Loading...

PENGOLAHAN LIMBAH KAKAO MENJADI PUPUK

PENGOLAHAN LIMBAH KAKAO MENJADI PUPUK
Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) adalah tanaman perkebunan yang umumnya tumbuh di daerah tropis. Bagian dari buah kakao yang dimanfaatkan berupa biji, yang nantinya diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan bubuk coklat, biasa digunakan sebagai minuman penyegar dan makanan ringan. Limbah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis. (Isro’i, 2008). Banyak terdapat limbah seperti limbah perkotaan, limbah rumah tangga dan limbah pertanian. Limbah pertanian meliputi semua hasil proses pertanian yang tidak termanfaatkan atau belum memiliki nilai ekonomis. Salah satu cara untuk memanfaatkan limbah pertanian adalah dengan dijadikan kompos, seperti halnya dengan kulit buah kakao. Bahan organik sering disebut segbagai bahan penyangga tanah. Tanah dengan kandungan bahan organik rendah akan berkurang kemampuannya mengikat pupuk kimia sehingga efisiensinya menurun akibat sebagian pupuk hilang akibat pencucian, fiksasi atau penguapan. Kandungan bahan organik dalam tanah semakin lama semakin berkurang, oleh karena itu pemberian pupuk organik pada tanaman perlu diteliti lebih lanjut untuk mengetahui penguruh pupuk organik terhadap pertumbuhan tanaman (Musnamar, 2004). Pupuk organik yang digunakan adalah pupuk organik yang berasal dari pemanfaatan limbah kulit kakao yang terlebih dahulu dikomposkan dengan menggunakan aktivator EM-4. Menurut Departemen Pertanian (2004) produksi kakao di Jawa Barat pada tahun 1999 adalah 5.890 ton, data estimasi tahun 2002 adalah 5.002 ton sedangkan, produksi kakao Indonesia tahun 1999 adalah 367.475 ton dan estimasi tahun 2002 adalah 433.415 ton. Banyaknya produksi ini mengakibatkan kulit kakao sebagai limbah perkebunan meningkat. Lebih lanjut dikatakan oleh Darmono dan Tri Panji (1999), limbah kulit buah kakao yang dihasilkan dalam jumlah banyak akan menjadi masalah jika tidak ditangani dengan baik. Produksi limbah padat ini mencapai sekitar 60% dari total produksi buah. Spillane (1995) mengemukakan bahwa kulit buah kakao dapat dimanfaatkan sebagai sumber unsur hara tanaman dalam bentuk kompos, pakan ternak, produksi biogas dan sumber pektin. Sebagai bahan organik, kulit buah kakao mempunyai komposisi hara dan senyawa yang sangat potensial sebagai medium tumbuh tanaman. Kadar air untuk kakao lindak sekitar 86%, dan kadar bahan organiknya sekitar 55,7% (Soedarsono. dkk, 1997) Menurut Didiek danYufnal (2004) kompos kulit buah kakao mempunyai pH 5,4, N total 1,30%, C-organik 33,71%; P2O5 0,186%; K2O 5,5%;CaO 0,23%; dan MgO 0,59%. Kulit buah kakao sampai saat ini belum banyak mendapat perhatian masyarakat atau perusahaan untuk dijadikan pupuk organik, umumnya pupuk organik yang digunakan berasal dari kotoran hewan, seperti sapi dan domba. Cara Membuat PUPUK Bahan-bahan Alat dan bahan Alat yang digunakan antara lain: cangkul, golok, timbangan, ember, gembor, dan kantong plastik untuk pengomposan, sedangkan bahan yang digunakan, yaitu limbah kulit kakao, air, fungisida, dan aktivator. Metode pelaksanaan Cara pembuatan kompos limbah kulit kakao hampir sama dengan cara pengomposan nenggunakan bahan lain, berikut ini prosedur kerja dalam pembuatan kompos limbah kulit kakao: Mengumpulkan bahan baku yang masih berserakan di tempat pengumpulan buah kakao saat panen Menjemur bahan baku limbah kulit kakao, dengan tujuan untuk mengurangi kadar air yang tersimpan dalam kulit kakao Memperkecil ukuran bahan (limbah kulit kakao). Untuk memperkecil ukuran bahan dapat dilakukan dengan parang atau mesin pencacah, tujuan dari memperkecil ukuran bahan baku adalah untuk memperluas permukaan, sehingga proses dekomposisi bisa berjalan lebih cepat Menyiapkan aktivator pengomposan. Jenis aktivator yang digunakan adalah (EM-4 atau Promi), kemudian larutkan ke dalam air dengan campuran 125ml EM-4 dilarutkan dengan 10 liter air. Pemasangan kotak/plastik wadah pengomposan, kotak dapat terbuat dari papan dengan ukuran panjang 2m dan lebar 2m. Memasukkan bahan ke dalam cetakan selapis demi selapis. Tinggi setiap lapisan ± 20 cm, kemudian siram tiap lapisan dengan larutan aktivator dan air sebanyak ± 250 ml. lalu bahan tersebut diinjak-injak agar memadat sambil disiram dengan aktivator pengomposan. 7. Setelah kotak penuh, buka kotak dan tutup tumpukan kulit buah kakao dengan plastik. 8. Lalu ikat tumpukan tersebut dengan tali, usahakan jangan ada celah tempat udara masuk. 9. Masa Inkubasi pengomposan terjadi selam selama 1,5 sampai 2 bulan, setiap 10 hari sekali dilakukan kegiatan pengamatan. 3. Pengamatan proses pengomposan Agar proses pengomposan dapat berjalan dengan baik, perlu dilakukan pengamatan secara teratur. Pengamatan dapat dilakukan seminggu sekali hingga kompos siap digunakan .Pengamatan dilakukan secara fisik dan kimia dengan menggunakan peralatan yang sederhana. Pengamatan secara fisik meliputi: Suhu kompos Buka plastik penutup kompos dan raba tumpukan kompos hingga bagian dalam. Seharusnya dalam waktu satu dua hari setelah pembuatan kompos, suhu akan meningkat dengan cepat. peningkatan suhu dapat mencapai 70o C dan dapat berlangsung beberapa minggu, pengukuran suhu kompos dapat menggunakan alat termometer. Kelembaban Periksa juga kadar air/kelembaban kompos hingga bagian dalam kompos. Kompos yang baik akan terasa lembab namun tidak terlalu basah, kelembaban yang idel pada waktu proses dakomposisi adalah ± 60%. Penyusutan Sejalan dengan proses penguraian bahan organik menjadi kompos akan terjadi penyusutan volume kompos. Penyusutan volume ini dapat mencapi setengah (50%) dari volume semula. Apabila selama proses pengomposan tidak terjadi penyusutan volume, kemungkinan proses pengomposan tidak berjalan dengan baik. Perubahan warna bahan baku Amati pula perubahan warna yang terjadi pada bahan baku kompos. Biasanya warna berubah menjadi coklat kehitam-hitaman. Seringkali jamur juga ditemukan tumbuh subur di atas tumpukan kompos. Sedangkan pengamatan secara kimia meliputi dua kegiatan pengamatan yaitu: Pengukuran pH Proses pengomposan dapat terjadi pada kisaran pH yang lebar. pH yang optimum untuk proses pengomposan berkisar antara 6.5 sampai 7.5, pengamatan ini dapat menggunakan kertas lakmus. Pengukuran nisbah C/N Salah satu kriteria kematangan kompos adalah nisbah C/N. Analisa ini hanya bisa dilakukan di laboratorium. Kompos yang telah cukup matang memiliki nisbah C/N<20. Apabila nisbah C/N lebih tinggi, maka kompos belum cukup matang dan perlu waktu dekomposisi yang lebih lama lagi. Menentukan kematangan kompos Menurut Isroi (2007), untuk mengetahui tingkat kematangan kompos dapat dilakukan dengan uji di laboratorium ataupun pengamatan sederhana di lapangan. Berikut ini disampaikan beberapa cara sederhana untuk mengetahui tingkat kematangan kompos : Penyusutan bahan baku Terjadi penyusutan volume/bobot kompos seiring dengan kematangan kompos.Besarnya penyusutan tergantung pada karakteristik bahan mentah dan tingkat kematangan kompos. Penyusutan berkisar antara 20–40%. Apabila penyusutannya masih kecil/sedikit, kemungkinan proses pengomposan belum selesai dan kompos belum matang. Warna kompos Warna kompos yang sudah matang adalah coklat kehitam-hitaman. Apabila kompos masih berwarna hijau atau warnanya mirip dengan bahan mentahnya berarti kompos tersebut belum matang. Selama proses pengomposan pada permukaan kompos seringkali juga terlihat miselium jamur yang berwarna putih. Struktur bahan baku Kompos yang telah matang akan terasa lunak ketika dihancurkan. Bentuk kompos mungkin masih menyerupai bahan asalnya, tetapi ketika diremas akan mudah hancur. Bau Kompos yang sudah matang berbau seperti tanah dan bau bahan bakunya sudah berubah, meskipun kompos dari sampah kota. Apabila kompos tercium bau yang tidak sedap, berarti terjadi fermentasi anaerob dan menghasilkan senyawa-senyawa berbau yang mungkin berbahaya bagi tanaman. Dan apabila kompos masih berbau seperti bahan mentahnya berarti kompos masih belum matang. Suhu Suhu kompos yang sudah matang mendekati dengan suhu awal pengomposan. Suhu kompos yang masih tinggi, atau di atas 50o C, berarti proses pengomposan masih berlangsung aktif dan kompos belum cukup matang. Pengemasan kompos Kompos yang sudah matang segera dikemas, kompos tersebut dikemas dengan karung dengan berat 25 kg tiap karung, setelah pengemasan selesai kompos siap untuk dijual atau langsung diaplikasikan pada tanaman DISUSUN OLEH WKPP DESA BANARAN, JONED HERI K SUMBER Materi : https://www.Pertanian.co.id/ membuat-Pupuk-Kakao-yang-mudah-dan-kaya-manfaat/