Belimbing merupakan salah satu komoditas buah unggulan di DKI Jakarta, tidak hanya dijual sebagai buah segar yang bernilai ekonomi tinggi juga buah belimbing diolah untuk dijadikan minuman segar berupa jus belimbing. Namun demikian, permasalahan yang dihadapi dalam pengolahan dan pemasaran sari belimbing antara lain adalah warna produk yang berbeda-beda (antara kuninmg sampai merah kecoklatan), endapan yang terkandung masih terlalu banyak, keamanan produk dan umur simpan masih rendah serta kemasan yang kurang menarik. Kemasan yang digunakan petani umumnya masih menggunakan botol kaca bekas sehingga kurang memudahkan konsumen untuk mengkonsumsi dan kurang efisien dalam transportasi. Produktivitas juga masih rendah. Semua hal tersebut diatas menyebabkan kurangnya daya saing terhadap produk olahan lain. Inovasi teknologi Inovasi teknologi yang dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas sari belimbing adalah : 1. Pemilihan bahan baku yang baik, 2. Pengurangan endapan dengan cara blansir dan penambahan CMC (Carboxy Methyl Cellulose), 3. Penggunaan mesin ekstrator, dan 4. Penggunaan kemasan botol plastik. Inovasi teknologi pengolahan dan pengemasan sari buah belimbing tidak memerlukan persyaratan khusus, asalkan ketersediaan buah belimbing sebagai bahan baku utamanya terpenuhi baik secara kualitas (tingkat kematangan dan keseragam warna) maupun kuantitas. Keunggulan inovasi Keunggulan teknologi tersebut diatas bila dibandingkan dengan cara petani antara lain: 1. Warna sari belimbing lebih seragam, 2. Kecerahan dan intensitas warna stabil, 3. Endapan sangat sedikit, 4. Kandungan vitamin C lebih tinggi dan kebersihan lebih terjamin sehingga dapat memperpanjang umur simpan. 5. Penggantian kemasan dari botol kaca dengan kemasan botol plastik bulat ukuran 250 ml akan memudahkan konsumen dalam mengkonsumsi sari buah belimbing, lebih ekonomis karena kemasan kecil sehingga harganya terjangkau konsumen, penampilan lebih menarik, serta memudahkan penyimpanan dan transportasi. 6. Penggunaan alat ekstraktor menjadi lebih efisien (waktu dan tenaga kerja), produksi bisa lebih banyak, zat padat terlarut lebih sedikit sehingga tidak perlu dilakukan penyaringan sampai 2-3 kali (cara petani). Kriteria bahan baku Bahan baku belimbing yang baik untuk sari buah adalah matang dan mempunyai warna kulit buah kuning seluruhnya. Buah belimbing yang terlalu matang (lebih banyak warna oranye dari pada kuning) tidak dapat digunakan sebagai bahan baku. Proses pembuatan Proses pembuatan sari belimbing yang dianjurkan adalah : 1. Penerimaan dan penyortiran bahan baku, 2. Pemotongan buah menjadi lima bagian dan trimming (biji, serat, bagian atas rusuk), 3. Pencucian, 4. Blansir/pencelupan dalam air (80oC, 3-5 menit), 5. Penghancuran dan ekstrasi buah dengan mesin, 6. Disaring, 7. Pengenceran dengan air panas 80oC (1:2) lalu ditambahkan gula (8-10%) , asam sitrat (1 gram/liter) dan penstabil, pengemulsi dan penggumpal (CMC, sebanyak 0,03% per volume total), 8. Pemanasan sari buah dengan suhu 75oC - 80oC selama 15 menit (Pasteurisasi), 9. Penyaringan dengan kain monil ukuran 10 mesh, 10. Pembotolan (botol sudah disterilkan), 11. Penutupan botol, 12. Sterilisasi, 13. Pelabelan dan penyegelan, dan 14. Penyimpanan. Dengan proses seperti tersebut diatas, umur simpan sari belimbing dalam kemasan botol plastik dapat mencapai 5 bulan pada suhu 10oC; 2 bulan pada suhu 30oC; dan 1 bulan pada suhu 45oC. Untuk menekan biaya pembuatan mesin, disarankan agar mesin digunakan secara berkelompok bukan perorangan. Normal 0 false false false EN-AU X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} Sumber: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta Normal 0 false false false EN-AU X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}