Jakarta (30/4/2025) Penyuluhan pertanian merupakan ujung tombak dalam peningkatan kapasitas petani serta keberhasilan program pembangunan pertanian nasional. Namun demikian, peran strategis penyuluh pertanian acapkali luput dari perhatian publik. Hal ini disebabkan kurangnya publikasi dan diseminasi informasi yang mencerminkan capaian, tantangan, dan inovasi dari kegiatan penyuluhan itu sendiri. Menyadari hal ini, Pusat Penyuluhan Pertanian melalui Kelompok Substansi Penyelenggaraan dan Kerjasama Penyuluhan menginisiasi pertemuan strategis yang dilaksanakan di ruang AOR Pusat Penyuluhan Pertanian. Pertemuan ini dihadiri oleh para penyuluh pertanian pusat, ketua kelompok substansi, ketua tim kerja, serta para operator informasi. Salah satu isu utama yang mengemuka dalam pertemuan ini adalah fakta bahwa sebagian besar publikasi terkait penyuluhan saat ini lebih banyak diproduksi dan dipublikasikan oleh mitra eksternal melalui berbagai kanal media sosial maupun website. Ini menunjukkan perlunya penguatan kapasitas internal dalam produksi dan distribusi informasi penyuluhan yang edukatif, praktis, dan tepat sasaran. Materi publikasi yang dimaksud mencakup agenda kegiatan, praktik-praktik lapangan, success story, sejarah penyuluhan, program strategis pemerintah, hingga isu global seperti perubahan iklim. Langkah konkret yang ditawarkan adalah penyusunan rencana strategis diseminasi informasi penyuluhan yang terstruktur, terukur, dan didukung oleh tim publikasi khusus. Tim ini nantinya bertugas mengelola jenis informasi, pengemasan konten, hingga strategi penderasan atau amplifikasi pesan. Pendekatan ini menekankan pada pemilihan media yang tepat—seperti penggunaan TikTok yang mulai dirancang sebagai sarana publikasi yang lebih dekat dengan generasi muda petani maupun calon penyuluh. Selain itu, platform berbasis web Xyber Extension yang telah ada pun perlu digagas kembali sebagai kanal resmi untuk publikasi kebijakan dan informasi pertanian tingkat nasional hingga daerah. Dengan keterbatasan anggaran dan cakupan khalayak, media cetak memang tidak lagi menjadi andalan utama. Sebagai gantinya, digitalisasi informasi menjadi solusi yang menjanjikan. Publikasi dalam bentuk digital tidak hanya hemat biaya, tetapi juga lebih fleksibel dan menjangkau audiens yang lebih luas. Namun, tetap perlu diingat bahwa keberhasilan diseminasi informasi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan media, tetapi juga oleh ketepatan sasaran. Informasi harus dikemas dengan bahasa yang sederhana dan menarik, mampu memudahkan hal-hal yang rumit, serta relevan dengan kebutuhan sasaran yang dituju, baik dari segi usia, jenis kelamin, pekerjaan, maupun lokasi geografis. Lebih jauh, kerja sama dengan pemerintah daerah sangat diperlukan dalam hal pengumpulan bahan publikasi serta proses penderasannya. Penyuluh di daerah adalah aktor kunci dalam menyediakan informasi otentik dari lapangan, yang jika diolah dengan baik dapat menjadi narasi pembangunan yang menginspirasi. Ide-ide publikasi pun harus berangkat dari belanja masalah yang benar-benar dihadapi masyarakat tani, sehingga pesan yang disampaikan tidak hanya informatif tetapi juga solutif. Melalui penguatan diseminasi dan publikasi ini, diharapkan wajah penyuluhan pertanian dapat tampil lebih segar, kredibel, dan menggugah. Penyuluh tidak lagi dipersepsikan sebagai profesi yang pasif atau konvensional, tetapi sebagai agen perubahan yang adaptif terhadap dinamika zaman dan teknologi informasi. Dengan langkah ini, penyuluhan pertanian Indonesia akan semakin kuat dalam mendukung transformasi pertanian menuju kemandirian dan kesejahteraan petani. (Edp.PP Pusat)