PENDAHULUAN Ternak sapi merupakan salah satu komoditas unggulan daerah untuk Provinsi Lampung. Menurut BPS Lampung (2018), populasi ternak sapi potong di Provinsi Lampung sebanyak 674.928 ekor. Jumlah ini terdistribusi di seluruh kapupaten/kota. Populasi tertinggi ada di kabupaten Lampung Tengah sebesar 264 580 ekor dan terendah ada di kota Bandar Lampung sebanyak 1 189 ekor. Populasi ternak yang terdistribusi merata ke semua kabupaten/kota tersebut diharapkan menjadikan Provinsi Lampung sebagai salah satu penopang untuk pemenuhan ketersediaan daging lokal dengan peningkatan populasi. Peningkatan populasi ini juga dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan dari impor dan sekaligus mendukung Indonesia menjadi Lumbung Pangan Dunia. Selain itu guna mewujudkan kemandirian pangan asal ternak dan meningkatkan kesejahteraan peternak sekaligus mengejar swasembada sapi tahun 2026. Untuk mensukseskannya, maka perlu mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal dan peran aktif dari semua pihak, termasuk masyarakat. Sumber daya lokal yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan populasi sapi di Provinsi Lampung adalah pemanfaatan limbah pertanian. Bahan-bahan pakan yang berasal dari limbah pertanian meliputi daun jagung, daun ubi jalar, daun kobis, daun singkong dan jerami padi. Selain itu yang banyak dijumpai di Provinsi Lampung yang berasal dari limbah tanaman jagung, yaitu janggel, tumpi dan jerami jagung (termasuk klobot). Menurut penelitian Ardiana et al (2015) pemanfaatan limbah jagung dengan kisaran penggunaan 30% dan 40% tidak mampu memenuhi kebutuhan populasi ternak sapi tetapi mampu memenuhi kebutuhan populasi ternak kambing atau Sistem manajemen reproduksi utama yang harus diperhatikan untuk peningkatan populasi adalah: (a) pemeriksaan status reproduksi dan gangguan reproduksi, (b) pelayanan inseminasi buatan (IB) dan kawin alam, dan (e) pemenuhan hijauan pakan ternak dan konsentrat. Upaya peningkatan populasi dalam mendukung Upsus Siwab telah dilakukan oleh Balitbangtan melalui balai-balai penelitian. Paket teknologi hasil penelitian yang dihasilkan oleh Balitnak diantaranya adalah paket teknologi pakan dan teknologi reproduksi. Dukungan paket teknologi pakan dari Balitnak terdiri dari a. Paket teknologi untuk meningkatkan dan mempertahankan SKT dan status reproduksi, b. Paket teknologi untuk mencegah kematian dan meningkatkan bobot badan pedet, serta c. Paket teknologi untuk meningkatkan kualitas semen pejantan. LIMBAH TANAMAN JAGUNG SEBAGAI PAKAN TERNAK Limbah pertanian merupakan bagian tanaman/ternak yang tidak diambil pada saat panen atau disebut juga sebagai sisa dari produksi pertanian. Salah satu limbah pertanian yang banyak dijumpai di provinsi Lampung adalah limbah tanaman jagung. Saat ini, limbah pertanian banyak dimanfaatkan antara lain sebagai pupuk dan pakan ternak. Teknologi pemanfaatan bahan pakan lokal adalah pemanfaatan limbah tanaman jagung. Limbah tanaman jagung yang bisa digunakan sebagai pakan ternak yaitu jerami jagung, kulit buah jagung/klobot jagung, janggel dan tumpi. Selain limbahnya, tanaman jagung juga dapat ditanam khusus sebagai sumber pakan yang disebut tebon. Tebon jagung adalah seluruh tanaman jagung termasuk batang, daun dan buah jagung muda yang umumnya dipanen pada umur tanaman 45 – 65 hari (Soeharsono dan Sudaryanto 2006). Ada pula yang menyebut tebon jagung tanpa memasukkan jagung muda ke dalamnya. Limbah jagung yang memiliki tonase yang besar adalah jerami. Jerami jagung/brangkasan adalah bagian batang dan daun jagung yang telah mengering ketika tongkol jagung dipetik/dipanen. Selain jerami, kulit buah jagung/klobot jagung merupakan limbah yang berpotensi sebagai sumber pakan karena hasil jagung yang diambil untuk proses produksi pangan dan pakan adalah bijinya sedangkan kulit luar buah jagung biasanya dibuang. Kulit jagung manis sangat potensial untuk dijadikan silase karena kadar gulanya cukup tinggi (Anggraeny et al. 2005; 2006). Seperti halnya jerami dan kulit luar buah jagung, tongkol jagung/janggel juga sering kali menjadi limbah yang sering menjadi masalah karena sifatnya yang sulit terdekomposisi. Tongkol/janggel jagung adalah tempat menempelnya biji jagung dan biasanya terbuang saat perontokan biji jagung. Jagung pipilan sebagai produk utamanya serta sisa buah disebut tongkol atau janggel (Rohaeni et al 2006). TEKNOLOGI PENGOLAHAN PAKAN TERNAK Permasalahan dalam pemanfaatan limbah pertanian khususnya tanaman jagung adalah jumlahnya yang banyak hanya pada saat panen dan kualitas nutrisinya yang rendah. Jumlah limbah yang banyak hanya pada saat ini menjadi masalah karena ternak membutuhkan pakan setiap hari tidak hanya pada saat panen. Untuk mengatasi permasalahan ini, perlu dilakukan pengolahan limbah yang melimpah pada saat panen agar dapat disimpan untuk dapat digunakan setiap waktu. Beberapa teknologi pengolahan bahan pakan ternak yang sudah sering diaplikasikan berupa hay, fermentasi, amoniasi dan silase. Hay Di Indonesia, hay dibuat dengan membiarkan sisa panen kering di bawah terik matahari. Sedangkan di luar negeri yang jumlah limbahnya setelah panen sangat melimpah serta waktu panen yang mendekati musim dingin, pembuatan hay menggunakan mesin pengering. Setelah kering, hay dikumpulkan dan dipadatkan menyerupai gelondongan kemudian ditutup dengan plastik agar tidak kehujanan untuk dapat digunakan sebagai persediaan pakan ternak selama musim dingin. Pemanenen jagung di Indonesia umumnya dilakukan dengan menebas bagian tanaman di atas tongkol jagung atau sekitar setengah tinggi tanaman, kemudian dibiarkan mengering baru kemudian dilakukan pemanenan tongkol jagung. Dengan demikian limbah jerami yang dihasilkan menjadi kering sebelum diangkut menjadi pakan. Kondisi yang panas dengan kelembaban yang tinggi di Indonesia menyebabkan memang memudahkan dalam pengeringan jerami tetapi kondisi tersebut juga sangat memudahkan tumbuhnya jamur. Hay yang disimpan pada tempat yang kurang baik justru akan memicu tumbuhnya jamur yang dapat mengurangi kualitas pakan. Penyimpanan hay di tempat kering merupakan hal yang harus dipraktekkan. Silase Silase merupakan pengolahan pakan untuk meningkatkan daya simpan dan kualitas pakan. Pada pembuatan silase, bahan utama harus memiliki kadar air sekitar 60% sehingga umumnya limbah tanaman harus dikeringkan sekitar 2-3 hari setelah panen. Semua bagian tanaman jagung dapat digunakan dalam pembuatan silase. Limbah dipotong menjadi potongan-potongan kecil lalu dimasukkan sambil dipadatkan sepadat mungkin ke dalam kantong-kantong plastik kedap udara atau dalam silo-silo yang berbentuk bunker (Nusio 2005). Proses pembuatan silase harus kedap udara. Pembuatan silase yang tidak kedap udara dapat menyebabkan permukaan silase terkontaminasi dan ditumbuhi oleh bakteri lain yang merugikan seperti bakteri Clostridium tyrobutyricum yang mampu mengubah asam laktat menjadi asam butirat (Driehuis dan Giffel 2005). Proses silase tanpa penambahan starter membutuhkan waktu kurang lebih 3 minggu. Produk silase yang baik ditandai dengan bau yang agak asam karena pH silase biasanya rendah (sekitar 4) dan berwarna coklat muda karena warna hijau daun dari khlorofil akan hancur sehingga limbah menjadi kecoklatan. Apabila ditambah molasses, silase yang dihasilkan agak berbau sedikit harum. Walaupun baunya agak asam, tetapi cukup palatable bagi ternak. Fermentasi Proses fermentasi menggunakan jamur pembusuk putih (white rot fungi). Jamur ini dapat mengeluarkan enzim-enzim pemecah selulosa dan lignin sehingga kecernaan limbah akan meningkat. Salah satu jamur yang sering dipergunakan adalah jamur Trichoderma. Jamur ini termasuk jamur penghasil selulose sehinga banyak dipergunakan untuk fermentasi limbah-limbah pertanian. Fermentasi biasanya akan meningkatkan nilai nutrisi atau nilai kecernaan bahan kering suatu bahan serta dapat pula menyebabkan bahan menjadi lebih palatabel bagi ternak. Amofer Tongkol jagung merupakan sisa hasil pertanian yang masih memiliki kualitas yang rendah. Selama ini janggel jagung hanya dibiarkan saja tanpa ada pemanfaatan. Permasalahan utama adalah tongkol jagung merupakan bagian dari tanaman jagung yang paling sulit untuk terdegradasi. Padahal apabila diolah dengan baik, janggel jagung bisa menjadi salah satu sumber pakan yang mempunyai nilai gizi yang tinggi. Tongkol jagung digunakan sebagai bahan konsentrat pada pakan ternak ruminansia. Kandungan serat kasar tinggi, protein dan kecernaan rendah. Oleh karena itu, dalam pemanfaatannya sebagai bahan pakan, tongkol jagung perlu ditingkatkan kualitasnya antara lain dengan teknologi pengolahan amoniasi fermentasi (amofer). Perlakuan kimiawi berupa amoniasi (menggunakan urea) dan perlakuan biologi yaitu fermentasi menggunakan starter mikrobia sellulolitik (Prastyawan et al 2012). Penyusun: Fauziah Yulia Adriyani (Penyuluh BPTP Lampung) Sumber: dari berbagai sumber