertiup angin, akan tetapi ukuran > 200 mikron, butiran semprot cepat luruh. Nozzle atau spuyer harus diganti setiap 6 bulan 2. Pembuatan larutan semprot Pembuatan larutan semprot untuk penyemprot punggung - Larutkan pestisida pada ember yang berisi air sesuai kapasitas pompa semprot - Aduk pestisida secara merata - Tuangkan larutan pestisida ke dalam pompa semprot secara hati-hati Pembuatan larutan semprot untuk penyemprot mesin Larutkan pestisida pada ember kecil yang berisi air Aduk pestisida sampai merata Tuangkan larutan pestisida dari ember kecil ke dalam drum yang telah berisi air sesuai dengan kebutuhan Aduk pestisida di dalam drum secara merata. Larutan pestisida siap digunakan 3. Volume larutan semprot Volume semprot adalah banyaknya air yang diperlukan untuk melarutkan pestisida yang akan digunakan untuk menyemprot pertanaman pada suatu area tertentu. Volume semprot disesuaikan dengan kemampuan tanaman menampung larutan semprot. Jadi volume semprot berbeda menurut umur tanaman. Jika pada kemasan pestisida tertulis dosis pestisida tersebut 1 kg/ ha. Jika menggunakan penyemprot punggu, rata-rata volume semprotnya 450 l/ha. Maka konsentrasi formulasi pestisida yang harus digunakan adalah : 1.000 g dibagi 450 liter menjadi 2,22 g/liter. Jika menggunakan penyemprot bermesin, rata-rata volume semprotnya 225 l/ha. Maka konsentrasi formulasi pestisida yang harus digunakan adalah : 1.000 g dibagi 225 liter menjadi 4,44 g/l. 4. Pencampuran pestisida Sifat-sifat efek pencampuran a. Sinergistik (saling menguatkan) Contoh : Daya bunuh pestisida A = 2, Daya bunuh pestisida B = 3, Daya bunuh pestisida A + B =10 b. Antagonistik (saling mengalahkan) Contoh : Daya bunuh pestisida A = 2, Daya bunuh pestisida B = 3, Daya bunuh pestisida A + B = 1 atau 0 c. Netral (tidak mempunyai efek) Contoh : Daya bunuh pestisida A = 2, Daya bunuh pestisida B = 3, Daya bunuh pestisida A + B = 2 atau 3 Pencampuran pestisida dapat dilakukan jika berdasarkan hasil penelitian atau direkomendasikan, misalkan Insektisida + fungisida + perekat perata Catatan : Disarankan insektisida, fungisida dan perekat perata yang diproduksi oleh satu produsen atau pabrik yang sama. Tidak boleh melakukan pencampuran dalam bentuk formulasi Contoh : Formulasi Siodan 20 WP + Formulasi Dithane M 45 80 WP, Formulasi Agrimec 18 EC + Formulasi Curacron 500 EC Tidak boleh melakukan pencampuran formulasi pestisida yang berbentuk WP dengan EC Contoh : Dithane M 45 80 WP dengan Curacron 500 EC Tidak boleh mencampur pestisida dengan pupuk daun karena sifat kimia, waktu penyemprotan dan ukuran droplet berbeda. 5. Pengaruh faktor lingkungan (Suhu, Kelembaban udara, dan Kecepatan angin) Pada pagi hari, kelembaban udara > 80% (masih banyak mengandung uap air) sehingga butiran semprot akan tercampur dengan uap air tersebut. Akibatnya, konsentrasi formulasi pestisida tersebut menurun, sehingga daya bunuhnyapun menurun. Menghambat lajunya butiran semprot untuk mencapai target sasaran. Suhu : Pada siang hari, suhu udara di atas permukaan tanah lebih rendah daripada suhunya di angkasa. Dengan demikian akan terjadi pergerakan udara dari bawah ke atas (turbulensi) yang akan menerbangkan butiran semprot. Suhu yang tinggi akan mempercepat laju penguapan butiran semprot Kelembaban udara : Pada siang hari, kelembaban udara < 50% sehingga penguapan butiran semprot akan cepat walaupun telah menempel pada bidang sasaran sehingga efektivitasnya hilang. Butiran semprot akan mudah tertiup angin. Kecepatan angin : Kecepatan angin yang ideal adalah 3-6 km/ jam dengan tanda-tandanya sebagai berikut : Lambaian bendera membentuk sudut 45o Hembusan angin terasa secara perlahan menerpa wajah Daun-daun bergoyang secara perlahan Kecepatan angin > 6 km/jam : Butiran semprot tertiup angin Butiran semprot tidak sampai ke sasaran Kecepatan jalan Kecepatan jalan yang ideal untuk melakukan penyemprotan pestisida adalah 6 km/jam. Kurang dari 6 km/jam menyebabkan pemborosan penggunaan volume semprot. Lebih dari 6 km/jam, penyemprotan tidak merata 6. Arah semprotan Jarak 30 cm dan sudut 45o agar menghasilkan butiran semprot yang optimum (150-200 mikron) dan r larutan pestisida mengenai OPT sasaran, serta menghindari terjadinya tetesan air sisa penyemprotan dari daun 7. Keamanan Hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam penanganan pestisida Ketika mengisi tangki semprot, letakkan tangki di pematang atau dianjurkan menyediakan bangku untuk alas tangki. Hal itu dilakukan agar Ketika tangki diangkat, cairan pestisida tidak meluber dan membasahi punggung penyemprot. Pada waktu memasang tangki semprot, posisi punggung sejajar dengan tangki. Jangan makan, minum, merokok atau menyeka keringat selama melakukan aktivitas penyemprotan pestisida Jangan menyentuh tanaman yang baru disemprot Sarung tangan harus harus dicuci terlebih dulu sebelum dicopot/dibuka agar tangan tidak terpapar oleh pestisida Semua perlengkapan penyemprotan dan pakaian kerja harus segera dicuci tetapi harus dipisahkan dari pakaian biasa Mandilah setiap selesai menangani pestisida Simpan pestisida yang telah digunakan pada lemari atau tempat khusus yang jauh dari jangkauan anak-anak