Berdasarkan susunan kimianya, pupuk dibedakan menjadi pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organic adalah pupuk yang merupakan hasil akhir atau hasil antara dari peruraian tumbuhan atau binatang, seperti pupuk hijau dan kompos. Berdasarkan hasil penelitian Badang Litbang Pertanian, menunjukkan bahwa tingkat kesuburan lahan semakin menurun. Sekitar 65% mempunyai kandungan bahan organic redah sampai sedang (kurang 2%). Hal ini disebabkan oleh factor kesalahan dalam pengelolaan lahan, antara lain, pencemaran akibat penggunaan pupuk kimia/anorganik secara berlebihan, terutama pupuk Urea dan Pestisida Kimiawi dan telah berlangsung lama. Idelanya kandungan bahan organic tanah tidak boleh kurang dari 5%. Bahan organik menjadi salah satu indicator kesehatan tanah karena memiliki peranan kunci tanah, yaitu: Menyediakan makanan dan tempat hidup (habitat) untuk organisme tanah Menyediakan energi untuk proses-proses biologi tanah Memberikan kontribusi pada daya pulih tanah akibat perubahan pH tanah Menyimpan cadangan hara penting, khususnya N dan K Mengikat partikel-partikel tanah untuk meningkatkan stabilitas struktur tanah Meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air dan perubahan suhu tanah. Jika petani terbiasa memakai pupuk organik, dampaknya akan luar biasa, antara lain: Konsumsi pupuk kimia akan lebih efektif dan efisien. Biaya pemupukan semakin murah Pendapatan petani naik, oleh karena produktivitas yang meningkat. Karena konsumsi pupuk kimia berkurang, kelangkaan pupuk kimia juga berkurang. Lalu sebenarnya apa manfaat pupuk organik untuk tanaman kelapa sawit, mengingat begitu luasnya perkebunan Kelapa Sawit Rakyat yang ada di Indonesia, khususnya di Kabupaten Kuantan Singingi. Mengaktifkan enzim-enzim tumbuhan yang penting bagi pertumbuhan tanaman, akar dan pembentukan bunga, sekaligus respirasi fotosintesa. Membantu perkembangan sel-sel baru pada tunas. Membantu pembentukan klorofil dan selulosa yang berguna untuk proses fotosintesis. Pada musim kemarau dapat mengatur kehilangan air dari daun (mengatur pembukaan stomata). Sangat penting dalam pengubahan energy cahaya menjadi energy kimia (ATP) selama proses fotosintesa. Memfasilitasi penyerapan nutrisi dalam keseluruhan system tanaman. Memenuhi dinding sel untuk memaksimalkan peyerapan air dan mineral dari tanah, untuk mendukung proses fotosintesis dan respirasi serta berperan sebagai mekanisme perlindungan untuk sel –sel lain. Meningkatkan dan mempercepat pertumbuhan daun. Meningkatkan dan meremajakan struktur tanaman. Meningkatkan daya tahan terhadap kekeringan/trek. Meningkatkan berat proporsi tandan buah. Menetralkan asam. Penerapan konsep “Zero Waste” (tanpa limbah) pada perkebunan sawit sudah banyak dilakukan pada perkebunan besar, hal ini dapat diduplikasi oleh petani kelapa sawit swadaya yang ada di Kabupaten Kuantan Singingi. Sisa-sisa pelepah, tandan kosong dan sebagainya dapat dipergunakan kembali sebagai pupuk organik dengan menerapkan sedikit perlakuan, seperti dengan pemberian bakteri decomposer atau bio aktivator yang banyak tersedia di pasaran. Bahkan sebagian petani juga telah menerapkan secara swadaya dengan pemberian limbah dari PKS (Pabrik Kelapa sawit) berupa Jangkos, abu janjang, sludge dan limbah cair. Hal ini memberikan dampak positif bagi pertanaman Kelapa Sawit petani yang bersangkutan, sehingga biaya produksi petani untuk pupuk kimia menjadi jauh berkurang. Pupuk Indonesia Holding melalui Petrokimia Gresik, sebagai mitra Pemerintah dalam menyuplasi Pupuk Bersubsidi Pemerintah, juga menyediakan Produk Pupuk Organik yang bias di manfaatkan oleh Petani Swadaya untuk memenuhi kebutuhan Pupuk Organik Perkebunan Sawit Mereka. Untuk Aplikasi Pupuk Organik ini dapat diberikan 2 kali dalam setahun, dengan dosis perbatang 5 – 8 Kg/btg/th. By.Ihsan, SP