Masa depan pertanian Indonesia adalah pertanian cerdas (smart farming) berbasis teknologi. Melalui pertanian cerdas, petani diharpakan dapat memperoleh informasi teknologi yang diperlukan. Dengan demikian efektivitas dan produktivitas usahatani yang dilakukan lebih terukur karena semua kegiatan petani didasarkan pada analisis data yang akurat. Masuknya era pertanian digital berbasis teknologi akan membuat budidaya pertanian semakin efektif. Digitalisasi dari layanan informasi berbasis IT sangat bermanfaat dalam memberikan peluang bagi pengguna untuk mengakses berbagai informasi yang berhubungan dengan usahatani pertanian. Sumber daya manusia (SDM) pertanian yang tangguh dan profesional di bidang penyuluhan harus mampu dan terampil dalam mengkomunikasikan program-program pemerintah dan mengelola informasi penyuluhan pertanian yang terpadu dan partisipatif. SDM pertanian juga harus mampu dan kompeten dalam mengelola dan memanfaatkan data dan informasi pertanian yang tersedia untuk mendukung peran dan tugasnya dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. Dalam mengkomunikasikan program, tenaga penyuluhan pertanian sangat membutuhkan sumber informasi yang mampu memberikan data yang aktual dan kekinian yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat pengguna (user). Untuk memberikan kualitas layanan prima dalam menyediaan berbagai data dan informasi pertanian, diperlukan dukungan teknologi informasi dan komunikasi. Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini berdampak positif pada peningkatan kualitas kinerja berbagai bidang, termasuk peningkatan kualitas di bidang penyuluhan pertanian. Hal ini dipicu antara lain perkembangan teknologi internet. Tuntutan perkembangan teknologi, terutama teknologi informasi dan komunikasi/TIK (Information and Communication Technology/ICT) harus dimanfaatkan sebagai penyampai informasi dan/atau inovasi yang dibutuhkan oleh petani. Oleh karena itu, perkembangan TIK harus dikuasai oleh para penyuluh. Kemampuan awal (entry behavior), pengalaman dan kemampuan setiap individu sangat heterogen. Penyuluh Pertanian Lapangan menjadi kunci keberhasilan dalam mengantarkan petani dan pelaku usaha di bidang pertanian untuk bisa sukses dan memiliki daya saing dalam era industri 4.0. Sejak tahun 2011, kita telah memasuki Industri 4.0, yang ditandai meningkatnya konektivitas, interaksi, dan batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya yang semakin konvergen (menyatu) melalui teknologi informasi dan komunikasi. Menurut pakar komunikasi pembangunan Unsoed, Dr. Adhi Iman Sulaiman, penyuluhan sebagai bagian dari program pemberdayaan masyarakat dapat membentuk komunitas digital atau jurnalis warga (citizen journalism), khususnya di kalangan generasi petani dan umumnya generasi muda di desa. Mengimplementasikan program pemberdayaan untuk memberikan penyuluhan dan pelatihan digitalisasi pembangunan pertanian kepada generasi muda sehingga mengetahui fungsi dan manfaat, serta terampil menggunakan media digital untuk mencari, memproduksi, promosi, pemasaran dan mempublikasi berbagai informasi keunggulan, ciri khas serta keistimewaan potensi desa dan produk pertanian. Media digital yang dimaksud berupa membuat dan mengelola website, blog, online shop instagram dan facebook, serta market place untuk mempublikasikan, mempromosikan dan memasarkan potensi dan produk pertanian serta kewirausahaan dan ciri khas wisata desa. Gambaran pemanfaatan teknologi informasi di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 1. Berdasarkan Gambar tersebut, terlihat bahwa Pulau Jawa menempati urutan tertinggi pemanfaatan teknologi informasi, kemudian disusul oleh Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali, NTT dan NTB dan terendah di Maluku dan Papua, melalui pengguna seluler dengan usia 35 – 44 tahun. Penguasaan IT menjadi Kunci Keberhasilan Di era digital 4.0, penguasaan kemampuan teknologi informasi jadi kunci SDM pertanian kita, terutama bagi penyuluh pertanian. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Guru Besar Ilmu Penyuluhan IPB, Prof. Sumardjo, bahwa agar pertanian menjadi unggul di era industri 4.0, maka peran SDM pertanian, yaitu petani dan penyuluh memegang peranan penting. Oleh karena itu penguasaan teknologi menjadi suatu keharusan. Bagaimana penyuluh menghadapi era tersebut?. Pertanyaan mendasar adalah apakah para PPL siap mengejar langkah mengimbangi kecepatan informasi dan teknologi di era industri 4.0? Mau tidak mau, suka atau tidak suka, para penyuluh pertanian harus mampu dan segera mengikuti proses transformasi pertanian memasuki era industri 4.0 yaitu era modernisasi pertanian. Proses transformasi pertanian tersebut setidaknya harus memperhatikan 4 komponen yang sangat penting dalam proses adopsi teknologi modern. Empat komponen tersebut meliputi teknoware, humanware, organoware dan infoware. Teknoware atau teknologinya sendiri mulai dari software dan hardware. Kementerian pertanian sudah menyiapkan banyak perangkat yang mendukung kinerja penyuluh menghadapi era industri 4.0 seperti SIMLUHTAN (Sistem Manajemen Pernyuluh Pertanian), E-RDKK, hingga cyber extention. Humanware atau manusianya baik manusia sebagai pelaku teknologi maupun manusia sebagai penerima teknologi. Penyuluh Pertanian harus mampu mengikuti perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), memahami dan menguasai TIK, serta modernisasi pertanian. Penyuluh pertanian harus selalu meng- teknologi informasi serta mengusai dan mampu mengoperasionalkan seluruh perangkat system yang dipersiapkan oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Organoware atau organisasinya atau kelembagaan pertaniannya. Kementerian Pertanian telah merancang pengembangan Balai Penyuluhan Pertanian berbasis IT. Dalam hal ini kelembagaan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) mempunyai peran strategis untuk mengkoordinasikan, mensinergikan, menyelaraskan kegiatan pembangunan pertanian pada Wilayah Kerja Penyuluhan Pertanian di Kecamatan dengan pihak terkait dengan melengkapi prasarana dan sarana penyuluhan, meningkatkan pelayanan kepada petani, dan meningkatkan kemampuan dan keterampilan penyuluh pertanian baik aspek manajerial maupun sosio cultural serta menguasai keterampilan dan menguasai Teknologi Informasi dan Komunikasi.Penguatan kapasitas BPP dilakukan melalui a) meningkatkan kapasitas pemahaman dan wawasan penyuluh pendamping serta petani dalam menuju korporasi, b) memperkuat prasarana dan sarana pendukung agar dapat mempercepat pelayanan berbasis teknologi informasi, c) memanfaatkan peluang pasar sehingga petani mendapatkan harga yang menguntungkan Infoware atau informasinya yaitu bagaimana mengemas informasi yang bisa digunakan dan mudah difahami. Dalam hal BPP juga harus mampu melayani kebutuhan informasi petani secara cepat dan tepat waktu sesuai kebutuhan baik dengan on line service/digital service dan berperan untuk memberikan : 1) edukasi yang cukup bagi kembagaan petani agar dapat memamujukan sector pertanian di era revolusi industri 4.0. 2) Bimbingan kelembagaan ekonomi petani satu korporasi untuk merancang manajemen usahatani berbasis TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Selama proses tranformasi tersebut, pemerintah harus berani menyiapkan regulasi yang mendukung modernisasi pertanian di era industri 4.0, karena kemajuan teknologi tidak bisa dibendung termasuk dukungan kelembagaannya. Inovasi teknologi tersebut dapat diimplementasikan di lapangan sehingga diperlukan SDM yang andal, profesional, dan berdaya saing terhadap teknologi. Tenaga penyuluh pertanian harus meningkatan kemampuan diri (upgrade) dalam bidang informasi teknologi dan penerapan teknologinya. Kemampuan menyampaikan informasi dengan memanfaatkan komunikasi digital menjadi penting, terutama terkait dengan mengemas pesan materi penyuluhan. Oleh karena itu, penyuluh harus menguasai akses komunikasi digital dan mengembangkannya kepada petani secara verbal serta visual. Beberapa contoh aplikasi teknologi yang memudahkan bagi user untuk mendapatkan informasi terkait dengan pertanian, diantaranya adalah Cyber Extention (inovasi media penyuluhan) yang dapat diakses melalui situs cybex.pertanian.go.id., MyAgri (system informasi budidaya tanaman sayuran berbasis android) dan Pakar Kopi (informasi mengenai budidaya kopi) yang diunduh di play store, iGrow (aplikasi untuk menjadi investor pertanian digital), TaniHub (aplikasi untuk mengakses konsumen), dan beberapa star up lainnya. Penerapan metode pertanian cerdas 4.0 (smart farming) bisa jadi salah satu cara mengatasi permasalahan di sektor pertanian Indonesia. Penerapan smart farming memang tidak mudah ditengah beragamnya tingkat pendidikan petani di Indonesia yang didominasi tenaga kerja tua, namun regenerasi pertanian harus tetap dilakukan. Smart farming yang identik dengan pemanfaatan teknologi diharapkan bisa menarik kaum milenial untuk eksis berusaha di sector pertanian sehingga pertanian dapat dipandang sebagai usaha/bisnis yang sangat menjanjikan dan tidak kalah dengan dengan sektor lainnya. Masa depan pertanian Indonesia adalah pertanian yang cerdas berbasis teknologi. dan diiharapkan petani mendapatkan pemahaman berbagai informasi pertanian kekinian. Dengan pertanian cerdas, efektivitas dan produktivitas usaha tani lebih terukur karena semua kegiatan petani didasarkan analisis data yang akurat. Masuknya era pertanian pintar berbasis integrasi teknologi akan membuat budidaya pertanian semakin efektif sehingga lebih akurat dalam menentukan besarnya kebutuhan saprodi. Bahkan, lahan tidur yang kurang produktif kini sudah dimanfaatkan untuk berbagai jenis tanaman pertanian. Suksesnya petani Indonesia memasuki pertanian pada Era Industri 4.0, bisa terwujud apabila didukung oleh peran penyuluh pertanian yang terbuka dengan perkembangan teknologi. Penyuluh pertanian pada masa revolusi industri 4.0 di antaranya dituntut dapat mengusai teknologi sehingga diharapkan transfer teknologi dan fasilitasi kepada petani lebih mudah dan lebih efisien. Penyuluh Pertanian yang handal dan profesional pada era itu harus dapat melaksanakan fungsi penyuluh pertanian terutama untuk: (1) Transfer teknologi (technology transfer), yaitu berperan utama dalam mentranformasikan inovasi-inbovasi baru dalam bidang pertanian baik itu di bidang teknis, sosial maupun ekonomi kepada petani ataupun sesama profesi dalam mewujudkan pertanian yang tangguh dan unggul. Dalam hal ini penyuluh harus bisa menjadi sumber informasi bagi petani tentang pembangunan pertanian di Indonesia baik itu makro maupun mikro, (2) Fasilitasi (facilitation) yaitu dapat memfasilitasi informasi yang dibutuhkan oleh petani sehingga pengetahuan keterampilan dan kemampuan petani meningkat sesuai keperluan mereka , (3) Penasehat (advisor work) dapat mengarahkan dinamika perorangan atau kelompok sehingga tercapai perubahan perilaku, sikap dan keterampilan (PSK) petani menuju kemampuan petani dan kelompok tani yang lebih baik yaitu better farming, better business, better income, better living and better environmental. Penyuluh Pertanian berperan sebagai jembatan untuk mentransfer teknologi dan inovasi baru di bidang pertanian kepada petani baik itu dibidang teknis, sosial dan ekonomi. Penyebaran informasi dapat dilakukan dengan berbagai media baik itu media cetak , media elektronik maupun media online. Dalam mendukung fungsi tersebut penyuluh pertanian lapangan dituntut untuk dapat menguasai teknologi dan informasi. Informasi yang diperoleh penyuluh pertanian harus dengan cepat, tepat, benar dan dapat diterapkan atau dilaksanakan oleh petani. Dengan kata lain, keberhasilan penyuluh pertanian yakni apabila dapat menyebarkan informasi dengan cepat dengan ketepatan informasi yang sampai kepada petani dan teknologi tersebut dapat diterapkan oleh petani secara tepat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani melalui penerapan teknologi yang didapat dari proses penyuluhan tersebut. Selama ini, proses penyebaran informasi yang dilakukan penyuluh lebih banyak bersifat konvensional, sebagian besar media penyuluhan masih bersifat konvensional. Dengan media online, penyuluh pertanian dapat melakukan penyuluhan dengan lebih mudah, murah dan cepat. Penyuluhan saat ini sudah saatnya dibarengi dengan penyuluhan berbasis internet. Penyuluh pertanian pada era 4.0 ini sudah seharusnya tidak gagap pada teknologi berbasis internet dan mampu mengimbangi perkembangan zaman yang ada. Seorang penyuluh pertanian dituntut harus bisa menyampaikan informasi dalam bentuk tulisan atau berita ataupun tehnik komunikasi lainnya melalui media teknologi informasi internet. Pemanfaatan teknologi merupakan suatu keniscayaan bagi upaya peingkatan produksi pertanian, terutama dalam konteks mutu dan daya saing. Ketersediaan inovasi teknologi juga merupakan salah satu kunci peningkatan kesejahteraan petani dan menarik minat para generasi muda dalam dunia pertanian. Oleh karena itu, penggunaan teknologi modern di sector pertanian menjadi pilihan mutlak. Ada lima teknologi utama yang menopang implementasi industri 4.0, yaitu: Internet of Things (IoT), Computer Vision, Artificial Intelligence (AI), Human-Machine Interface (HMI), Teknologi Robotic dan Sensor, dan 3D Printing (Andri, 2020). Sektor pertanian juga ikut terpengaruh dengan pemanfaatan teknologi utama AI dalam mendukung implementasi industri 4.0 dengan hadirnya pertanian cerdas (smart farming) dan pertanian presisi (precission farming). Beberapa contoh dari pertanian cerdas dan presisi diantaranya adalah Smart Green House dan Smart Irrigation System dengan memanfaatkan teknologi IoT berbasis AI, Autonomous Technology pada Automatic Tractor, Agriculture War Room (AWR) dan Automatic Weather Station (AWS) yang berbasis AI. Inovasi teknologi harus dapat diimplementasikan di lapangan, karena itu diperlukan SDM yang handal, profesional dan berdaya saing terhadap teknologi. Dengan pesatnya teknologi telekomunikasi dan internet yang bisa menjangkau sampai wilayah pedesaan, maka pemanfaatannya akan lebih optimal bila bisa mengkolaborasikan kebutuhan petani dengan ketersediaan sarana yang bisa menyebarkan secara luas informasi yang diperlukan oleh petani dengan cepat dan akurat. Penulis : Marthen P. Sirappa (Penyuluh Pertanian BSIP Sulawesi Barat) Bahan Bacaan : Disadur dari beberapa literatur. Andri, K. Boga. 2020. Babak Baru Implementasi AI Pertanian. Ekonomi Media Indonesia. Januari 2020. Prayoga, K. Aplikasi Digital Pertanian: Geliat Pemberdayaan Petani Di Era Virtual. Santo, S.Q. 2021. Digitalisasi Pertanian Di Indonesia, Strategi Di Masa Pandemi dan New Normal. Jurnal Teknologi dan Industri Pertanian Indonesia, Maret, 2021.