"Persoalan harga singkong ini bukan hal baru. Pertama, ada masalah potongan harga yang sangat tinggi 50% hingga 60% dari harga Rp 1.350/kg. Ini jelas membuat petani menderita, bahkan modal pun tidak kembali. Kedua, masalah impor yang semakin menekan harga di tingkat petani. Semua persoalan ini tadi sudah kami sampaikan ke Pak Menteri," ujar Mikdar yang juga sekaligus menjabat sebagai Ketua Pansus Tata Niaga Singkong.
Sumber : "Pemerintah Patok Harga Singkong Petani Minimal Rp 1.350/Kg" selengkapnya https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8108107/pemerintah-patok-harga-singkong-petani-minimal-rp-1-350-kg.
Dari masalah di atas, pemanfaatan singkong sebagai Tepung Mocaf dapat dijadikan alternatif untuk meningkatkan daya jual singkong. Sampai saat ini tepung mocaf belum banyak beredar di masyarakat karena produknya belum banyak dan harganya cukup tinggi. Mocaf yang merupakan singkatan dari Modified Cassava Flour atau Tepung Kasava Fermentasi adalah produk tepung dari ubikayu yang diproses dengan modifikasi sel melalui fermentasi dimana mikrobia BAL (Bakteri Asam Laktat) mendominasi selama proses fermentasi, sehingga mempunyai sifat dan karakteristik yang berbeda dan lebih unggul dibandingkan dengan tepung gaplek ataupun tepung ubikayu
Secara umum, pengolahan tepung mocaf (Modified Cassava Flour) melibatkan dua tahap utama, yaitu pengolahan ubi kayu menjadi kepingan (chips) kering melalui fermentasi dan pengolahan kepingan kering menjadi tepung. Perbedaan utama dengan tepung singkong biasa adalah adanya proses fermentasi menggunakan bakteri asam laktat yang mengubah karakteristik tepung menjadi mirip tepung terigu, dengan warna lebih putih, tekstur halus, dan tidak berbau singkong.
Proses pengolahan mocaf
1. Persiapan bahan baku
- Penyortiran: Pilih singkong segar berkualitas baik yang tidak busuk.
- Pengupasan: Kupas kulit singkong dan bersihkan dari kotoran yang menempel.
- Pencucian: Cuci singkong hingga benar-benar bersih menggunakan air mengalir. Pastikan lendir dan kotoran sudah hilang.
2. Proses modifikasi
- Pengirisan: Iris singkong menjadi kepingan tipis (chips) dengan ketebalan yang seragam. Proses ini bisa menggunakan alat pengiris (slicer) atau disawut. Tujuannya untuk memperluas permukaan sehingga proses fermentasi lebih efektif.
- Fermentasi: Rendam kepingan singkong dalam air yang telah diberi larutan starter atau enzim.
- Starter: Bakteri asam laktat dari starter akan memodifikasi sel singkong, menghancurkan dinding sel, dan memecah pati menjadi asam organik. Proses ini juga dapat mereduksi kandungan sianida pada singkong beracun.
- Durasi: Proses fermentasi umumnya berlangsung antara 12 hingga 72 jam, tergantung pada metode dan jenis starter yang digunakan. Selama proses ini, air perendaman akan berwarna putih keruh.
- Pembilasan: Setelah fermentasi selesai, bilas kepingan singkong hingga bersih untuk menghilangkan sisa asam dari proses fermentasi.
- Pengepresan/Penirisan: Tiriskan air sisa pencucian, bisa menggunakan mesin pemeras (spinner) untuk mempercepat dan meratakan proses pengeringan.
3. Proses pengeringan
- Pengeringan: Keringkan kepingan singkong yang sudah difermentasi hingga kadar airnya rendah.
- Penjemuran: Jika cuaca bagus, pengeringan bisa dilakukan dengan dijemur di bawah sinar matahari selama 2–3 hari.
- Mesin: Gunakan alat pengering (oven) dengan suhu sekitar 50°C selama 24–48 jam untuk hasil yang lebih konsisten dan higienis.
4. Proses penggilingan dan pengayakan
- Penggilingan: Giling kepingan singkong kering menjadi butiran tepung menggunakan mesin penggiling (disk mill).
- Pengayakan: Ayak tepung menggunakan saringan (sifter) dengan ukuran tertentu (misalnya, mesh 80) untuk mendapatkan tekstur yang halus dan seragam.
5. Pengemasan dan penyimpanan
- Pengemasan: Kemas tepung mocaf yang sudah diayak ke dalam wadah kedap udara.
- Penyimpanan: Simpan di tempat yang sejuk dan kering.