Sebagai komoditi penghasil minyak atsiri Nilam (Pogostemon cablin Benth) menjadi tanaman yang sangat penting, karena sebagian besar minyak nilam dunia dihasilkan dari Indonesia. Permasalahan yang dihadapi pertanaman nilam di beberapa daerah adalah masih rendahnya kualitas minyak atsiri Untuk memperoleh minyak atsiri yang berkualitas, dikenal dengan dua tahap penyulingan yaitu tahap pra penyulingan dan tahap penyulingan. Masing-masing tahapan penyulingan agar memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Tahap pra penyulingan Tahap ini terdiri dari dua langkah kegiatan yaitu pelayuan dan pengeringan. Pelayuan, yang perlu diperhatikan dalam kegiatan pelayuan adalah, pelayuan jangan dilakukan secara cepat karena menyebabkan daun menjadi rapuh dan sulit untuk disuling. Pelayuan yang baik dapat dilakukan dengan menjemur daun nilam diatas tikar atau lantai semen selama tiga hari dari jam 10.00 - 14.00 (empat jam) sampai kandungan dalam daun turun sekitar 15%. Tinggi tumpukan daun yang djemur tidak melebihi 50 cm dan dilakukan pembalikan 2-3 kali sehari. Sedang pada tahap pengeringan yang perlu diperhatikan adalah pengeringan jangan terlambat karena menyebabkan daun lembab dan mudah terserang jamur yang mengakibatkan rendemen dan mutu minyak yang dihasilkan rendah. Tahap penyulingan Penyulingan minyak nilam adalah proses pengambilan minyak dari terna (daun dan batang) nilam kering dengan bantuan air. Penyulingan nilam umumnya dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara dikukus dan penguapan. Penyulingan dengan cara dikukus adalah penyulingan dimana terna kering nilam berada pada jarak tertentu diatas permukaan air. Sedang penyulingan dengan cara penguapan adalah penyulingan dimana terna berada dalam ketel suling dan uap air dialirkan dari ketel ke bagian bawah suling. Kapasitas tangki suling, umumnya dinyatakan dengan volume (liter). Kerapatan (bulk density) terna nilam kering berkisar antara 90-120 g/liter, tergantung dari persentase daun dan kadar airnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas minyak atsiri Bahan, bahan konstruksi alat suling akan berpengaruh terhadap mutu dan minyak atsiri. Jika dibuat dari bahan plat besi tanpa digalvenis, akan menghasilkan minyak berwarna gelap dan keruh karena terkena karat. Alat suling yang baik dibuat dari besi tahan karat (stainless steel), atau plat besi yang digalvanis (carbon steel) minimal pada bagian pendingin dan pemisah minyak, agar diperoleh minyak berwarna lebih muda dan jernih. Jumlah air, terna kering nilam yang sudah dimasukkan ke dalam ketel suling sebaiknya dibasahi air supaya terna dapat dipadatkan. Yang harus diperhatikan adalah, terna kering nilam akan menyerap air sebanyak bobotnya, jadi pada penyulingan yang menggunakan sistem kohobasi harus memperhitungkan jumlah air agar tidak terjadi kekurangan air selama penyulingan. Lama penyulingan, penyulingan dengan cara dikukus memerlukan waktu selama 5-10 jam, sedangkan dengan cara uap langsung lamanya berkisar antara 4-6 jam. Kecepatan penyulingan, penyulingan secara dikukus memerlukan kecepatan 0,6 uap/kg terna. Pada penyulingan dengan uap langsung tekanan uap mula-mula 1,0 kemudian dinaikkan secara bertahap sampai 2,5 - 3 kg/cm2 pada akhir penyulingan. Alat penyulingan, alat penyulingan yang digunakan dianjurkan menggunakan alat dengan sistem uap dengan bahan alat terbuat dari plat besi anti karat (stainleess) terutama pada bagian pipa pendinginan dan pemisah minyak. Karena bila alat penyulingan berkarat, warna minyak yang dihasilkan berwarna gelap dan keruh. Mutu daun, mutu daun ditentukan oleh kondisi tanah dan iklim, umur tanaman, periode pemotongan, penanganan pasca panen dan penyimpanan daun kering sebelum disuling. Selain faktor tersebut yang tak kalah pentingnya adalah jenis/varietas nilam. Kita mengenal tiga varietas unggul nilam yang sudah dilepas oleh pemerintah cq. Kementerian Pertanian yaitu: 1. Varietas Sdikalang (SK Mentan No.19/Kpts/SR.120/8/2005) dengan ciri-ciri sebagai berikut: a) produktivitas terna (daun dan ranting) 31,38 - 80,37 ton/ha); b) Produksi minyak 176,4 - 464,4 kg/ha; c) kemampuan daya adaptasi yang luas; d) pangkal batangnya berwarna ungu tua; dan e) relatif toleran terhadap penyakit layu bakteri dan nematoda. 2. Varietas Lhokseumawe (SK Mentan No.320/Kpts/SR.120/8/2005) dengan ciri-cir sebagai berikut: a) produktivitas terna (daun dan ranting) 42,5 - 64,6 ton/ha); b) Produksi minyak 273,4 - 415,6 kg/ha; c) kemampuan daya adaptasi yang luas; d) pangkal batangnya berwarna ungu tua 3. Varietas Tapak Tuan (SK Mentan No.321/Kpts/SR.120/8/2005) dengan ciri-cir sebagai berikut: a) produktivitas terna (daun dan ranting) 41,5 - 64,6 ton/ha); b) Produksi minyak 234,8 - 583,2 kg/ha; c) kemampuan daya adaptasi yang luas; d) pangkal batangnya berwarna hijau dengan sedikit ungu. Sri Puji Rahayu (Penyuluh Pertanian) Sumber : Pedoman Budidaya Tanaman Nilam, Direktorat Budidaya Tanaman Semusim, Ditjen Perkebunan, Departemen Pertanian, 2006; Teknologi Budidaya Nilam, Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Badan Litbang Pertanian, 2008. Pedoman Pembangunan Penangkar Benih Nilam, Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi, Ditjen Perkebunan, 2010.