PENGOLAHAN TANAMAN TERPADU (PTT) KEDELAIPENDAHULUANPengelolaan tanaman terpadu (PTT) kedelai adalah suatu pendekatan inovatif dan dinamis dalam upaya meningkatkan produksi dan pendapatan petani melalui perakitan teknologi secara partisipatif bersama petani.Penerapan PTT kedelai diawali dengan pemahaman masalah dan peluang pengembangan sumber daya dan kondisi lingkungan setempat dengan tujuan 1) mengumpulkan informasi dan menganalisis masalah, kendala dan peluang usaha tani kedelai; 2) mengembangkan peluang dalam upaya peningkatan produksi kedelai; 3) mengidentifikasi teknologi yang sesuai kebutuhan petani di wilayah setempat.TAHAPAN PELAKSANAANTahapan pelaksanaan mencakup 2 kegiatan utama, yaitu 1) penentuan prioritas masalah secara bersama oleh kelompok tani; dan 2) analisis kebutuhan dan peluang introduksi teknologi atas dasar permasalahan tersebut.Manfaat dan Dampak Penerapan PTT1. PTT membantu memecahkan masalah peningkatan produktivitas kedelai.2. Teknologi yang dikembangkan bersifat spesifik lokasi bergantung pada kondisi sumber daya pertanian di wilayah petani dan masalah yang akan diatasi (demand driven technology).3. Komponen teknologi yang dirakit ditentukan oleh petani bersama penyuluh berdasarkan Kajian Kebutuhan dan Peluang (KKP).4. Penerapan PTT diharapkan dapat meningkatkan produksi kedelai nasional, pendapatan petani, dan kelestarian usahatani padi KOMPONEN TEKNOLOGI INTRODUKSIa. Penyiapan lahanTanah bekas pertanaman padi tidak perlu diolah (TOT). Jika menggunakan lahan tegal, dilakukan pengolahan tanah intensif yaitu dua kali bajak dan sekali digaru.Saluran drainase setiap 4 – 5 m dengan kedalaman 25–30 cm dan lebar 30 cm, yang berfungsi untuk mengurangi kelebihan air sekaligus sebagai saluran irigasi pada saat tidak ada hujan.b. VUB yang dianjurkanBerdasarkan potensi hasil dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan lingkungan dianjurkan menanam VUB: Kaba, Argomolyo, Anjasmoro, Burangrang, Grobogan, Kaba, dan Sinabung. Kebutuhan benih 40 kg/ha dengan daya tumbuh 90%.c. PenanamanBenih ditanam dengan cara tugal pada kedalaman 2 –3 cm. Jarak tanam 10-15 cm x 40 cm, 2-3 biji/lubang tanam. Agar tidak terjadi akumulasi serangan hama penyakit serta kekurangan air, kedelai dianjurkan ditanam tidak lebih dari 3 hari setelah tanaman padi di panen.d. PemupukanDosis sekitar 50 kg Urea, 75 kg SP36 dan 100 –150 kg KCl/ha, diberikan seluruhnya pada saat tanam atau diberikan 2 kali (saat tanam dan 2 MST)Pada sawah yang subur dan bekas padi yang di pupuk dengan dosis tinggi, tanaman kedelai tidak perlu tambahan NPK.Agar dosis pemupukan sesuai dengan spesifik lokasi hendaknya menggunakan PUTS/ PUTK.e. Penggunaan mulsa jeramiPenggunaan mulsa jerami penting dilakukan untuk menekan frekwensi penyiangan dan menekan serangan lalat bibit.Pemberian sebanyak 5 t/ha, dihamparkan merata dengan ketebalan 10 cm.Jika gulma tidak menjadi masalah dan lahan bukan endemic lalat bibit pembakaran jerami dibenarkan, cara ini bisa menyerempakkan pertumbuhan awal kedelai.f. PengairanFase pertumbuhan tanaman yang sangat peka terhadap kekurangan air adalah awal pertumbuhan vegetatif yaitu pada 15 – 21 hari setelah tanam (hst), saat berbunga ( 25-35 hst), dan saat pengisian polong (55 –70 hst). Dengan demikian tanaman tersebut perlu diari apabila curah hujan tidak mencukupi.g. Pengendalian hama Beberapa hama utama pada tanaman kedelai yang perlu diwaspadai dan dikendalikan adalah: Lalat bibit ( Ophiomyia phaseoli ), Pengisap polong (Riptortus linearis), Ulat grayak (Spodoptera litura), Penggerek polong ( Etielia zincekenella). Teknik pengendaliannya yaitu :Pengendalian hama dilakukan berdasarkan pemantauan. Jika populasi hama tinggi atau kerusakan daun 12,5 % dan kerusakan polong 2,5 %,tanaman perlu disemprot dengan insektisida efektif.Pengendalian secara kultur teknis antara lain penggunaan mulsa jerami, pergiliran tanaman dan tanam serentak dalam satu hamparan, serta penggunaan tanaman perangkap jagung dan kacang hijau yang ditanam pada pematang sawah. h. Pengendalian penyakitPenyakit utama pada kedelai adalah karat daun(Pakopsora pachyrhizl), hawar daun (Pseudomonas syringae)dikendalikan denganMancozepdan virus yang belum dapat dikendalikan dengan pestisida.Pengendalian virus dilakukan dengan mengendalikan vektornya yaitu serangga hama kutu dengan insektisida Decis. Waktu pengendalian adalah pada saat tanaman berumur 14, 28 dan 42 hari atau menyemprot berdasarkan populasi hama/vektornya. i. Panen dan Pasca PanenPanen dilakukan pada saat biji mencapai fase masak atau yang ditandai dengan 95 % polong telah berwarna coklat atau kehitaman dan sebagian besar daun pada tanaman sudah rontok.Panen dilakukan dengan cara memotong pangkal batang.Brangkasan kedelai hasil panen langsung dihamparkan dibawah sinar matahari dengan ketebalan 25 cm selama 2-3 hari (tegantung cuaca) menggunakan alas. Pengeringan dilakukan hingga kadar air mencapai 14 %.Hindari menumpuk brangkasan basah lebih dari2 hari sebab akan menjadikan benih berjamur dan mutunya rendah.Brangkasan kedelai yang telah kering (kadar air sekitar 14 %)secepatnya dirontokkan baik secara manual maupun mekanis (threser).Pembersihanmenggunakan tampi atau secara mekanis (blower). Untuk keperluan benih sortasi harus dilakukan untukmembuang biji tipesimpang.Strategi Penerapan PTT1. Anjuran teknologi didasarkan pada bobot sumbangan teknologi terhadap peningkatan produktivitas tanaman, baik secara parsial maupun terintegrasi dengan komponen teknologi lainnya.2. Teknologi dilaksanakan petani secara bertahap. PENUTUPDalam proses produksi tanaman melalui pendekatan PTT, pemilihan teknolgi/komponen teknologinya harus di sesuaikan dengan kondisi setempat, meliputi biofisik lahan, sosial-ekonomi masyarakat/petani, kelembagaan setempat, dan infrastruktur wilayah. Penerapan teknologinya harus diusahakan oleh petani, dan komponennya harus komplementer dan saling bersinergi serta bersifat dinamis, dapat berubah disuaiakan dengan perubahan lingkungan strategis. BPP Kec. Bulukerto 2018